1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Tuareg di Niger Tidak Ingin Perang Lagi

Bettina Rühl11 Desember 2012

Dua kali pemberontakan bersenjata dilakukan suku Tuareg di Niger. Kini walaupun kondisi kehidupan mereka belumlah membaik, warga Tuareg tidak berniat lagi untuk mencari solusi lewat aksi militer.

https://p.dw.com/p/16zrx
Foto: Bettina Rühl

Tanah masih sulit dicangkul dan berlumpur, menempel pada cangkul yang digunakan Mohammed Kouda untuk menggemburkan tanah. Ia dan saudaranya, Kola, tengah membersihkan ladang yang hancur akibat banjir. Dua bersaudara ini merupakan anggota suku Tuareg dan tinggal di desa Iferouane, di pegunungan Aïr di utara Niger. Jika hujan kembali turun, seluruh tanaman akan musnah, demikian kekhawatiran Kouda. Dan ini bukanlah yang pertama kali: akibat perubahan iklim, kekeringan dan banjir datang bergantian. Jika ini terus berlangsung maka seluruh panen akan hancur.

Niger Tuareg Friedensforum
Mantan pemberontak Mohammed KoudaFoto: Bettina Rühl

Memutuskan untuk menjadi petani bukanlah hal yang mudah, terutama bagi Mohammed Kouda. Pria berusai 40 tahun ini telah turut bertempur dalam dua pemberontakan suku Tuareg di Niger. Setelah gencatan senjata pada tahun 2009, Kouda menyerahkan Kalashnikov miliknya. Kepada sekitar 4.000 pemberontak Tuareg, pemerintah menjanjikan masa depan yang damai. Namun itu hanyalah janji kosong, dikatakan Kouda. “Kami tidak mendapatkan apa-apa.“ Setidaknya ia memiliki ladang. “90 persen mantan pejuang Tuareg tidak memiliki apa-apa. Kami berusaha untuk bertahan, tapi ini tidaklah mudah.“

Takut Api dari Negara Tetangga

Walaupun tidak merasa puas dengan kondisi saat ini, para pemberontak Tuareg tidak berniat untuk kembali melakukan pemberontakan bersenjata. Tidak mengubah apapun, dikatakan Kouda, hanya menyengsarakan rakyat. Saat ini, para mantan pejuang Tuareg merasa takut, bahwa juga di Niger akan terjadi kekerasan bersenjata. “Ini bahaya yang nyata,“ diperingatkannya. “Karena Niger dikelilingi oleh negara-negara yang secara politis tidak stabil.“ Kouda menyebutkan negara-negara yang dimaksud: Libya di utara, Mali di Barat, Nigeria dengan Boko Haram nya di selatan.

“Ini tentu saja berpengaruh pada situasi di negara kami.“ Sejak tumbangnya rezim Muamar Gadaffi di kawasan ini beredar banyak senjata. “Sangat mudah untuk mendapatkan senjata,“ dikatakan Kouda. Seharusnya pemerintah Niger sekarang mewaspadai bahaya ini, ungkap Kouda. “Karena di negara kami terdapat warga muda yang tidak memiliki pekerjaan, namun mahir menggunakan senjata. Sejauh ini pemerintah belum berbuat apa-apa bagi mereka.“

Niger Tuareg Friedensforum
Kaum perempuan Tuareg di Forum Perdamaian di IferouaneFoto: Bettina Rühl

Memberi Penerangan bukannya Menghasut

Di Iferouane, bersama dengan warga lain Kouda berkumpul di alun-alun desa yang berdebu. Dari pengeras suara terdengar campuran musik tradisonal dan modern. Para warga datang atas undangan organisasi bantuan Niger HED Tamat untuk menghadiri pertemuan yang dinamakan “Forum bagi Perdamaian dan Pembangunan“.

HED Tamat mengorganisasikan forum seperti ini di 11 pemukiman besar Tuareg di utara Niger. “Kami mendapatkan gagasan forum perdamaian ini, karena kami tidak ingin pemberontakan Tuareg lagi, seperti yang terjadi di Niger tahun 2007,“ dikatakan Mano Aghali, pemimpin HED Tamat. “Dengan acara ini kami harap dapat mencegah pemberontakan lain.“

Niger Tuareg Friedensforum
Mano AghaliFoto: Bettina Rühl

Aghali turut bertempur saat pemberontaakan Tuareg pertama pada tahun 1990-an. Ia pernah menjadi anggota sayap politik pemberontak. Kemudian ia kuliah ekonomi, terjun ke politik dan pernah menjadi anggota parlemen selama beberapa tahun. Aghali tidak melibatkan diri, saat suku Tuareg pada tahun 2007 kembali melakukan pemberontakan. Sekarang ia percaya pada solusi politik, bukan solusi militer.

Di atas mimbar forum perdamian di Iferouane Rhizza Ag Boula tengah menyampaikan pidato. Ia turut bertempur pada kedua pemberontakan Tuareg. Sekarang ia merupakan penasehat Presiden Niger Mahmadou Issoufou. Rhizza memperingatkan para pemuda desa dari pengaruh kelompok Islamis di negara tetangga Mali. “Hindarkan bentuk petualangan apapun,“ dikatakan Rhizza. “Bahkan jika kelompok Islamis menjanjikan kalian uang, namun nantinya mereka menguasai kalian dengan kekerasan.“

Warga yang berkumpul menyimak pidato dengan penuh perhatian. Mantan pemberontak Mohammed Kouda dan banyak mantan seperjuangannya sudah sejak lama memahami pesan yang disampaikan: mereka akan melakukan segala upaya agar Niger tidak kembali terjerumus pada peperangan.