1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Women for Women, Bantuan bagi Perempuan Korban Perang

Kondisi kehidupan perempuan pasca perang biasanya sangat mengenaskan. Mereka tak jarang menderita trauma, tanpa uang dan tidak ada pekerjaan. Bahwa harapan kehidupan akan membaik dengan cepat, sangatlah tipis.

default

Perempuan di wilayah konflik Darfur, Sudan, harus bekerja keras untuk tetap bertahan hidup

Zainab Salbi yang dilahirkan di Irak hendak mengubah semuanya itu. Dia mendirikan sebuah LSM yang diberi nama Women for Women International. Zainab Salbi mengetahui bagaimana penderitaan kaum perempuan saat perang berkecamuk. Wanita berperawakan sedang, langsing dengan raut wajah yang cantik dan rambut pendek yang lurus itu pernah mengalaminya sendiri.

Ia dibesarkan di Baghdad, saat perang Irak-Iran berkecamuk. Ayahnya berdiri di pihak oposisi. Ketika berusia 19 tahun, Zainab Salbi pindah ke Amerika Serikat. Di sanalah ia mendengar kabar pecahnya perang Bosnia dan penderitaan kaum perempuan, lalu ia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Setelah perang berakhir, Zainab mendirikan tempat penampungan pertama bagi perempuan yang memerlukan bantuan di Bosnia.

Di tempan penampungan ini, para perempuan itu juga menjalani dua program training intensif. Fokus program pertama mengenai hak perempuan dan masalah perekonomian, kesadaran politik serta masalah kesehatan. Dan dalam program kedua ditawarkan pendidikan profesional. Uluran tangan itu tidak hanya terbatas pada kedua program intensif tersebut. Zainab Salbi bersama Women for Women International juga membantu mereka yang ingin aktif terlibat dalam politik.

Sejak 1993, sekitar 243.000 perempuan mengikuti kursus yang diberikan LSM Women for Women International. Demikian tutur Zainab. 20. 000 di antaranya adalah warga Afghanistan. Tetapi organisasi tersebut tidak hanya membatasi diri untuk memberikan pelatihan kepada para perempuan agar mereka dapat ambil bagian dalam kegiatan politik dan ekonomi di negerinya. Organisasi itu juga memberikan kredit mikro. Sampai kini, sekitar 51.000 pedagang kecil perempuan di Afghanistan memperoleh modal awal dengan jumlah total 12, 2 juta Dollar AS. Demikian diungkapkan Maliha Zameen, direktur program kredit mikro Afghanistan.

Women for Women International sekarang memiliki 18 biro kredit mikro. Saat ini di Afghanistan hanya ada di Kabul. Aktivitas semacam itu tidak dapat dilaksanakan di daerah mengingat kondisi keamanan negara itu. Namun kegigihan para aktivis organisasi itu memberikan dorongan kepada perempuan, kata Mahila Zameen. Siapa yang telah menyelesaikan program pelatihan, pengetahuan mengenai haknya lebih baik ketimbang wanita Afghanistan lainnya.

Sebagian dari kegiatan organisasi Women for Women International didanai melalui bantuan sponsor pribadi. Kaum perempuan saling menolong. “Sponsor” perempuan di negara industri mengulurkan tangannya dan memberikan 27 Dollar AS setiap bulan selama setahun kepada seorang perempuan yang membutuhkannya. Sponsor tersebut juga menjalin hubungan melalui surat dengan perempuan yang dibantu atau “putri sponsor” di wilayah-wilayah pasca perang.

Selain di Afghanistan dan Kosovo, LSM Women for Women International terdapat di enam negara lainnya, di Republik Demokratik Kongo, Irak, Nigeria, Rwanda dan Sudan. Namun dana dan sponsor bagi kaum perempuan masih jauh dari mencukupi. Juga Perserikatan bangsa Bangsa misalnya, masih terlalu sedikit melakukan bantuan bagi kaum perempuan, keluh Salbi.

Menurut hasil penelitian dua yayasan Amerika serikat, dari setiap satu Dollar AS yang dikucurkan bagi bantuan perkembangan, proyek kaum perempuan dan remaja perempuan hanya kebagian setengah Sen saja. Salbi menegaskan bahwa ini tidak dapat diterima. Dunia tidak dapat distabilkan, masyarakat yang demokratis dan aman tidak dapat dibentuk bila tidak melakukan sesuatu bagi kaum perempuan dan remaja perempuan. Zalbi juga mendesak, agar secara terarah mendidik dan melibatkan perempuan dalam proyek-proyek pembangunan di sektor agraria di seluruh dunia. Apalagi mengingat bahwa 70 persen petani di Afrika hitam dan Asia adalah perempuan.

Suzanne Krause/Christa Saloh

Editor: Hendra Pasuhuk