1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Ugly Dance atau Tarian Jelek

Trend terbaru di kota pelabuhan Jerman, Hamburg. Dalam Piala Dunia Tarian Jelek dicari penari-penari yang terbaik di dunia, yang dapat menunjukkan bahwa tarian ini bisa betul-betul jelek.

default

Salah seorang peserta Piala Dunia Tarian Jelek di Hamburg

Sebagai klab malam yang ingin tampil trendy, klab malam "Terrace Hill“ wajib menggelar apa yang disebut "Trash Party“. Artinya, klab malam itu akan memasang rangkaian musik yang selama lima belas tahun terakhir ini paling tidak disukai oleh masyarakat luas. Sementara para pengunjung klab akan sepanjang malam bergunjing tentang buruknya musik itu, sembari menari mengikuti irama musiknya.

Jangan tanya kenapa! Tapi tampaknya pesta-pesta seperti ini populer sekali. Mungkin karena musik yang dianggap buruk atau norak itu sebenarnya punya kenangan istimewa. Misalnya, si pengunjung pernah mendengar lagunya sewaktu masih kecil dan teringat pada teman pertama yang mereka taksir. Atau bisa juga teringat pada ciuman pertama.

Bertarung untuk Menjadi Yang Terjelek

Malam Minggu di Hamburg, klab malam Terrace Hill menggelar Trash Party yang super spesial. Dekorasi sudah disesuaikan. Dan di ruang besar semacam aula, yang disebut hall of trash atau bangsal sampah, sejumlah grup bersaing keras memperebutkan Ugly Dance World Cup atau Piala Dunia Tarian Jelek.

Empat orang pemuda sedang menari di panggung. Usianya sekitar 20 tahun. Mungkin kata tari tidak tepat untuk apa yang mereka lakukan, tapi memang mereka bergerak-gerak, meski tak selalu mengikuti ritme musik. Satu di antara mereka melompat-lompat ke sana-sini, sambil menggerak-gerakkan tangan seperti akan jatuh dari kapal. Yang satunya dengan gaya malu-malu menaruh tangannya di depan kemaluannya, persis seperti Michael Jackson dulu. Sedangkan yang ke tiga hanya berdiri saja di situ, kemudian mengeluarkan sebuah suling dan pura-pura memainkannya.

Tayangan di panggung ini bukan performance seni atau mungkin juga iya, begitu menurut organisator pesta ini, Florian Schüppel. "Ugly Dance adalah bentuk seninya jelek dalam sebuah tarian. Kami tidak mencari penari yang buruk, melainkan penari yang dapat menampilkan kejelekan melalui seni tarinya. Jadi sebenarnya kami mencari penari-penari yang terbaik di dunia, yang akan menunjukkan bahwa tarian ini bisa betul-betul jelek."

Menjadi Aneh Bukan Hal Yang Luar Biasa

Mencari perhatian di sebuah kota besar perlu upaya, karena tantangannya banyak sekali. Misalnya, banyak hal yang sudah ada dan sudah digemari orang, juga banyak hal yang dalam sekejap melejit populer dan dalam kejapan berikutnya menghilang lagi, sirna dan terlupakan untuk suatu saat muncul kembali dalam kemasan yang beda. Karenanya di kota besar, melakukan hal yang aneh bin menarik merupakan fenomena yang hampir normal. Bahkan bisa menjadi lucu dan bagus apabila membuka ruang bagi publik-nya untuk menggunakan kreativitas. Meski populasinya tak sampai 2 juta orang, Hamburg adalah kota ke dua terbesar di Jerman dan ke tujuh terbesar di Uni Eropa. Jadi lumrah saja, bila setiap trend terbaru kota itu memiliki pengikut yang cukup luas.

Keempat pemuda yang berada dipanggung klab malam Terrace Hill , menyebut dirinya grup Dezentiner. Mereka melakukan perjalanan 150 km untuk datang dari sebuah desa kecil di Niedersachsen bernama Steinfeld. Di Hamburg mereka ingin merebut Piala Dunia Tarian Jelek itu. Persiapannya tak sedikit. Lebih dari seminggu lamanya mereka merampungkan video clip yang digunakan untuk melamar sebagai peserta. Mereka merancang sebuah performance dan berlatih, kemudian merekam pertunjukan itu di video, lalu mengunduhkan karya itu di situs You Tube. Ternyata video mereka terpilih masuk dalam sepuluh besar yang harus tampil live di Hamburg.

Mendapatkan Tempat dalam Seni

Kriteria apa yang menentukan? Pementasan yang meraih paling banyak hujatan dan teriakan untuk turun dari panggung akan memenangkan titel yang diidamkan itu: Penari Terburuk di Dunia. Keempat pemuda itupun sudah memikirkan berbagai hal agar bisa memenangkan piala itu. “Kami tampil dengan gaya orang yang bisa dicap Looser, orang yang tak bakal sukses.. pakai kacamata besar, topi beannie warna-warni yang ada baling-baling plastiknya dan tali penahan supaya celana gombor ini tidak merosot,” dikatakan seorang anngota Dezentiner. Seorang lainnya menimpali, “Saya punya celana dari tahun 80-an, keren shick banget, dan kemeja yang ngepas untuk itu. Lingkup gaya kami itu total, mulai dari bentuk yang paling ekspresif sampai tarian yang sangat tenang ritmenya. Semuanya ada.“

Blo'on habis atau super kreatif? Pada lomba Ugly Dance World Cup yang penting menarik, bisa dinikmati semua orang. Tapi sedikit kreatifitas dan seni tentu penting juga, begitu kata penyelenggaranya Florian Schüppel. "Seninya itu lahir dari tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan, seperti yang terlihat pada tarian yang menggunakan aturan dan pakem yang seragam di seluruh dunia. Jadi berhadapan dengan situasi itu lalu kemudian mengatakan, ok.. di sini harus dimunculkan hal yang lain. Gerakan yang tak dikenal, yang di luar tempo, yang membenturkan gaya. Kemudian banyak tambahan lain, seperti gerakan-gerakan yang absurd, pakaian yang buruk. Percayalah, ruang geraknya sangat besar untuk mencitrakan kejelekan."

Pemikiran seperti ini sebenarnya bukan barang baru. 150 tahun lalu, filosof Karl Rosenkraz pernah menjabarkan Estetika Kejelekan. Menurut pemikir itu dulu, hal yang terjelek sekalipun harus mendapatkan tempat dalam seni dan cara memandang kesenian. Seruannya itu tampaknya terealisasi, paling tidak pada Piala Dunia Tarian Jelek di Hamburg ini.

Manfred Götzke/Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk