1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Trump Tak Sabar Lagi Ingin Bertemu Dengan Putin

Presiden AS Donald Trump sudah ingin sekali bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam KTT G20 di Jerman. Namun tidak semua anggota pemerintahan AS senang dengan langkah itu.

Sebagian pejabat pemerintahan Amerika Serikat percaya bahwa AS perlu menjaga jarak dari Rusia, terutama pada saat ini, ketika Presiden Donald Trump sedang menjalani pemeriksaan tentang hubungan tim kampanyenya dengan pejabat-pejabat tinggi Rusia.

Tapi Presiden Trump justru ingin mengadakan pertemuan bilateral penuh dengan Putin dan sudah meminta akses media dan semua protokol khas yang terkait dengan sesi semacam itu. Padahal pejabat di Departemen Luar Negeri dan Dewan Keamanan Nasional telah meminta Trump untuk lebih menahan diri dalam relasinya dengan Rusia.

Beberapa penasehat merekomendasikan agar Trump cukup melakukan sekedar pertemuan "pull-aside" yang cepat dan informal di sela-sela KTT G20 dekat Hamburg awal Juli mendatang. Pertemuan AS-Rusia cukup dilakukan tingkat delegasi, yang biasanya tidak melibatkan presiden, kata seorang pejabat kementerian luar negeri yang tidak ingin disebut namanya kepada kantor berita AFP.

Presiden Trump ingin mengembangkan hubungan kerja dengan Rusia untuk menggalakkan hubungan ekonomi, meskipun ada investigasi yang sedang berlangsung.

Juru bicara Putin Dmitry Peskov ketika ditanya wartawan soal itu mengatakan di Moskow hari Senin (26/6) bahwa "sisi protokolnya bersifat sekunder." Kedua pemimpin akan menghadiri acara yang sama di lokasi dan pada waktu yang sama, kata Peskov. Jadi "dalam hal apapun akan ada kesempatan untuk bertemu."

Russland TV Der direkte Draht zu Putin (picture-alliance/dpa/Sputnik/M. Klimentyev)

Presiden Rusia Vladimir Putin tampil di TV-Show Rusia dalam acara dialog dengan publik, Juni 2017

Kalangan pengamat berpendapat, memang ada potensi keuntungan dari pertemuan dengan Putin. Tatap muka dapat membuat kedua belah pihak saling kenal dan bisa berpotensi menghilangkan kecurigaan berlebihan yang sering muncul dalam komunikasi impersonal, misalnya hanya lewat telepon.

Trump memang sebelumnya beberapa kali menyatakan bahwa dia bisa memperbaiki kerenggangan AS-Rusia yang muncul selama era Presiden Obama, terutama mengenai isu-isu seperti konflik Suriah yang sedang berlangsung.

Tapi kalangan pengamat juga menyatakan ada banyak resiko. Sebab Trump dikenal sering mengabaikan protokoler dan melakukan hal-hal yang tidak lumrah dalam diplomasi tingkat tinggi. Misalnya dalam sebuah pertemuan singkat di Oval Office dengan pejabat tinggi Rusia bulan lalu, Trump tiba-tiba mengungkapkan informasi yang sangat rahasia tentang adanya ancaman kelompok teror ISIS terhadap sebuah maskapai penerbangan. Trump menyatakan, informasi itu didapatnya dari pemerintah Israel.

USA Mural Putin Trump in Brooklyn (Getty Images/S. Platt)

Karikatur dinding di Brooklyn, New York, tentang kedekatan Putin dan Trump

Beberapa kalangan juga memperingatkan Presiden Trump, bahwa Putin tidak bisa dipercaya.

Oleg Kalugin, mantan jenderal yang pernah bertugas untuk dinas rahasia Rusia KGB mengatakan, Putin adalah seorang politisi yang cerdik dan berpengalaman, yang punya "prioritas lain" dalam pertemuan dengan Trump. Putin ingin agar sanksi AS terhadap Rusia dicabut dan harga minyak ditingkatkan.

"Putin tahu bagaimana cara mengalihkan pembicaraan demi keuntungannya," kata Kalugin.

Nina Khrushcheva, profesor urusan Rusia di New School mengatakan, posisi Trump memang sulit.

"Dia tidak bisa terlalu baik kepada Putin, karena akan ditafsirkan seakan-akan dia memiliki hubungan khusus dengan Rusia," katanya. "Dia tidak bisa terlalu serius, karena Putin punya banyak pengaruh dan cara berpikir KGB. Tapi Trump perlu memenuhi janji kampanyenya untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan Rusia."

Gedung Putih mengatakan, belum ada keputusan akhir mengenai bentuk pertemuan antara Trump dan Putin di G20 di Jerman. Pertemuan bilateral AS-Rusia yang terakhir adalah tahun 2015 antara Putin dan Obama.

hp/ml (afp, ap, dpa)

 

Laporan Pilihan