1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Turki Kecewa dengan Keputusan Bebas Visa bagi Warga Balkan Barat

Warga Balkan Barat, kecuali Kosovo, bebas bepergian memasuki wilayah Uni Eropa tanpa visa. Untuk banyak warga Turki, keputusan ini memperlihatkan bukti lain akan kepalsuan yang ditunjukkan Brussel.

default

Gambar simbol Turki dan Uni Eropa

"Semua boleh pergi ke Uni Eropa, hanya kita yang tidak!", demikian bunyi kepala berita koran Turki "Haber Turk", edisi Senin (08/11). Latar belakangnya, para menteri dalam negeri Uni Eropa memutuskan, semua warga Bosnia-Herzegovina dan Albania dapat memasuki wilayah Schengen tanpa visa, cukup berbekal paspor. Banyak warga Turki menganggap hal ini sebagai penghinaan, karena mereka masih tetap harus mengantri, menghabiskan waktu dan uang untuk memperoleh ijin berkunjung ke Eropa.

Meskipun sudah lima tahun Uni Eropa secara resmi melakukan perundingan keanggotaan dengan Turki. Seorang pengusaha Istanbul menceritakan proses untuk mendapat visa bagi wilayah Uni Eropa, "Prosesnya seperti terus menerus diperpanjang. Petugas dan meja silih berganti. Capek. Saya tidak yakin Uni Eropa akan menerima Turki sebagai anggota. Terus terang, bagi saya Uni Eropa seperti sebuah kelompok Kristen. Tapi kami adalah negara yang mayoritas rakyatnya Muslim, dan saya tidak yakin Uni Eropa akan menerima kami. Kemungkinannya nol."

Hasil jajak pendapat yang digelar di Turki musim panas lalu menyebutkan, hanya hampir 40% warga Turki mendukung masuknya Turki sebagai anggota Uni eropa. Sisanya, hampir 60%, tidak menentang masuknya Turki dalam UE, tetapi mereka menilai meyakini hal itu akan terjadi hanya membuang-buang energi.

Saat Turki lima tahun silam resmi menjadi calon anggota Uni Eropa, situasi di negara itu sangat mencolok pro-Eropa. Di banyak tempat di Turki, bendera Uni Eropa dikibarkan karena simpati, di radio diputar iklan yang menyertakan himne Eropa. Tetapi, masih ada juga warga yang sampai sekarang masih yang mengalami euforia Eropa. Misalnya warga kota Istanbul, yang mengatakan, "Saya ingin sekali kami masuk Uni Eropa. Tapi saya lihat peluangnya kecil bagi Turki. Keanggotaan Uni Eropa akan sangat bagus bagi kami. Bagi hidup yang lebih sejahtera, masa depan yang lebih baik untuk anak-anak kami, jaminan sosial yang lebih baik. Turki amsih sangat kurang dalam hal ini. Orang yang sudah 10 tahun bekerja bisa dipecat begitu saja. Saya betul-betul mengharapkan keanggotaan Uni Eropa bagi Turki!“

Steffen Wurzel/Renata Permadi

Editor: Yuniman Farid

Laporan Pilihan