1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

UE Ingin Sebagai Mitra Rusia Dalam Proses Modernisasi

Hubungan Uni Eropa-Rusia hingga beberapa bulan lalu masih dingin. Pada KTT bilateral di Stockholm dilakukan pendekatan pertama. Langkah kedua berhasil dilaksanakan pada KTT bilateral di Rostov, Rusia, Selasa (01/06).

default

Presiden Rusia Dmitry Medvedev (kiri) dan Presiden Dewan UE Herman Van Rompuy

Tahun-tahun di bawah pemerintahan mantan presiden Rusia, Vladimir Putin merupakan era konfrontasi antara Uni Eropa dan Rusia. Pengganti Putin, Presiden Dmitry Medvedev berulang kali menyatakan tidak hanya akan melakukan reformasi dalam kebijakan perekonomian, tetapi juga dalam kebijakan politik masyarakat.

Uni Eropa memang masih belum melihat hasil dari pernyataan itu, namun mengetahui sepenuhnya apa arti dari perubahan kebijakan yang bersifat verbal itu, seperti yang diutarakan Presiden Dewan Uni Eropa Hermann Van Rompuy kepada presiden Rusia: "Rusia berada pada persimpangan jalan. Tujuan Presiden Medvedev untuk membangun proses modernisasi Rusia pada nilai-nilai demokratis abad ke-21 dengan membentuk sebuah perekonomian yang modern, beraneka ragam dan dinamis, dan dengan menggalakkan keterlibatan aktif masyarakat, adalah sebuah perkembangan yang berarti. Kami ingin menjadi mitra Rusia pada proses modernisasi ini."

Uni Eropa dan Rusia telah menyepakati peningkatan kerja sama, terutama pada saat krisis ini. Namun, pertemuan puncak ke-25 itu tidak menghasilkan sesuatu yang nyata. Misalnya, harapan Rusia juga tidak terkabul agar Uni Eropa menghapuskan kewajiban visa bagi warga negaranya yang ingin memasuki negara anggota Uni Eropa, padahal sejumlah negara dikawasan barat Balkan tidak lagi memerlukan visa UE.

Presiden Medvedev kelihatan kecewa, namun menunjukkan pengertian atas sikap UE itu: "Negara kami bersedia untuk menyelesaikan masalah yang tidak terletak pada pihak kami. Posisi kami tentunya lebih mudah karena kami hanya terdiri dari satu negara, sedangkan UE beranggotakan 27 negara. Agar kerja sama dalam bidang ini dapat dilaksanakan, kami telah mengajukan kepada mitra UE sebuah rencana proyek bebas visa bagi warga Rusia. Kami sangat mengharapkan bahwa UE mencermati dokumen ini dan kami dapat melakukan kemajuan dalam isu ini."

Tetapi sejumlah negara anggota UE khawatir bahwa pembebasan visa dapat menimbulkan penyalahgunaan secara besar-besaran. Kasus semacam ini juga pernah merupakan permasalahan di negara-negara dikawasan barat Balkan pada awal penghapusan visa UE. Karena itu, pembebasan visa bagi warga Rusia gelagatnya tidak akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

Van Rompuy juga tidak segan untuk menyinggung masalah-masalah tertentu. Di Rusia,memang telah tercatat kemajuan pada isu hak asasi manusia, tetapi Van Rompuy selanjutnya mengatakan: "Meskipun begitu, keadaan pembela HAM dan jurnalis di Rusia menimbulkan kekhawatiran besar bagi keseluruhan masyarakat Eropa, dan juga situasi hukum rimba, terutama di Chechnya dan wilayah lainnya di sebelah utara Kaukasus. Tetapi saya melihat bahwa Presiden Medvedev juga mengerti kecemasan ini."

Presiden Medvedev tidak mengomentari pernyataan itu, namun mendengarkan kritik tersebut dengan wajah yang tenang, juga ketika disinggung masalah proteksionisme atau sikap Rusia dalam isu Georgia.

Perubahan terpenting dalam hubungan antara UE dan Rusia tampaknya terletak pada keadaan yang santai dan tidak menegangkan. Upaya pendekatan sudah terlihat sejak KTT di Stockholm sebelumnya, namun pendekatan pada isu-isu tertentu masih belum tercapai.

Christoph Hasselbach/Christa Saloh

Editor: Asril Ridwan