1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Uni Eropa Bahas Politik Pengungsi

Lebih 190 mayat sudah ditemukan dari kapal pengungsi yang tenggelam dekat Pulau Lampedusa, Italia. Jumlah pengungsi yang meninggal bisa mencapai 300 orang.

Ketua Parlemen Eropa Martin Schulz mengeritik politik pengungsi yang dijalankan di Eropa selama ini. "Sangat menyedihkan, bahwa Uni Eropa membiarkan Italia sendirian mengatasi pengungsi dari Afrika," kata Schulz kepada harian "Bild". Seharusnya para pengungsi dibagikan secara adil ke negara anggota Uni Eropa. Jadi tidak ditampung hanya oleh Italia, yang semakin kewalahan.

"Itu artinya, Jerman juga harus menerima lebih banyak pengungsi", tandas Schulz. Ia menuntut agar Uni Eropa dalam pertemuan puncak yang berikutnya di Brussel membahas lagi tentang masalah pengungsi.

Anggota Parlemen Eropa Manfred Weber dari CSU juga menuntut kontribusi lebih besar dari Jerman. "Presiden Jerman sudah menuntut solidaritas yang lebih besar dari Eropa. Jadi Jerman harus menerima lebih banyak pengungsi." Ia menambahkan, tidak cukup hanya mengimbau. Yang perlu sekarang adalah langkah konkrit dari Jerman.

Jumlah korban bertambah

Menurut perkiraan pihak berwenang di Italia, kemungkinan sekitar 300 orang meninggal setelah kapal mereka tenggelam dekat Lampedusa hari Kamis (03/10). Kapal itu kemungkinan mengangkut 500 penumpang yang kebanyakan berasal dari Eritrea dan Somalia. Sekitar 200 mayat sampai saat ini sudah ditemukan. 155 orang berhasil diselamatkan dan masih ada sekitar 300 orang yang dinyatakan hilang. Mereka yang selamat bisa terkena sanksi sebagai pendatang gelap dan harus membayar denda sampai 5.000 Euro.

Menteri Bantuan Pembangunan Jerman Dirk Niebel mengatakan kepada harian "Bild", tragedi ini menunjukkan bahwa "Eropa perlu politik pengungsi dan migrasi yang diterapkan secara bersama-sama". Menteri Dalam Negeri Hans Peter Friedrich mengusulkan sanksi lebih keras bagi para penyelundup manusia. "Kita harus memerangi sindikat perdagangan manusia dengan lebih keras lagi", tegasnya.

Bahas politik pengungsi

Jurubicara urusan pengungsi Uni Eropa Michele Cercone menjelaskan, Uni Eropa tidak hanya berfokus pada upaya pencegahan pengungsi. "Kami juga harus membuka kemungkinan yang lebih besar bagi para pendatang untuk masuk ke Uni Eropa secara legal", katanya. Untuk itu, Uni Eropa harus punya kriteria-kriteria yang "ketat dan sangat jelas". Menurut Cercone, Eropa saat ini melihat migrasi hanya sebagai ancaman. Padahal Eropa perlu migran, karena penduduknya makin lama makin tua.

Ketua Parlemen Eropa Martin Schulz mengeritik kelambatan anggota Uni Eropa menerima pengungsi. "Ini adalah masalah bersama Uni Eropa, dan saya tidak bisa terima, kalau ada negara anggota mengatakan, mereka tidak punya tempat."

Parlemen Eropa mengusulkan untuk memberlakukan kebijakan khusus yang sudah ditetapkan tahun 2001. Dalam kebijakan itu disebutkan, jika ada arus pengungsi yang sangat besar ke satu negara, maka bisa ditetapkan kewajiban bagi anggota Uni Eropa yang lain untuk menerima kontingen pengungsi, demi meringankan beban negara itu.

Menurut aturan tahun 2001 itu, para pengungsi akan mendapat ijin tinggal sementara dan juga mendapat ijin kerja. Ini berbeda dengan status mereka saat ini. Para Menteri Dalam Negeri Uni Eropa akan mengadakan pertemuan khusus hari Selasa (08/10) untuk membahas masalah pengungsi.

hp/ab (dpa, rtr)

Laporan Pilihan