3 Oktober: Hari Bersatunya Jerman | Fokus | DW | 02.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

3 Oktober: Hari Bersatunya Jerman

Setiap 3 Oktober Jerman merayakan penyatuan kembali Jerman Barat dan Jerman Timur.

Gedung parlemen Jerman di Berlin

Gedung parlemen Jerman di Berlin

16 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 Oktober, bendera Jerman berkibaran dimana-mana. Hari yang penuh kegembiraan dan optimisme. Suasana yang sama terulang kembali tahun ini saat berlangsungnya Piala Dunia. Namun, euforia ini tidak bertahan sampai bulan Oktober.

Walaupun dilakukan pembangunan besar-besaran di wilayah bekas Jerman Timur, daerah ini masih harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Sampai saat ini angka penggangguran di wilayah timur tidak berhasil ditekan. Tingkat penggangguran di wilayah timur kini telah mencapai angka dua kali lebih banyak daripada di bagian barat. Sementara itu, secara demografis, karena warga mantan Jerman Timur terus-menerus hijrah ke wilayah barat untuk mencari pekerjaan, penduduk di bagian timur nampaknya semakin berkurang. Masalah yang sampai sekarang belum berhasil ditangani pemerintah Jerman.

Ini merupakan bukti ketidakmampuan politik Jerman dan ancaman bagi demokrasi. Karena situasinya disalahgunakan oleh kelompok ekstremis kanan. Walau tidak mengenakan sepatu bots atau pakaian lainnya lagi yang melambangkan mereka sebagai anggota neonazi, mereka menyebarkan ajaran dalam kemasan baru. Para neonazi bersikap seakan-akan adalah warga biasa sekaligus penderma. Dan, taktik baru ini ternyata cukup berhasil. Contohnya, partai NPD yang berhaluan kanan itu berhasil meraih sejumlah kursi di pemerintahan daerah negara bagian Meklenburg-Vorpommern.

Tentunya tak melulu hal negatif yang muncul dari bekas Jerman Timur, namun wilayah itu juga membawa angin segar. Contohnya, dengan terpilihnya Angela Merkel sebagai kanselir pertama asal bekas Jerman Timur, menunjukkan bahwa asal-usul tidak lagi menjadi halangan untuk menjadi kanselir di Jerman. Atau, pabrik jam Glashütte dan pabrik-pabrik komputer di Dresden, dibanjiri oleh order-order. Oleh karena itu, 3 Oktober sepantasnya dirayakan sebagai hari bersatunya kembali Jerman Barat dan Jerman Timur.

Akan tetapi, Jerman masih enggan untuk belajar dari negara-negara bagian bekas Jerman Timur. Memang sebelum bersatu, rezim totaliter berkuasa di Jerman Timur. Namun, harus diakui pemerintahannya juga memiliki sisi baik. Kita sebut saja reformasi politik keluarga Jerman yang sedang gencar-gencarnya dibahas, seharusnya Jerman menerapkan model Jerman Timur. Di sana tersedia tempat penitipan anak yang cukup banyak, sehingga setiap ibu yang memiliki anak dapat menitipkannya saat bekerja.

Seandainya warga bekas Jerman Timur tidak dibiarkan dibayang-bayangi kesalahan mereka di masa lalu dan diberikan rasa percaya diri yang lebih besar, mereka sebetulnya dapat membuktikan, bahwa mereka bukan warga yang hanya menadah tangan untuk mendapat tunjangan dari pemerintah. Dan, situasi seperti ini dapat menopang segala upaya tercapainya persatuan di Jerman.

Namun, apa sebetulnya arti dari persatuan Jerman? Bagaimana dengan warga Jerman yang berlatar-belakang migran? Tentu, mereka merupakan bagian dari masyarakat Jerman. Negara ini terdiri dari beragam budaya. Namun, banyak yang masih merasa diasingkan. Sudah saatnya, Jerman mencanangkan slogan “Keanekaragaman Dalam Persatuan”. Terutama di zaman maraknya teror internasional, dimana rasa curiga semakin bertambah.