1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Yaman dan Upayanya Perangi Terorisme

Serangan udara, hukuman mati, prose pengadilan terhadap warga di bawah umur: pemerintahh Yaman menggunakan segala cara untuk memerangi teroris di negaranya. Tetapi, titik cerah akan dicapainya kemenangan tidak terlihat.

default

Sebuah rumah yang hancur akibat baku tembak pihak keamanan Yaman dengan kelompok teroris di provinsi Saada, Agustus 2010

Kelompok Al Qaida di semenanjung Arab bertanggung jawab atas terus meningkatnya serangan di Yaman. Orang ke dua, di kedutaan Inggris di Sanaa, mengalami cedera akibat serangan bahan peledak.Orang tak dikenal menembak kepala keamanan di kota Mudiyah, di bagian selatan Yaman, dan kemudian dalam berbagai bentrokan, delapan tentara tewas. Tentara Yaman membalasnya dengan melancarkan serangan udara di kawasan Abijan, yang dikenal sebagai kubu kelompok teror. Juga pengadilan menjatuhkan hukuman yang berat. Seorang hakim menjatuhkan vonis terhadap Saleh al Schausch, yang disebut sebagai perakit bom dari kelompok Al Qaida.

Hukuman tersebut dijatuhkan berdasarkan pengakuannya setelah ia ditangkap bulan Januari lalu. Ia mengakui keterlibatannya dalam tujuh serangan yang mematikan terhadap instalasi minyak dan militer di kawasan Hadramaut dan Maarib. Serangan itu dilakukannya sebagai balasan terhadap aksi yang dilakukan dinas rahasia Yaman terhadap kelompok Al Qaida.

Saleh al Schausch menolak untuk mengajukan banding. Didepan pengadilan ia meneriakkan kata-kata, "Saya siap menerima hukuman mati. Negara ini telah gagal dan akan berakhir."

Tidak hanya kelompok teror yang menyebut Yaman sebagai sebuah negara yang gagal. Sejak lama telah ditakutkan, bahwa Yaman akan menjadi Afganistan ke dua, sebagai tempat berlindung yang aman bagi teroris yang potensial dari seluruh dunia untuk melakukan latihan. Pemerintah Yaman menyediakan hadiah sebesar 100 ribu Dollar bagi yang dapat menangkap delapan pimpinan Al Qaida yang paling dicari. Dilain pihak, Presiden Ali Abdulah Saleh mendapat dukungan besar dalam memerangi teroris. Terutama Amerika Serikat dan juga sejumlah negara Eropa memberikan bantuan ratusan juta Dollar kepada aparat keamanan Yaman, disamping memberikan bantuan logistik dan pendidikan militer.

Sementara itu, sejak awal bulan Oktober ini, di pengadilan di Ibukota Sanaa sekelompok pemuda diajukan ke pengadilan, yang termuda berusia 16 tahun, dengan dakwaan terlibat dalam aksi serangan. Mereka membantah dakwaan tersebut. Seorang pengacara menyampaikan keberatannya, "Pihak kejaksaan tidak menyampaikan bukti apapun, yang mendukung dakwaannya. Ini akan memberikan dampak lain. Bila para pemuda ini dijebloskan ke penjara, kemungkinan mereka akan dipengaruhi oleh tahanan lainnya. Dan kelak mereka benar-benar akan menjadi anggota kelompok Al Qaida."

Amerika Serikat menyerukan agar tidak melakukan dialog dengan kelompok teroris. Tapi aksi militer yang dilakukan pemerintah Yaman sampai sekarang hanya menyulut meningkatnya kekerasan dan popularitas kelompok teroris. Kelompok Al Qaida di semenanjung Arab menerbitkan edisi ke dua situs internetnya yang berbahasa Inggris. Dalam 72 halaman, ditampilkan aneka ragam propaganda dan foto yang menggambarkan perlawanannya terhadap pemerintah. Dan dengan bangga menyebut dirinya sebagai satuan bersenjata yang paling berbahaya dari kelompok A -Qaida.

Esther Saoub/Asril Ridwan

Editor: Agus Setiawan