1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Warga Iran Rindukan Perubahan

3 Januari 2018

Aksi protes di Iran adalah puncak dari berbagai masalah yang tidak terselesaikan. Opini editor DW Mostafa Malekan.*

https://p.dw.com/p/2qGkx
Iran Protest in Teheran
Foto: Fars

Sejak dua tahun banyak pengamat di Iran sudah memperingatkan, ada banyak masalah ekonomi, sosial dan politik yang tidak terselesaikan dan berpotensi menjadi penyulut keresahan sosial. Kini ramalan itu menjadi kenyataan. Warga yang kecewa tumpah ke jalanan.

Aksi protes ini adalah puncak dari tumpukan masalah yang tertimbun selama 40 tahun "Republik Islam". Lebih 40 persen dari sekitar 80 juta warga Iran hidup di bawah garis kemiskinan, bahkan di kawasan pedesaan 60 sampai 70 persen.

Sedikitnya 11 juta orang harus hidup di daerah kumuh di kawasan perkotaan. Lebih 25 persen dari kaum remaja antara 15 sampai 24 tahun tidak memiliki pekerjaan. Pengangguran juga meluas di kalangan akademisi.

Sejumlah Negara Kritik Situasi di Iran

Ke mana kekayaan Iran?

Padahal Iran adalah negara kaya. Selama pemerintahan Mahmoud Ahmadinejad dari 2005 sampai 2013 Iran menghasilkan hampir 700 miliar dolar AS dari ekspor minyak. Tapi uang itu tidak digunakan untuk memerangi kemiskinan.

Sebagian besar dana negara diinvestasikan untuk memperkuat institusi-institusi agama dan ideologi. Lalu banyak dana disalurkan untuk program rudal dan atom dan untuk mendukung rejim Bashar al-Assad di Suriah. Iran juga mendukung kelompok Hisbollah, milisi-milisi Syiah di Irak dan pemberontak Huthi di Yaman.

Pada saat yang sama, puluhan ribu proyek pembangunan terhenti karena kekurangan dana. Jika saja sebagian kecil dana-dana Iran yang digunakan untuk mendukung gerakan Syiah di luar negeri dialihkan ke dalam negeri, banyak lapangan kerja bisa dibuka bagi kaum muda yang sekarang menganggur.

Harapan pada Rouhani tidak terpenuhi

Selama pemilu presiden tahun 2013, pada puncak krisis program nuklir Iran, Hassan Rouhani menjanjikan solusi krisis dengan barat. Dalam hal ini, Presiden Rouhani memang berhasil mencapai kesepakatan dengan negara-negara barat, yang sangat penting bagi perkembangan ekonomi Iran. Namun dia tidak berhasil mengangkat kesejahteraan kebanyakan warga.

Alasannya bermacam-macam. Ekonomi Iran dimonopoli oleh negara dan sangat tidak efisien. Kesepakatan nuklir dengan negara-negara barat di dalam negeri ditentang oleh kalangan ultra konservatif, termasuk pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.

Ditambah lagi dengan kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat dan keengganan Eropa untuk meningkatkan kerjasama dengan Iran, semuanya menambah ketegangan internal di Iran, maupun di kawasan, dengan meruncingnya persaingan dengan Arab Saudi.

Kekecewaan meluas

Protes saat ini memang diawali dengan tuntutan ekonomis, namun dengan cepat berubah menjadi tuntutan politis. Warga pertama-tama memprotes kenaikan harga, sekarang mereka berdemonstrasi menentang pemerintahan Rouhani. Tidak hanya itu, seluruh sistem pemerintahan sekarang dipertanyakan. Banyak warga sudah kehilangan kepercayaan pada institusi negara. Itu juga salah satu alasan, mengapa aksi protes kemudian dibarengi dengan bentrokan dan kerusuhan.

Jadi, akar dari protes luas ini adalah kemiskinan, pengangguran luas dan runtuhnya kepercayaan pada institusi negara serta pemerintahan. Tapi, aksi protes ini baru berlangsung beberapa hari, dan terutama dilancarkan oleh kalangan miskin kota. Para politisi dan budayawan dari kalangan oposisi belum ikut serta. Sehingga aparat keamanan akan mampu meredamnya, terutama jika masyarakat kalangan atas tidak terlibat.

Ini bisa berarti, bahwa kalangan militer dan ultrakonservatif yang bakal menarik keuntungan. Mereka bisa memperkuat basis kekuasaannya. Sementara kekecewaan masyarakat kelas bawah, yang menuntut perubahan, setiap hari semakin besar.

*Karena penulis adalah warga Iran, yang bisa menjadi korban represi pemerintahnya, maka DW menggunakan nama pseudonim dan tidak memasang fotonya.