1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

UE akan Larang Penerbangan ke Belarus Mulai Tengah Malam

4 Juni 2021

Sedikitnya ada 400 pesawat sipil terbang di langit Belarus setiap harinya, sekitar 100 penerbangan di antaranya dioperasikan oleh maskapai Uni Eropa atau Inggris.

https://p.dw.com/p/3uQjF
Ilustrasi pesawat Ryanair
Ilustrasi pesawat RyanairFoto: Zheng Huansong/ Xinhua News Agency/picture alliance

Duta besar negara-negara Uni Eropa (UE) pada Jumat (04/06) mengadopsi rencana melarang maskapai penerbangan Belarus untuk terbang di atas wilayah Uni Eropa atau mendarat di bandara di Uni Eropa, serta melarang maskapai Uni Eropa terbang di atas Belarus, demikian ujar tiga orang diplomat dari UE.

Keputusan itu merupakan bagian dari sanksi ekonomi yang lebih luas terhadap Belarus sebagai tanggapan atas tindakannya pada bulan lalu memaksa turun pesawat Ryanair yang membawa seorang jurnalis oposisi.

Rencananya keputusan itu akan mulai berlaku pada tengah malam Waktu Eropa Tengah (CET), kecuali ada penolakan pada menit-menit terakhir dari negara-negara Uni Eropa sebelum pukul 14.00 CET. Namun kemungkinan ini kecil, kata para diplomat.

Badan pengawas lalu lintas udara Eropa, Eurocontrol, mengatakan sedikitnya 400 pesawat sipil terbang di atas Belarus setiap harinya, termasuk sekitar 100 dioperasikan oleh maskapai Uni Eropa atau Inggris.

Lufthansa, SAS, Air France, LOT, Finnair dan airBaltic adalah beberapa maskapai yang telah mengumumkan akan berhenti terbang di atas Belarus.

Sementara maskapai nasional Belarus, Belavia, menjalankan penerbangan yang menghubungkan Belarus dengan sekitar 20 bandara di Eropa termasuk Helsinki, Amsterdam, Milan, Warsawa, Frankfurt, Berlin, Munich, Paris, Roma, dan Wina.

Penerapan larangan terbang akan berada di tangan pemerintah negara-negara Uni Eropa yang banyak di antaranya juga adalah anggota NATO dan dapat mengerahkan jet tempur untuk melindungi wilayah udara mereka dari pesawat yang tidak diinginkan.

Oposisi: perlu tindakan bersama tekan Lukashenko

Sementara pemimpin oposisi Belarus, Svetlana Tikhanovskaya, mengatakan bahwa Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa harus bertindak bersama untuk memberikan tekanan yang lebih besar pada Presiden Belarus Alexander Lukashenko dan pemerintahannya.

Tikhanovskaya berkomentar selama kunjungannya ke Warsawa, Polandia, menjelang pertemuan puncak negara-negara G7 di Inggris minggu depan. Tikhanovskaya berharap masalah yang diangkat oleh oposisi Belarus ini akan dibahas dalam pertemuan ini.

Belarus telah menyita perhatian internasional sejak pada bulan lalu memaksa dihentikannya penerbangan Ryanair saat berada di atas wilayah udaranya dan menangkap seorang jurnalis vokal.

"Tekanan akan lebih kuat saat negara-negara ini bertindak bersama dan kami berseru kepada Inggris, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Ukraina. Mereka harus bertindak bersama sehingga suara mereka akan lebih keras," ujar Tikhanovskaya.

Akan dibahas dalam G7

Prancis mengatakan akan mengundang oposisi Belarus tersebut ke KTT G7, jika negara tuan rumah Inggris menyetujuinya. Namun Inggris mengatakan tidak punya rencana untuk mengundang lebih banyak delegasi, tetapi masalah Belarus akan dibahas di sana.

Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa telah memberlakukan larangan dan pembekuan aset kepada sejumlah pejabat Belarus setelah berlangsungnya pemilihan umum pada tahun lalu yang menurut pihak oposisi telah dicurangi.

Namun sejak insiden Ryanair, negara-negara Barat menganjurkan maskapai penerbangan mereka untuk tidak terbang di wilayah udara Belarus. Mereka juga mengatakan akan mengambil langkah lain seperti melarang maskapai Belarus dan menambahkan lebih banyak nama ke dalam daftar hitam.

Beberapa tokoh oposisi menyerukan langkah-langkah yang lebih kuat yang akan berdampak pada ekonomi Belarus secara keseluruhan, seperti pembatasan impor mineral atau minyak dari Belarus.

ae/hp (Reuters)