Web 2.0: Perundingan Internasional di Rumah Sendiri | Sosial | DW | 15.04.2010
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Web 2.0: Perundingan Internasional di Rumah Sendiri

"Adopsi seorang negosiator" adalah proyek yang menggunakan teknologi terkini untuk mengubah cara ikut serta dalam proses pengambilan keputusan. Tidak sulit: perundingan tingkat internasional bisa diikuti dari rumah.

default

Para peserta proyek "Adopsi seorang negosiator" di Hotel Maritim, Bonn.

Web 2.0 adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tren dalam teknologi internet yang memungkinkan penggunanya untuk berbagi kreativitas dan informasi atau berkolaborasi. Berbeda dengan web 1.0 pendahulunya, tren web 2.0 memungkinkan pengguna internet untuk melakukan banyak hal lainnya di samping sekedar menerima informasi. Misalnya orang dapat menggunakan blog untuk menceritakan pengalaman, mengirim status baru lewat Twitter untuk menginformasikan apa yang sedang mereka lakukan, menggunakan Facebook untuk memelihara hubungan pertemanan dan berbagi foto atau video lewat Flickr atau YouTube.

Fungsi interaktif web 2.0 bukan saja sering digunakan di kehidupan pribadi, melainkan juga di dunia profesional. Contohnya pada konferensi perubahan iklim PBB yang berlangsung di Bonn.

"Adopt a negotiator" atau "adopsi seorang negosiator". Ini adalah sebuah proyek yang menggunakan layanan Web 2.0 di internet sebagai cara baru mengikutsertakan khalayak umum dalam proses pengambilan keputusan politik dalam konferensi iklim. Berpusat di Montreal - Kanada dan didukung oleh sejumlah organisasi internasional di lebih dari 30 negara di dunia, “Adopt a Negotiator” memiliki sebuah misi: untuk memobilisasi masyarakat sipil dan mendorong berkembangnya opini publik untuk mendukung terjadinya perubahan kilat dan tindakan yang cepat untuk menyelamatkan planet bumi dari perubahan iklim yang berbahaya.

Tracker memantau setiap jalannya rapat

Baru-baru ini, sebagai bagian dari proyek, sebuah tim yang terdiri dari anak-anak muda ditugaskan untuk memantau para juru runding yang dikirim oleh negara mereka untuk mengikuti konferensi perubahan iklim yang diselenggarakan oleh PBB di Bonn, Jerman, dari tanggal 9-11 April 2010. Sepanjang konferensi tim pemantau melaporkan hasil pantauannya kepada warga di negara mereka masing-masing melalui layanan Web 2.0 di jejaring internet. Anggota tim pemantau ini dijuluki "tracker". Dengan kegiatannya, mereka berusaha memberikan tekanan moral kepada para pemimpin yang sedang mendiskusikan masa depan planet bumi kita untuk mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab.

Di lobby Hotel Maritim di Bonn, Jerman, tempat konferensi perubahan iklim digelar, terlihat sekelompok anak muda berbaju merah yang sibuk bekerja dengan laptop mereka. Mereka adalah para „trackers“, tim pemantau yang mewakili 13 negara asal mereka. Dalam sembilan bahasa yang berbeda, tim pemantau tersebut bertugas untuk mengikuti aktivitas pimpinan juru runding dari negara mereka masing-masing dan melaporkannya kepada publik di tanah air mereka tentang apa saja yang dilakukan para negosiator dan apa yang terjadi pada konferensi perubahan iklim tersebut. Anna Collins, seorang tracker dari Inggris, menceritakan tentang tugasnya:

„Dibutuhkan partisipasi warga sipil untuk mendorong para negosiator dan mengubah batasan yang ada, untuk mengubah keadaan saat ini. Kita harus membuat para negosiator itu tahu, bahwa kita memantau mereka dan mereka tidak bisa seenaknya melakukan apa yang mereka inginkan. Kita ada di sini dan kita memantau, kita peduli. Lakukanlah sesuatu untuk iklim kita dan lakukan itu dengan lebih baik lagi dari apa yang sedang kamu lakukan.“

Dokumentasi lengkap dengan foto dan video

Pagi dini hari, para trackers sibuk mendokumentasikan aksi protes dari kelompok-kelompok pecinta lingkungan dengan kamera foto maupun video. Segunung pecahan beling dibuang di depan lokasi utama konferensi. Sebuah palang salib bertuliskan „Copenhagen“ didirikan di tengah-tengah pecahan gunung beling tersebut. Sebuah simbol dari runtuhnya impian dan harapan yang tertumpu pada konferensi iklim di Kopenhagen tahun lalu.

„Aksi demonstrasi seperti ini terjadi hampir setiap hari selama konferensi. Jadi kami menyiapkan foto-foto dan video-videonya, wawancara video pendek dan kami mem-postingnya di You Tube dan semuanya juga dapat ditampilkan di halaman Facebook kami dan kami akan memberitakannya lewat Twitter.“ Demikian penjelasan dari Josh Wiese, pemantau dari Amerika Serikat dan koordinator proyek.

Akses bagi setiap orang

Setelah semua anggota tim mendokumentasikan aksi demonstrasi, mereka berbondong-bondong kembali ke tempat konferensi untuk mengikuti rapat pleno periode pertama. Selama rapat berlangsung, mereka dapat terus melaporkan perkembangan-perkembangan terakhir yang terjadi di dalam ruang rapat tertutup kepada publik di negara masing-masing melalui Twitter. Anna Collins menerangkan, bagaimana Twitter berfungsi:

„Setiap orang dapat mendaftarkan diri untuk sebuah akun di Twitter. Kamu bebas menulis apa saja yang kamu mau sebanyak 140 huruf, lalu mempublikasikannya ke seluruh dunia. Publik pun dapat mengikuti kamu, maksudnya mereka akan dapat membaca hal-hal yang kamu tulis melalui akun Twitter mereka.“

Keikutsertaan dalam konferensi iklim PBB bukanlah hal yang mudah bagi orang awam karena proses diskusi yang panjang dan seringkali menggunakan kalimat-kalimat serta istilah-istilah rumit serta sulit dimengerti. Pembatasan jumlah huruf dalam Twitter, membuat tim pemantau harus menulis hasil pantauan dalam bahasa yang sederhana. Anna Collins:

„Contohnya: „AS tidak mau ikut bermain“ atau „Rusia baru saja melontarkan hal yang konyol“. Kami berusaha supaya memakai bahasa yang lebih awam dan akrab tapi tetap menyampaikan informasi ke luar tentang apa yang sebenarnya dibicarakan selama konferensi tersebut.“

Setelah seharian ber-twitter-ria, Josh dan Anna merefleksikan berbagai perkembangan dalam konferensi yang baru saja berlalu, untuk kemudian menuliskan hal-hal yang lebih substansial di dalam blog atau buku harian online mereka. Namun teknologi kadangkala juga dapat menjadi kendala dalam menyampaikan pesan. Seiring perjalanan waktu kendala teknologi akan dapat diatasi. Seperti kata Josh Wiese:

„Kami menggunakan Wordpress untuk situs kami. Untuk mengatur tampilannya harus tahu sedikit mengenai kode-kode. Dan itu kadangkala menjadi kendala yang cukup besar. Sistem Content Management seperti Wordpress semakin lama semakin mudah untuk digunakan di masa mendatang. Saya berharap ke depannya lebih sedikit pengetahuan teknis yang dibutuhkan dan lebih banyak sisi seninya.“

Interaksi dari seluruh penjuru dunia

Setelah membaca blog tulisan para trackers, orang-orang di negara para trackers tersebut dapat meninggalkan pesan atau menyampaikan pertanyaan-pertanyaan. Melalui para trackers dan Web 2.0, mereka dapat memperoleh kesempatan berkomunikasi dengan orang-orang yang ikut menentukan nasib mereka dan nasib planet bumi. Anna bercerita:

“Kami mendapat banyak komentar dalam Blog. Sebelum datang ke sini, saya juga sudah menulis Blog yang banyak dibaca orang dan banyak menerima komentar dan terlihat jelas orang-orang suka berbalas-balasan dalam Twitter. Hanya berinteraksi secara umum saja dengan banyak orang yang mungkin juga sedang mengikuti proses konferensi. Karena mereka tidak bisa datang ke sini, buat mereka adalah hal yang bagus dapat mengikuti dan mengerti apa saja yang sedang terjadi.“

Dengan menyelesaikan postingan hari pertama konferensi dalam blog mereka, Josh dan Anna beristirahat panjang sebelum mereka kembali menggunakan kaus merah bertuliskan „adopt a negotiator“ untuk memantau kegiatan konferensi hari berikutnya. Hari-hari yang dijalani tim pemantau sangat panjang dan melelahkan . Tapi bagi mereka, apa yang telah mereka lakukan tidak sia-sia, karena Web 2.0 telah mengumpulkan banyak penyimak yang sangat tertarik untuk mengikuti diskusi dalam konferensi iklim walaupun mereka berada di tempat yang jauhnya ratusan bahkan ribuan kilometer jaraknya.

Andrew Shale / Munge Setiana
Editor: Anggatira Gollmer