10,5 Miliar Dollar AS untuk Afghanistan | Fokus | DW | 02.02.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

10,5 Miliar Dollar AS untuk Afghanistan

Dalam konferensi internasional untuk Afghanistan di London, negara-negara donor menyepakati dana bantuan untuk lima tahun mendatang.

Presiden Afghanistan Hamid Karsai

Presiden Afghanistan Hamid Karsai

Proses perubahaan di Afghanistan tampak 'signifikan, tetapi masih belum rampung', demikian pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice saat menghadiri Konferensi Donor Internasional untuk Afghanistan di London. Penilaian yang mewakili suara hadirin lainnya. Perwakilan dari sedikitnya 60 negara ikut serta dalam konferensi ini, mengkoordinir bantuan dana untuk pembangunan lima tahun. Dan mereka juga menyanggupi bantuan lainnya.

20 miliar Dollar Amerika telah disepakati untuk lima tahun mendatang. Seperempatnya diperkirakan berasal dari Washington. Sebagian besar dari jumlah itu akan dialirkan ke anggaran negara Afghanistan dan diharapkan digunakan lebih efisien. Sebelumnya sebagian besar bantuan dana tidak disalurkan kepada pemerintah, melainkan melalui organisasi-organisasi non pemerintah. Banyak orang Afghanistan serta pakar-pakar internasional mengkritik, bahwa sebagian besar dana jatuh ke kantong para ahli dan bukan ke proyek-proyek. Dan kritikan itu sah saja.

Tetapi, apakah dengan melalui pengelolaan keuangan lain masalah ini dapat diselesaikan, masih harus dibuktikan. Sementara ini perlu dipastikan, uang itu betul-betul akan dibayar oleh donor. Dan, masih banyak kritikan lainnya yang belum terjawab. Salah satunya, soal situasi keamanan. Aparat keamanan Afghanistan tidak sanggup menangani Taliban yang bertambah kuat. Apalagi Amerika Serikat merencanakan pengurangan tentaranya. Situasi ini juga tidak akan membaik, walaupun NATO berjanji meningkatkan jumlah tentaranya, yang mayoritas adalah tentara Inggris. Seperti sebelumnya, kekuasaan pemerintah Afghanistan hanya sebatas Kabul dan kesuksesan di kawasan lain tergantung pada sukses tidaknya aliansi dengan pemimpin suku atau 'warlords' kawasan tersebut.

Selama ini warlords bisa bertahan karena punya sumber pendapatan, yang ternyata tidak berhasil ditangani saat konferensi di London. Yakni menanam, memproduksi serta memasarkan tanaman candu. Afghanistan merupakan pemasok obat candu terbesar di dunia dan hal itu tidak akan berubah, selama penanaman candu lebih menguntungkan daripada penanaman padi-padian atau tomat. Semuanya memperoleh keuntungan dari perdagangan obat terlarang - dari Taliban sampai para warlords – dan tidak ada yang bersedia mengorbankan sumber uang itu. NATO tidak mungkin melarang penanaman candu.

Meskipun berbagai masalah tidak dapat diselesaikan, adalah langkah yang tepat, menyepakati bantuan lanjutan untuk Afghanistan di konferensi donor di London. Setelah puluhan tahun Taliban berkuasa di Afghanistan dan sejumlah perang, tidak mungkin dalam jangka waktu lima tahun saja negara itu berubah menjadi modern dan lebih demokratis.

Afghanistan mengalami beberapa pukulan, tetapi itu tidak berarti usaha pembangunan kembali harus diakhiri begitu saja.