1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Kesehatan

WHO Larang Tes Darah untuk TBC

Akhir Juli 2011 Badan Kesehatan Dunia WHO melarang digunakannya tes darah untuk tuberkulosa atau TBC. Menurut WHO mengatasi simptoma ini dengan tes darah tidak akurat, berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.

default

Tes darah untuk deteksi TBC di laboratorium semakin jarang

Setiap tahunnya ada hampir 9 setengah juta kasus tuberkulosa aktif yang baru. Demikian menurut Badan Kesehatan Dunia WHO. Setiap tahun terdapat 1,7 juta kasus kematian akibat tuberkulosa.

Larangan tes darah untuk mendeteksi tuberkulosa, adalah langkah yang tidak biasa. Ini untuk pertama kalinya Badan Kesehatan PBB WHO mengumumkan dikeluarkannya peringatan praktek tes darah, yang secara luas dipakai dalam mengatasi tuberkulosa. Dr. Mario Raviglione adalah direktur program PBB „Stop TB“ atau hentikan Tuberkulosa. Ia mengatakan berbagai studi menunjukkan tes darah itu menghasilkan tingkat kesalahan yang tidak dapat diterima dan berbahaya. "Ada indikasi kuat yang menunjukkan bahwa tes darah semacam ini tidak tepat. Itu tidak akurat.“

Akhir tahun lalu WHO menganjurkan tes Tuberkulosa baru berdasarkan tes DNA. Tes itu mudah, lebih cepat dan lebih akurat dari jenis tes sebelumnya, karena dapat langsung mendeteksi bakteri mikro dari organisme tuberkulosa.

Tes baru berdasarkan DNA itu dapat mendiagnosa tuberkulosa reguler maupun tuberkulosa yang resisten terhadap obat, sehingga terhadap pasien segera dapat diberikan cara perawatan yang sesuai. Ditambahkan Dr. Raviglione tes molekuler baru ini kemungkinan tingkat kesalahannya tidak sebesar tes darah. "Kami memperkirakan sedikitnya saya katakan dua juta tes darah yang tidak akurat ini dilakukan setiap tahunnya. Jumlah tes darah semacam ini mayoritas dilakukan di negara-negara yang sayangnya memiliki kasus tuberkulosa yang tinggi.“

WHO melaporkan sedikitnya 18 tes darah semacam ini dapat ditemui di pasaran. Kebanyakan diproduksi di Eropa dan Amerika Utara. Tes-tes ini mayoritas dilakukan di negara berkembang dimana tuberkulosa merupakan masalah besar dan peraturannya tidak ketat. Tes-tes darah ini dijual di semua kawasan di dunia dan terutama sangat banyak dipakai di India. Biaya tes darah komersial sekitar 30 dollar AS. Ini berarti hampir dua kali lebih mahal dibanding biaya tes molekuler DNA yang lebih mudah.

Kerugian Tes Darah untuk Deteksi TBC

Karin Weyer, kepala bidang diagnostik pada program PBB ‚Stop TB' memperingatkan 50 persen pasien yang menjalani tes darah, memperoleh diagnosa yang salah. Baik itu kesalahan positif ataupun negatif. "Kesalahan negatif berarti, pasien yang memiliki tuberkulosa mendapat hasil diagnosa yang menyatakan mereka tidak memiliki tuberkulosa, sehingga mereka terus mentransmisikan penyakit ini ke orang lain. Dan oleh sebab itu TBC tidak dapat diatasi. Pada kesalahan positif, tampaknya terhadap pasien diterapkan perawatan TBC yang tidak perlu, sementara penyebab utama penyakit tetap tidak terdiagnosa.“

Meski demikian WHO mengatakan mereka tidak dapat memaksa setiap negara untuk melarang tes darah, tapi mengharap dikeluarkannya larangan itu menjadi isyarat untuk penurunan penggunaan produk tersebut. Pertanda menggembirakan datang dari India. Pemerintah India telah menyambut langkah kebijakan WHO dalam mempublikasikan larangan penggunaan tes darah untuk mendeteksi tuberkulosa.

Lisa Schlein/Dyan Kostermans

Editor: Hendra Pasuhuk