1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Xbox Bantu Militer Korsel Awasi Perbatasan

Militer Korea Selatan menyulap sensor pendeteksi gerakan Xbox untuk mengawasi zona perbatasan dengan Korea Utara. Piranti tersebut diyakini bisa membedakan antara gerakan manusia dan hewan.

Penggemar konsol permainan Xbox pasti sudah tidak asing dengan Kinect. Piranti pendeteksi gerakan milik Microsoft itu ternyata tidak cuma berguna di dunia fantasi, melainkan juga dalam kehidupan nyata, yakni menjaga batas embarkasi terakhir dari era Perang Dingin.

Sensor milik Kinect kini disulap menjadi peralatan keamanan di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang membelah Korea antara Utara dan Selatan. Sebuah perusahaan teknologi informasi asal Korea Selatan mengadaptasi sistem Kinect untuk piranti keamanan buatannya.

Selebar empat kilometer dan membentang sepanjang 248 kilometer, DMZ adalah kawasan dengan persenjataan paling padat di dunia dengan jutaan ranjau darat, ribuan tentara dan ratusan kendaraan lapis baja milik dua negara yang hingga kini masih berperang.

Mendeteksi Hewan dan Manusia

Sebagai zona penyangga militer DMZ tidak cuma terisolasi sepenuhnya dari aktivitas manusia, melainkan juga secara tidak langsung menjadi habitat satwa lokal yang alami dan tidak tersentuh.

Piranti berbasis sensor pendeteksi gerakan milik Microsoft dikembangkan oleh Ko Jae-Kwan, Direktur Saewan Co., sebuah perusahaan teknologi informasi di Seoul. Piranti tersebut digunakan militer karena mampu membedakan gerakan manusia dan satwa liar.

Flash-Galerie Deutschland Wochenrückblick 2010 KW 33 Gamescom in Köln

Sensor pendeteksi gerakan milik Microsoft, Kinect yang biasanya dipakai untuk Xbox

Ko yang berusia 39 tahun mengklaim piranti buatannya bisa mendeteksi suara, gerakan dan arah perjalanan jika seseorang berupaya melintasi DMZ dan secara otomatis mengirimkan informasi kepada pasukan penjaga perbatasan Korea Selatan.

Tidak Sepenuhnya Aman

"Sensor yang selama ini ditempatkan di sepanjang garis perbatasan memang sangat efisien, tapi tidak bisa membedakan antara manusia dan hewan. Sensor-sensor itu sering membunyikan alarm palsu," katanya.

Ia menambahkan, sensor baru telah dipasang di sejumlah kawasan di dalam DMZ sejak Agustus tahun lalu. "Piranti itu menjadi bagian dari upaya kami memperkuat pengawasan dengan peralatan ilmiah. Tapi kami tidak bisa membeberkan secara detail terkait isu keamanan," kata seorang pejabat Kementrian Pertahanan di Seoul.

Kendati bertabur peralatan pengawasan canggih, DMZ tidak sepenuhnya bebas dari insiden. 2012 silam lima jendral Korea Selatan dan sembilan perwira menengah dimutasi dari jabatannya lantaran seorang serdadu Korea Utara bisa berjalan melintasi perbatasan tanpa terdeteksi. Serdadu itu kemudian dikabarkan mengetuk pintu pos penjagaan milik Selatan.

rzn/hp (afp,rtr)