1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

100 Tahun Hari Lahir Ibu Teresa

25 Agustus 2010

Tahun 1997 Ibu Teresa yang dikenal sebagai ibu mereka yang termiskin dari kaum miskin, meninggal di Kalkutta dalam usia 87 tahun. Seandainya ia masih hidup, 26 Agustus tahun ini adalah 100 tahun hari lahir Ibu Teresa.

https://p.dw.com/p/Ow32
Ibu Teresa saat menerima hadiah Nobel Perdamaian di Oslo, Desember 1979Foto: picture-alliance/dpa

Agnes Gonxhe Bojaxhiu lahir di Skopje sebagai anak perempuan seorang pedagang Albania. Dididik dalam keluarga katolik yang kuat, pada usia 17 tahun remaja Teresa meninggalkan tanah kelahirannya dan masuk biara Ordo Loreto di Dublin, Irlandia. Desember 1928, untuk pertama kalinya ia pergi ke India dan tinggal di Darjeeling untuk mempersiapkan diri menjadi biarawati. Tahun 1930-an, Suster Teresa mengajar anak-anak perempuan di Santa Maria, sebuah sekolah Katolik di Kalkutta.

Saat melakukan suatu perjalanan panjang dengan kereta api bulan September 1946 ke Darjeeling, ia menerima panggilan Tuhan. Misinya adalah membantu mereka yang termiskin dari kaum miskin dan mendampinginya. Dengan keyakinan bahwa Yesus juga hidup pada setiap orang yang miskin, tahun 1948 dengan ijin dari Paus Pius XII, Suster Teresa mendirikan sebuah ordo baru, "Misionaris kasih terhadap sesama“. Ia mengenakan baju tradisional Sari bewarna putih dengan tanda tiga garis biru, pakaian kaum miskin di Bengali. Tahun 1950, ordo yang didirikan Suster Teresa juga diakui Vatikan.

Di Kalkutta Suster Teresa yang kala itu masih muda, melihat puluhan orang miskin yang meninggal. Ia menemukan perempuan yang pingsan di pinggir jalan, yang separuh badannya digerogoti tikus dan semut. Setelah petugas rumah sakit terdeka menolak merawatnya, perempuan itu akhirnya meninggal akibat luka-lukanya. Sejak itu Suster Teresa bertekad bulat tidak akan membiarkan seorangpun meninggal sendirian.

Ia memutuskan mendirikan rumah untuk orang yang sedang menunggu kematiannya dan merawat mereka. Pihak administrasi kota Kalkutta mengijinkan Suster Teresa mempergunakan bangunan yang kosong di sebelah Pura Kali di Kalighat. Dewi Kali adalah Dewi Kematian dalam agama Hindu. Di sanalah sejak tahun 1952 berdiri Rumah Menunggu Kematian, Kalighat atau apa yang disebut Ibu Teresa, Nirmal Hriday.

Biarawati, sanak keluarga dan kerabat membawa orang-orang ke sana. Petugas sukarela, biarawati dan biksu memandikan dan merawat mereka. 40 ribu orang yang melewati hari-hari terakhirnya di sana

"Kematian adalah tingkat perkembangan tertinggi kehidupan manusia, karena jika seseorang meninggal secara damai dengan Tuhan, maka ia mencapai perkembangan tertinggi."

Sumbangan besar segera mengalir dari negara-negara barat untuk aksi bantuannya. Tapi Ibu Teresa tidak pernah memandang dirinya sebagai petugas bantuan sosial. Ia hanya bekerja atas tugas agama, khususnya dalam tugas Yesus Kristus. "Pekerjaan bukanlah panggilan, pekerjaan adalah doa." Demikian yang selalu ditekankannya.

Setelah Kalighat, Ibu Teresa mendirikan rumah-rumah lainnya untuk membantu mereka yang membutuhkan. Di Kalkutta kota dimana jutaan orang hidup di tempat kumuh dan lebih dari setengah juta orang hidup di jalanan, bantuan itu hanya setetes air pada batu cadas. Meski demikian Ibu Teresa memberikan hidupnya bagi kaum termiskin dari mereka yang miskin dan membantu banyak orang. Ia diakui secara internasional dan tahun 1979 memperoleh hadiah Nobel Perdamaian.

Tapi Ibu Teresa dan misinya sering mendapat kritik. Pertama, karena untuk dana yang diperolehnya ia tidak membuat tata buku yang terinci. Kedua, karena ia bertemu langsung dengan diktator Haiti, Francois Duvalier. Dan karena ia menolak memberi obat penahan sakit bagi orang yang akan meninggal. Penulis Amerika Serikat Christopher Hitchins bahkan mengecamnya sebagai Hell's Angel atau malaikat neraka.

Namun Ibu Teresa tidak peduli akan pendapat para kritisi. Agama adalah kehidupannya

"Setiap orang menderita di dunia ini. Penderitaan inilah yang sebaiknya dimanfaatkan dalam jiwa yang benar, agar berubah menjadi kasih Yesus Kristus. Terutama saat ini, begitu banyak dosa yang terjadi."

Sementara ini lebih dari 4000 biarawati tergabung dalam Ordo „Misionaris Kasih Terhadap Sesama“ dengan sekitar 600 rumah bagi orang yang menunggu kematian di 130 negara.

Sonila Sand/Dyan Kostermans
Editor: Pasuhuk