1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Vietnam: Reformasi Ekonomi atau Stagnasi

Vietnam terancam kena resesi ekonomi kecuali pemerintah dapat mereformasi sektor perbankan yang terlilit utang serta perusahaan negara yang kurang efisien. Donor-donor utama memberi peringatan.

Negara komunis tersebut - pernah disebut sebagai 'macan ekonomi' Asia - tengah mengalami tren perlambatan pertumbuhan ekonomi seraya bergulat dengan inflasi yang kembali menjulang, investasi asing yang terus merosot serta kekhawatiran akan pinjaman beracun.

"Perekonomian Vietnam semakin kehilangan dinamisme dan hambatan-hambatan struktural semakin menyekik sehingga menyeret tingkat daya saing dan pertumbuhan ekonomi," jelas direktur Bank Dunia untuk Vietnam, Victoria Kwakwa, pada sebuah pertemuan tahunan negara-negara donor.

"Vietnam juga berisiko masuk ke dalam jebakan pendapatan kelas menengah," tambah Kwakwa sembari mengangkat berkurangnya tingkat daya saing Vietnam di kawasan, menurut sebuah pernyataan yang dirilis Senin (11/12) lalu.

Seperti Indonesia, Vietnam harus menargetkan pendapatan kelas atas

Seperti Indonesia, Vietnam harus menargetkan pendapatan kelas atas

Angka-angka target berkurang

Hanoi hanya mengharapkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen pada tahun 2012 - laju terlambat dalam 13 tahun terakhir.

Dalam pertemuan di Hanoi hari Senin, yang dihadiri Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung, negara-negara donor menjanjikan 6,5 miliar Dolar untuk agenda pembangunan Vietnam pada tahun 2013.

Jumlah tersebut berkurang dari tawaran tahun-tahun sebelumnya - para donor menjanjikan 7,3 juta Dolar untuk tahun 2012 - namun tetap disambut baik oleh Vietnam.

Dua negara donor terbesar bagi Vietnam untuk tahun 2013 adalah Jepang yang menjanjikan 2,6 miliar Dolar, dan Uni Eropa yang menyediakan 963 juta Dolar.

Prasyarat dari donor-donor utama

Negara-negara donor terutama menekankan pentingnya mengatasi pinjaman-pinjaman negara yang bermasalah, meningkatkan tata usaha korporat pada perusahaan-perusahaan dan bank-bank yang dimiliki negara, serta memperbaiki tingkat transparansi dan pengungkapan pada sektor negara.

Setelah satu dekade mengalami liberalisasi perbankan yang begitu cepat dan berantakan, Vietnam kini memiliki 42 bank domestik. Kebanyakan dibebani pinjaman beracun dari perusahaan-perusahaan milik negara yang kurang efisien dan tidak dikelola dengan baik.

Tahun lalu, pemerintah Vietnam mengumumkan rencana restrukturisasi yang agresif namun implementasinya terus tertunda.

"Pada tahun 2013 dan selanjutnya, tantangan-tantangan berat harus dapat ditangani," tegas Sanjay Karla, wakil Dana Moneter Internasional (IMF) untuk Vietnam.

CP/ML (afp)