1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tribunal Khmer Merah, Peringatan Bagi Korut & ISIS

Tribunal Kamboja yang didukung PBB mengukuhkan hukuman penjara seumur hidup bagi dua petinggi Khmer Merah, Nuon Chea dan Khieu Samphan. Ini bisa menjadi pelajaran bagi pelanggar HAM di negara lain, tandas PBB.

Tonton video 01:22

Mahkamah Kukuhkan Penjara Seumur Hidup Petinggi Khmer Merah

Hukuman seumur hidup yang dijatuhkan kepada dua mantan pemimpin Khmer Merah harus menjadi peringatan untuk pelanggar hak asasi lainnya, termasuk di Korea Utara, Filipina dan ISIS, demikian disampaikan Perserikatan Bangsa-bangsa, hari Rabu (23/11).

Tribunal yang didukung PBB di Kamboja menolak banding terhadap hukuman seumur hidup penjara dijatuhkan kepada Nuon Chea (90 tahun) dan Khieu Samphan (85 tahun). Keduanya adalah pemimpin senior rezim yang bertanggung jawab atas kematian hingga dua juta orang di Kamboja dalam kurun waktu tahun 1975-1979. "Perpanjangan tangan keadilan internasional akhirnya menang," ujar David Scheffer, utusan Sekretaris Jenderal PBB di tribunal,  kepada wartawan setelah putusan.

Tokoh senior Khmer Merah: Nuon Chea

Tokoh senior Khmer Merah: Nuon Chea

Pelajaran bagi negara atau kelompok lain

"Pemimpin senior bertanggung jawab untukaksi  kejahatan kekejaman di bawah kepemimpinan mereka, itu akhirnya benar-benar  terjadi," tambahnya. Dia kemudian menyebutkan sejumlah negara tertentu di mana para pemimpin negaranya  harus "mencatat  apa yang terjadi saat ini". Negara-negara yang dimaksud antara lain: Filipina, Sudan Selatan, Sudan, Republik Afrika Tengah, Suriah dan Korea Utara. Dia juga menyebut ISIS, yang dianggap telah melakukan kekejaman secara  meluas di sejumlah bagian negara Irak dan Suriah."Apa yang terjadi hari ini di ruang sidang ini akhirnya dapat mencapai kewenangan mereka karena keadilan internasional tidak menyerah," ungkapnya lebih lanjut.

Pengadilan memutuskan kedua petinggi Khmer Merah ini  bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan, pembunuhan, penganiayaan atas dasar politik dan tindakan tidak manusiawi lainnya saat Khmer merah berkuasa. Chea atau  " kakak kedua” dan Samphan, yang pernah menjadi presiden Kamboja sudah dijatuhi hukuman seumur hidup Agustus tahun 2014.

Kekejaman Rezim Khmer Merah terbongkar dimana mereka telah menewaskan sejumlah besar warga dan meninggalkan bekas luka pada generasi mendatang.   Beberapa pengamat telah  membandingkan Khmer Merah dengan ISIS yang dalam revolusinya untuk mewujudkan cita-cita telah melakukan kebiadaban.

Tokoh senior Khmer Merah, Khieu Samphan

Tokoh senior Khmer Merah, Khieu Samphan

Pemimpin gerakan Pol Pot meninggal pada tahun 1998, dan pemerintah kuat Kamboja Hun Sen telah menjadi semakin berhati-hati dalam menuntut kader Khmer Merah di tingkat yang lebih rendah.

Korban selamat merasa lega

Pengacara Nuon Chea mengatakan dia tidak bisa memahami keputusan pengadilan. Pengacara terpidana Nuon Chea, Victor Cope memaparkan: "Itu adalah sesuatu yang saya tidak bisa jelaskan kepadanya. Bukan berarti itu karena ia berusia 90 tahun dan Anda tahu dia akan hanya memiliki waktu yang singkat. Jadi secara material mungkin itu tak jadi kepedulian,  tetapi jika kami sudah menjaminkan begitu banyak hal saat banding, maka mengapa masih dijatuhkan hukuman seumur hidup?"

Di lain pihak, Chum Mey, yang selamat dari rezim Khmer Merah mengatakan: "Saya puas dengan putusan ini sekarang. Di masa lalu, saya khawatir bahwa pengadilan ini tidak bisa melaksanakan sidang kasus terhadap Nuon Chea dan Khieu Samphan karena mereka semakin tua dan mereka bisa meninggal sebelum sidang selesai, seperti terdakwa lainnya, Leng Sary yang meninggal tanpa diadili. Sekarang pengadilan telah menyelesaikan prosedur hukuman terhadap mereka, jadi saya sangat senang. "

Sebelumnya, upaya banding atas hukuman penjara seumur hidup yang diajukan Kaing Guek Eav juga ditolak. Kaing Guek Eav, alias "Duch", merupakan kepala penjara Tuol Sleng yang fenomenal, di mana sebanyak 14.000 orang disiksa dan dieksekusi.

ap/hp (ebu/aptn/rtrtv/afp)

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait