1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Indonesien Vulkan Tambora auf Sumbawa
Gunung Tambora di Pulau SumbawaFoto: picture alliance/AP/Iwan Setiyawan

Frankenstein: Cerita Horor Yang Lahir Karena Letusan Tambora

26 Desember 2017

Letusan Gunung Tambora 1815 begitu dahsyat, sehingga menyebabkan "masa kegelapan“ di Eropa. Saat-saat itulah yang mengilhami Mary Shelley, 18 tahun, untuk menulis cerita horor Frankenstein.

https://p.dw.com/p/2pxVO

Tahun 1815 Gunung Tambora di Pulau Sumbawa meletus hebat. Begitu dahsyatnya letusan itu, dan begitu banyak debu vulkanik yang disemburkan ke udara, sehingga menyebabkan perubahan drastis iklim dunia.

Setahun berikutnya, 1816, cuaca di Amerika Utara dan Eropa berubah drastis karena sebaran debu vulkanik Tambora. Di belahan utara bumi, banyak panen gagal dan ternak-ternak mati. Terjadilah bencana kelaparan yang terburuk pada abad ke-19. Cuaca gelap, sehingga 1816 disebut "Tahun tanpa musim panas".

Mary Shelley
Mary Shelley, pengarang cerita horor "Frankenstein or The Modern Promotheus"

Ketika itu, Mary Shelley baru saja datang dari London ke Jenewa, tepatnya pada musim panas. Cuaca sangat buruk, setiap hari dingin dan hujan. Abu vulkanik dari Gunung Tambora membalut bumi dan tidak membiarkan sinar matahari lewat. Suasana mencekam dan membosankan.

Saat-saat itulah, karena bosan, Mary Shelley yang ketika itu berusia 18 tahun menggagas cerita horor tentang Frankenstein dan monsternya. Pada masa itu, para ilmuwan baru bereksperimen dengan mayat, yang mereka berikan aliran listrik, sehingga terlihat kejang-kejang. Dari sana muncul ilusi, orang yang sudah mati bisa hidup lagi.

Filmszene Frankenstein
Sosok Frankenstein dalam film klasik "Frankenstein" dari tahun 1931Foto: AP

Mary Shelley memang ingin membuat cerita horor "yang membuat pembaca tidak berani lagi menengok ke belakang”, begitu dia tulis dalam kata pengantar untuk buku "Frankenstein: or The Modern Prometheus", yang pertama kali diterbitkan 1 Januari 1818.

Tidak jelas, apakah figur Victor Frankenstein dalam buku itu punya hubungan dengan kastil Frankenstein yang ada di selatan kota Frankfurt di Jerman. Yang pasti, Mary Shelley menempatkan figurnya di kota Jenewa. Banyak tempat kejadian yang digambarkan dalam cerita berada di sekitar kota itu.

"Aku lahir di Jenewa. Keluargaku adalah salah satu yang terpandang di kota ini," kata Victor Frankenstein di awal buku itu.

Deutschland Burg Frankenstein bei Darmstadt
Kastil Frankenstein dekat kota Darmstadt, JermanFoto: imago

Setelah diterbitkan 1 Januari 1818, para kritikus menghujatnya. Tapi cerita itu diambil untuk plot drama di teater. Dari gedung teater, sosok Frankenstein jadi makin dikenal. Tahun 1910, dibuat film bisu pertama tentang Frankenstein. Tahun 1931 dimulai produksi film horor Frankenstein.

Tapi, Frankenstein hanya dikenal namanya saja. Sedangklan sosok yang lebih bertengger di benak pembaca adalah monster buatannya. Rakasasa dengan dahi yang khas. Di kota Jenewa, sekarang berdiri patung monster buatan Frankenstein, sebuah legenda yang dimulai dari fantasi seorang perempuan berusia 18 tahun.