1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Uni Eropa Perlunak Pernyataannya mengenai Wilayah Palestina

Uni Eropa berhasil menghindari konflik dengan Israel. Hari Selasa, ke 27 menteri luar negeri Uni Eropa mengubah teks pernyataan mengenai wilayah Palestina dan status Yerusalem.

default

Menlu Jerman Guido westerwelle diapit rekannya dari Perancis Bernard Kouchner (kiri) dan dari Luxemburg Jean Asselborn ((kanan)

Dalam pernyataannya yang baru, menteri-menteri Uni Eropa tetap mendesak agar Israel dan Palestina kembali ke meja perundingan guna menegosiasi perdamaian. Dalam teks baru itu disebutkan, antara lain pentingnya pembentukan negara Palestina dan penetapan wilayah Palestina itu. Seperti dikatakan Menteri Luar Negeri Jerman, Guido Westerwelle: “Kami menginginkan perdamaian langgeng di Timur Tengah yang berdasarkan solusi dua negara yang adil, dan karenanya ingin agar perundingan secepat mungkin dilangsungkan, kami juga mendukung upaya-upaya internasional dan ingin menyumbangkan masukan dari Eropa yang khusus. “

Pada dasarnya teks pernyataan itu menunjukan keinginan Uni Eropa agar tidak berkonflik dengan Israel. Karena pada prinsipnya sangat jelas bahwa Tepi Barat dan jalur Gaza merupakan wilayah Palestina. Uni Eropa pun menyatakan bahwa menolak pendudukan kawasan Palestina yang dianeksasi Israel pada tahun 1967.

Yang menjadi perkara besar adalah status Yerusalem, terutama Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina. Tapi menuliskan ini bisa berarti bahwa kota Yerusalem akan di paruh menjadi dua. Hal yang ditolak keras oleh Israel. Terbukti dari kritik dan kecaman yang segera dilontarkan setelah rancangan awal pernyataan itu dipublikasikan.

Uni Eropa berusaha menghindari masalah pelik ini dan dengan sengaja tidak mengambil posisi lebih tegas dalam pernyataannya yang baru. Padahal, Swedia ingin agar Uni Eropa lebih tegas, dan menyatakan dukungannya bahwa Yerusalem Timur nanti dijadikan ibukota negara Palestina merdeka. Namun usulan Swedia ini ditolak banyak pihak, termasuk oleh Menlu Jerman Guido Westerwelle.

Westerwelle menyatakan bahwa dalam kunjungan ke Israel, ia sudah menyampaikan kritik mengenai kebijakan pemukiman Israel. Menurut dia, kini desakan terhadap Israel menjadi lebih besar untuk mengakhiri peluasan pemukiman di wilayah Palestina dan untuk kembali menegosiasi perdamaian dengan Palestina.

Uni Eropa memang tak mau berkonfrontasi dengan Israel. Hanya ada beberapa suara, misalnya Menteri Luar Negeri Luxembourg Jean Asselborn yang menuntut agar Uni Eropa bersikap lebih keras terhadap Israel dan menyampaikan tuntuntannya dengan jelas. Namun para petinggi Uni Eropa di Brussel, Belgia, menepis kritikan seperti itu.

Menteri Luar Negeri Swedia Carl Bildt menerangkan, posisi Uni Eropa pasti merupakan masukan khusus bagi proses perdamaian di Timur Tengah. Ia tambahkan, kini dengan satu suara Uni Eropa tetap mendorong Israel dan Palestina kembali ke meja perundingan untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah. Tampaknya Uni Eropa menyadari bahwa dalam masalah Timur Tengah, Amerika Serikat tetap merupakan negara yang paling berpengaruh.

Michael Götschenberg/Edith Koesoemawiria
Editor : Hendra Pasuhuk