1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Jelajah Jerman

Yang Masih Teringat Sebelum Terlupakan

"Silahkan makan dulu, Pak." Bergabung dalam redaksi Deutsche Welle Bahasa Indonesia ada suka dan dukanya. Asril Ridwan membagikan pengalamannya selama beberapa puluh tahun jadi editor dan wartawan.

default

Asril Ridwan di depan Reichstag, Berlin, ketika Jerman baru bersatu.

-I-

“Makan dulu, habis itu baru kita ngomong-ngomong”. Itulah yang hampir selalu saya dengar, ketika hendak mewancarai nara sumber untuk serial siaran, Orang Indonesia di Jerman, Dari Ibu Rumah Tangga Sampai Duta Besar, yang diproduksi tahun 1985. Dan inilah perjalanan jurnalistik saya di Jerman, yang disertai makan enak karena disuguhi masakan Indonesia. Mulai dari sambal terasi, lalap, ikan asin sampai rendang. Lagipula gratis! Saya menghubungi nara sumber di berbagai kota di Jerman, dari utara ke selatan. Dari Kiel sampai ke München, dan dari berbagai profesi.

Jawabannya mengenai suka duka “hidup” di Jerman tentu juga berbeda-beda. Seorang ibu rumah tangga yang bersuamikan orang Jerman mengatakan, “Selama ia masih mencintai saya, maka sayapun mencintainya.” Seorang seniwati mengungkapkan, ”Saya tinggal di Jerman. Tapi berfikir, berkarya dan marah-marah dalam bahasa Indonesia.” Duta besar lain lagi jawabannya, "Bila dengar bunyi gamelan, rasanya ingin pulang.”

Deutsche Welle Indonesische Redaktion. Bild 8. Indonesische Redaktion. Zusammenarbeit mit Radio Mara, Anfang 1990er Jahre. Foto: DW

Bersama rekan-rekan di Radio Mara, Bandung

Salah satu nara sumber yang lain adalah seorang pengusaha restoran Indonesia di München. Ia menegaskan, restoran Indonesia yang dikelolanya adalah yang pertama di Jerman. Awalnya dimulai dengan usaha makanan rantangan menjelang akhir tahun 60-an. Kemudian berkembang dan tetap bertahan. Ketika saya tanyakan, apa kiatnya dalam “mengelola” restorannya sampai tetap bertahan selama bertahun-tahun, si ibu pemilik restoran terdiam sejenak dan bertanya, "Maaf Pak, "mengelola" itu apa toh? Saya sudah lama tidak ikuti perkembangan di Indonesia.” Sebelum saya jelaskan, ia buru-buru berkata, ”Mari Pak, makan dulu, nanti makanannya dingin”.

-II-

Menyiapkan serial siaran khusus 50 tahun Indonesia merdeka, pada tahun 1995 mempunyai tantangan sendiri, karena juga harus mencari 50 orang tokoh, dari berbagai kalangan dan latar belakang. Untuk menghemat waktu, tenaga dan tentu juga biaya, ”diatur strategi” untuk melakukan wawancara dengan para nara sumber tersebut.

Deutsche Welle Indonesische Redaktion. Bild 3. Indonesische Redaktion. Asril Ridwan interviewt B.J. Habibie. Foto: DW

Ketika mewawancarai B. J. Habibie

Antara lain mulai dari AH Nasution, Abdurahman Wahid, Ali Sadikin, Habibie sampai Zainudin MZ. Ada yang dihubungi lewat telepon, diwawancarai oleh “pembantu” Deutsche Welle di Indonesia, atau “mencegatnya” bila kebetulan nara sumber itu berkunjung atau mampir di Jerman, atau ke negara lain disekitarnya.

Adalah tugas saya untuk “mencegatnya”. Gampang-gampang sulit. Apalagi bila yang “dicegat” pejabat pemerintah. Biasanya pembantunya selalu bilang, ”Wah bapak tak ada waktu." Atau, "Sampaikan dulu pertanyaannya.” Selain itu, mencari ruangan yang tidak bising untuk melakukan wawancara, karena nara sumbernya menghadiri suatu acara atau konferensi terkadang juga menghadapi kesulitan.

Wawancara dengan BJ Habibie, terpaksa dilakukan di sebuah ruangan di kapal, yang baru saja rampung dibuat galangan kapal Meyer di Papenburg. Wawancara dengan Gubernur Timor Timur Abilio Soares, yang sedang menghadiri Konferensi Internasional Timor Timur yang diprakarsai PBB di Burg Schlaining, Austria, dilakukan di ruang belakang sebuah gereja. Sementara nara sumber yang diwawancarai di sela-sela sebuah konferensi di Brüssel kedinginan, karena ternyata ruangan yang “sepi” tempat wawancara dilakukan, tidak memiliki “alat pemanas”.

-III-

Tak selamanya tugas wawancara yang saya lakukan berjalan mulus, terkadang akibat kesalahan teknis, atau keteledoran sendiri. Itulah yang terjadi ketika saya mewancarai Menteri Luar Negeri Indonesia Ali Alatas tanggal 22 September 1994 di Karlsruhe, di sela-sela pertemuan Uni Eropa dan ASEAN. Waktu yang sempit, dan karena “berebutan” untuk mewawancarainya, sampai lupa mempersiapkan alat rekaman dengan baik. Alatnya ngadat, dan wawancara tak terekam. Mau diulang, wartawan lain juga sudah antri menunggu gilirannya. Saya bilang. ”Pak, wawancaranya gagal, tak terekam, bisa diulang nanti?” Menlu Ali Alatas menjawab, ”Yah lihat saja nanti setelah makan siang.” Setelah menunggu dengan perasaan “cemas,” akhirnya saya dapat mengulangi wawancara dengannya. Ali Alatas berkomentar, “Nah kalau ini gagal lagi, tak ada siaran ulangan, ya...”

Deutsche Welle Indonesische Redaktion. Bild 4. Indonesische Redaktion. Asril Ridwan interviewt Ali Alatas. Foto: DW

Wawancara dengan Ali Alatas

Lain lagi dengan Abdulah Ahmad Badawi, yang ketika itu menjadi Menteri Luar Negeri Malaysia. Wawancara dalam bahasa Melayu dengannya di Bonn tanggal 7 Oktober 1997 ”terpaksa” berhenti dua kali. Bukan karena alat rekaman rusak, melainkan karena harus menerangkan kata yang ada dalam pertanyaan yang saja ajukan. Ia bertanya, apa maksudnya, ”rekayasa politik” dan “mengucilkan”. Kata-kata itu terselip dalam pertanyaan menyangkut hubungan ASEAN dan Myanmar.

Pada tanggal 5 Juli 1991, di Wisma Negara Petersberg, dekat Bonn, Menteri Sekretaris Negara Moerdiono mengadakan acara jumpa pers, mengenai pembicaraan yang dilakukan Presiden Suharto yang sedang melakukan kunjungan di Jerman. Sayapun mengikuti para wartawan yang ikut rombongan presiden, untuk duduk ditempat diadakannya acara jumpa pers tersebut. Moerdiono menatap para wartawan,dan kemudian memandang saya, lantas bertanya, “Anda dari mana?” Saya jawab,”Dari Deutsche Welle”. Ia langsung berkomentar,”Ini konferensi pers untuk wartawan yang ikut rombongan presiden,dan bukan untuk pers asing”.

-IV-

Saya cukup ”beruntung” karena dapat bertemu dengan pendengar di Indonesia tidak saja “di udara,” melainkan juga “di darat”. Saya bertatap muka dengan pendengar dalam pertemuan di Batu, Malang, bulan Agustus 1987 di Yogyakarta, dan Kaliurang bulan November 1988.Selain itu setiap bertugas di Indonesia, saya juga berusaha untuk dapat bertemu dengan pendengar.

Deutsche Welle Indonesische Redaktion. Bild 1. Indonesische Redaktion. Asril Ridwan, 1991. Foto: DW

Asril Ridwan

Misalnya ketika menggarap produksi siaran berjudul Meretas Kehidupan, Meraih Masa Depan, bersama dengan Radio Mara di Bandung, tahun 1989, mengenai kehidupan dan kegiatan di sebuah pesantren di dekat Bogor. Juga ketika saya mewakili Deutsche Welle pada Pameran Tehnologi Indonesia-Jerman Technogerma di Jakarta, pada tahun 1999. Dalam setiap pertemuan tak lupa saya membawa “oleh-oleh” cendera mata dari Deutsche Welle. Sebaliknya sayapun terkadang mendapatkan “tanda mata” dari pendengar. Ketika saya sedang berada di stand DW di Pameran Tehnologi Technogerma di Jakarta, seorang pendengar yang datang dari Lampung membawa oleh-oleh sekeranjang mangga. Saya “terharu” dan hanya bisa berucap “terima kasih”.

Setelah “tak terpakai lagi” alias pensiun dari Deutsche Welle, sejumlah “bekas” pendengar masih menjalin hubungan dengan saya. Untuk itu saya hadir dalam pertemuan pendengar siaran radio luar negeri di Wonosobo tanggal 22 dan 23 Juni 2013 lalu. Mereka yang dulu saya temui, masih muda-muda dan bersemangat. Sekarang semangatnya yang masih tetap ada. Sedangkan usia telah “bertambah” karena perjalanan waktu. Seorang diantaranya dengan nada penuh tanda tanya mengatakan, ”Saya masih menyimpan radio hadiah dari Deutsche Welle, tapi kok sayangnya siaran radionya telah lenyap....”

Laporan Pilihan