60 Tahun UNICEF | Sosial | DW | 16.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

60 Tahun UNICEF

UNICEF menolong anak-anak di banyak negara miskin dan menjadi organisasi pembela hak anak paling terkenal di dunia.

default

Usai Perang Dunia ke-2, Perserikatan Bangsa-bangsa mengadakan sidang umum pertamanya pada 11 Desember 1946. Saat itu, PBB sepakat membentuk organisasi untuk menolong anak-anak korban perang di Eropa. Kini, United Nations International Children’s Emergency Fund atau UNICEF telah memperluas program bantuannya dengan menitik-beratkan pada bantuan bagi anak-anak di negara berkembang.

Lebih dari 8000 pekerja UNICEF tersebar di lebih dari 160 negara berusaha agar anak-anak dapat bersekolah, supaya anak-anak mendapatkan bantuan kesehatan, pangan atau air bersih.

Jaringan Logistik yang Fleksibel

Di mana pun berada, di medan perang, wilayah konflik bersenjata atau di daerah yang terkena bencana alam, organisasi bantuan anak UNICEF selalu tiba paling awal di sana. Organisasi bantuan ini tidak hanya membantu anak-anak di dalam situasi krisis, namun juga membantu menyediakan air bersih, obat-obatan atau tenda darurat.

UNICEF dapat mengirim bahan bantuan dalam waktu 48 jam atau juga menyelenggarakan program bantuan jangka panjang, seperti penyediaan cairan vaksinasi atau kelambu anti nyamuk. Tentu saja diperlukan jaringan logistik yang amat besar. Mari kita menuju Kopenhagen. Ibukota Denmark ini ternyata juga menjadi pusat logistik UNICEF dan dari sanalah semua bahan bantuan dikirimkan ke seluruh dunia.

250 tenaga dari 60 kebangsaan bekerja di kawasan milik UNICEF di pelabuhan Kopenhagen. Bangunan gedung sumbangan dari pemerintah Denmark ini mengingatkan orang pada bangunan khas bangsa Viking, dengan langit-langit yang rendah. Kantor administrasi bangunan ini menghubungkan gudang raksasa seluas tiga kali lapangan sepakbola. Di sinilah paket-paket bantuan UNICEF dikemas.

Jika di belahan lain dunia terjadi bencana alam, para pekerja gudang logistik UNICEF mengambil lembur kerja. Dalam waktu 48 jam paket-paket itu sudah sampai di tujuan. Sandie Blanchet, juru bicara divisi logistik UNICEF yang ditemui di Kopenhagen menyebutkan apa saja yang dilakukan di gudang tersebut:

Sandie Blanchet: Yang kami kerjakan di sini, kami sering mengemas suplai bantuan bencana. Kami juga mengirimkan paket barang-barang seperti 10 ribu alat tulis, selain itu kami juga mengurus paket pengiriman sesuai kebutuhan. Seperti misalnya kotak paket alat kebutuhan sekolah dan bahan pengajaran untuk 80 anak dan seorang guru. Guru itu dapat mengajar 40 anak di pagi hari dan 40 anak di sore hari. Kami membeli barang-barang isi paket itu dari berbagai negara seperti Bulgaria, Cina, India, atau Jerman dan Meksiko. Jika sudah selesai dikemas, paket-paket itu dikirim ke seluruh dunia.“

Anak-anak korban perang atau bencana alam tak jarang mengalami trauma psikis. Mereka juga kehilangan tempat bermain, sekolah atau bahkan teman-temannya. Jika di suatu daerah terjadi bencana alam atau peperangan, gudang logistik Kopenhagen juga dengan cepat mengirimkan paket-paket ke tempat-tempat pengungsian, misalnya paket mainan. Paket mainan yang dikemas di Kopenhagen ini memiliki efek pendidikan. Paket lain yang dikemas di pusat logistik Kopenhagen adalah campuran gula-garam alias oralit. UNICEF memiliki hak paten atas oralit. Di dunia, diare merupakan penyakit utama penyebab kematian bayi dan balita. Sandie Blanchet mengatakan:

Sandie Blanchet: Di negara berkembang, oralit merupakan masalah hidup dan mati. Sayangnya masih banyak anak yang meninggal gara-gara diare, penyakit sepele di Negara maju yang menyebabkan kematian ratusan ribu anak di Negara-negara miskin.”

Kantung kecil seberat 28 gram tersebut sejak tahun 1970-an menjadi program standar UNICEF. Saat ini setiap tahunnya 40 juta kantung oralit dikirimkan ke seluruh dunia.

Tiap-tiap paket dikemas sesuai kebutuhan. Dapat berupa obat-obatan, kelambu untuk kawasan epidemi malaria atau pangan khusus untuk bayi dan balita kurang gizi. Para pekerja UNICEF yang berada di tujuan pemberian bantuanlah yang menentukan barang diperlukan dan memesan barang tersebut di Kopenhagen. Blanchet mengemukakan:

Sandie Blanchet: Kami berusaha memaksimalkan dan mempermudahkan penggunaan produk. Produk tersebut terjangkau dan mudah didapatkan. Tidak perlu memakai buku petunjuk. Seperti misalnya menggunakan sabun. Namun hal itu dapat membuat perbedaan besar dalam hidup anak-anak. Mudah, murah, dan efisien. Itulah syarat utama pasokan bantuan untuk anak-anak.”

Rak-rak tersusun rapi dan menjulang hampir setinggi bangunan dua tingkat di dalam gudang UNICEF Kopenhagen. Truk-truk pengangkut hilir mudik menjemput barang bahan bantuan untuk kemudian dikemas di ruangan pengepakan. Setelah dikemas, paket-paket bantuan itu dikirimkan dengan kapal laut. Sebanyak mungkin paket bantuan yang dikapalkan dan ditumpuk di pelabuhan transit. Begitu ada kebutuhan mendadak, paket-paket tersebut dikirimkan ke tempat tujuan. Kargo udara tidak digunakan UNICEF karena harganya yang mahal.

Dedikasi Pekerja UNICEF

Bencana tsunami di Asia Tenggara atau gempa bumi di Pakistan membuat para pekerja di gudang Kopenhagen lembur 24 jam. Bagi karyawan tetap, bekerja di akhir pekan atau dalam tiga giliran merupakan kesadaran diri jika terjadi bencana di suatu tempat. Seperti yang diutarakan Mark, pekerja yang aktif di gudang UNICEF Kopenhagen selama 5 tahun:

„Orang bekerja di UNICEF tidak untuk uang, namun juga untuk idealisme. Kami sudah tahu tugas kami untuk menolong orang yang memerlukan bantuan. Saya sangat senang dapat bekerja di sini.“

Sebuah pekerjaan yang tak mungkin ditemukan di tempat lain. Bagus, yang baru saja mengepak bahan bantuan untuk Burundi tak mau menukar pekerjaannya dengan orang lain:

„Jika tugas saya rampung, saya sangat bangga. Saya tahu, dengan ini saya dapat menolong orang lain. Saya senang dapat bekerja di sini. Tidak seperti pekerjaan lain yang dilakukan sama setiap harinya dan tidak dipikirkan setelah selesai. Di sini saya tahu apa yang kami bungkus, apa yang dikirimkan, dan ke negara mana dikirimkan di mana masalah berada.”

Beberapa hari kemudian paket-paket yang dikemas Mark dan Bagus tiba di tujuan. Para pekerja gudang tersebut langsung melihat hasil karyanya di televisi. Sandie Blanchet bercerita:

“Kami sering melihat langsung apa yang kami kerjakan. Setelah tsunami atau gempa bumi di Pakistan, kami melihat bagaimana paket-paket tersebut dikirimkan. Beberapa hari kemudian kami melihat di televisi paket-paket itu dibagikan kepada anak-anak dan para ibu. Saya rasa di sini sebagian besar kami merasa kerja kami sangat berarti bagi anak-anak. Kami bangga dapat memberikan bantuan nyata bagi perempuan dan anak-anak.“