1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Walau Dikritk, Perancis Deportasi Etnis Roma

Kamis (19/08), Perancis memulangkan 79 warga etnis Roma ke negara asal mereka, Rumania. Pemerintah Sarkozy dikritik sebagai populisme sehubungan dengan tindakan keras yang dilakukan terhadap warga minoritas Roma ini.

default

Warga etnis Roma yang diusir dari pemukiman mereka terpaksa harus hidup di atas trotoar jalan

Pejabat berwenang menyatakan, ke 79 warga etnis Roma dipulangkan secara sukarela. Sebagai modal awal untuk membangun hidup baru di Rumania, mereka dibekali uang "bantuan kepulangan“ sebesar 300 Euro dan 100 Euro bagi anak-anak. Tapi tidak tertutup kemungkinan, beberapa dari mereka tidak lama lagi akan kembali ke Perancis. Ini dikarenakan, sebagai warga negara Uni Eropa, kaum Roma yang sebagaian besar berasal dari Rumania dan Bulgaria, diperbolehkan untuk bergerak bebas di wilayah Uni Eropa. Dan penjaga perbatasan di wilayah Schengen kini nyaris tidak ada lagi.

Datang Kembali ke Perancis

Untuk menyikapi kemungkinan ini, pemerintah Perancis telah mempersiapkan satu upaya, agar mereka yang kembali lagi ke Perancis tidak mendapatkan bantuan kepulangan untuk ke dua kalinya. "Dalam beberapa minggu, sistem biometris yang diberi nama Oscar akan diterapkan. Dengan sistem ini, kami dapat mencegah bantuan finansial diberikan kepada mereka yang kembali lagi, agar mereka tidak berulangkali kembali ke Perancis. Mereka ini tidak akan mendapatkan bantuan kemanusiaan lagi atau bantuan untuk kepulangan mereka," demikian dikatkan Menteri Imigrasi Eric Besson.

Akan tetapi, pemerintah Perancis masih belum memiliki satu upaya penanganan yang nyata untuk menghadapi kembalinya kaum Roma ini. Ini juga karena, setiap warga negara Uni Eropa boleh tinggal di Perancis paling lama 3 bulan. Baru setelahnya, mereka diharuskan untuk memiliki pekerjaan atau tempat kuliah atau dapat membuktikan bahwa mereka mampu untuk membiayai hidup mereka.

Kritikan Datang Terus

Para pengritik menganggap, aksi pengusiran ini merupakan manuver politik pemerintah Perancis. Seperti yang dikatakan David Assouline dari partai sosialis. "Saya pikir, pemerintah percaya, bahwa harus dilakukan tindakan radikal, jika berada dalam posisi yang jelek dalam jajak pendapat atau jika ingin memenangkan Pemilu. Dapat dikatakan, sepertinya mereka menunggu sesuatu akan terjadi, bahwa satu insiden terjadi, hanya untuk menempatkan diri lebih baik di mata para pemilih. Ini tidak bertanggungjawab, terutama jika dilakukan oleh mereka yang memerintah Perancis.“

Bukan partai kiri saja yang mengecam kebijakan pemerintah ini. Kini, banyak anggota partai milik Sarkozy UMP yang juga merasa marah dengan aksi pemerintah ini. Seperti Jean-Piere Grand, yang mengecam penggusuran pemukiman Roma secara paksa oleh petugas polisi. "Kita menyaksikan, bagaimana satu departemen mengirim satuan polisi bersenjata lengkap pada pukul 6 pagi untuk mengusir beberapa keluarga dari kediaman mereka. Kita menyaksikan, bagaimana mereka dipisahkan, laki-laki di sini dan perempuan di seberang jalan. Dan jika ada perempuan yang protes, dijawab dengan ancaman, anaknya akan dibawa. Ini bukan Republik Perancis!“

Akan tetapi walaupun kecaman dan kritikan terus datang, pemerintah Perancis tetap akan meneruskan aksi pembongkaran dan pengusiran kaum Roma ini. Sampai akhir bulan Agustus ini, Menteri Dalam Negeri Perancis Brice Hortefeux menargetkan, akan mendeportasi sekitar 700 warga Roma ke neagara asalnya. Debat publik mengenai hal ini dianggapnya berlebihan. Selain itu menurutnya, deportasi warga Rumania atau Bulgaria sudah berlangsung sejak bertahun-tahun lalu. Pada tahun 2009 saja, pemerintah Perancis telah memulangkan sekitar 10.000 orang kembali ke Rumania atau Bulgaria.

Daniela Junghans/Yuniman farid

Editor: Asril Ridwan

Laporan Pilihan