1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Info Jerman

Tren Berlin di Israel

Berlin adalah kota dambaan bagi banyak pemuda Israel: Kota kultur, seni, kebebasan dan kesenangan. Meski masa lalu- peristiwa Holocaust tak terlupakan, tapi hari inilah yang lebih penting.

Poster-poster menarik tergantung dimana- mana. Poster-poster ini menarik orang -orang Israel untuk datang berkunjung ke “Berlin Dayz“. Sebuah festival yang digelar oleh Goethe Institut Tel Aviv dengan tema “Berlin“. Festival besar yang persiapannya memakan waktu satu tahun ini berlangsung mulai 3 Oktober hingga 8 November.

Seperti Saudara: Berlin-Tel Aviv

Nyatanya semua hal menyangkut kota metropolitan “Berlin“ sedang jadi trend di Israel. Terutama bagi kaum muda. Semua orang membicarakan tempat-tempat yang ada di Berlin seperti Friedrichshain atau Prenzlauer Berg. Seolah-olah tempat itu dekat saja.

Saat ini, secara resmi terdapat sekitar 18.000 orang Israel di Berlin. Jumlah yang akan terus naik. Seperti halnya jumlah pengunjung Israel ke Berlin yang naik sekitar 23 persen tahun lalu. Tak hanya pengunjung, minat terhadap bahasa Jerman juga terus meningkat. Kursus bahasa Jerman di Goethe institut Tel Aviv maupun Jerusalem selalu saja laris dipesan.

Penyebab antusiasme ini bermacam-macam. Berlin dan Tel Aviv sudah seperti saudara. Di Berlin atau Tel Aviv para pemikir kritis dan orang-orang kreativ merasa seperti berada di rumah. Di sini ada ruang untuk angan-angan ataupun ide-ide bisnis briliant. Ada getaran dan dinamika yang sama, jelas Juval seorang pengunjung festival ini.

Berlin Simbol Kebebasan

Sekolah, wajib militer, kawin muda dan segera punya anak. Ditambah lagi rutinitas harian yang ketat diatur oleh agama, yang hampir tak mungkin dihindari walau Israel adalah negara sekuler. Kritik atau ide-ide yang tak sejalan dengan adat dan tradisi akan sangat sulit dilontarkan.

Sepintas lalu hal itu bisa saja dianggap barang sepele. Tapi itu adalah beban bagi orang-orang Israel. Banyak yang ingin lari dari tuntutan ini. Dan Berlin adalah tempat, di mana mereka bisa melepaskan beban itu.

Auftaktveranstaltung zu den Berlin Dayz mit mehr als 100 kulturellen Veranstaltungen, die das Goethe-Institut organsiert, Oktober 2013: Copyright: Goethe-Institut Tel Aviv/Felix Rettberg

Theater Habima di Tel Aviv yang Digunakan Sebagai Tempat Festival "Berlin Dayz"

Itulah sebabnya mengapa para seniman Israel serasa telah menemukan tempat di Berlin. Lambat laun tak hanya seniman, tapi juga kaum akademis Israel yang datang ke Berlin. “Kebebasan adalah hal yang paling luar biasa di Berlin“ kata Tal Shamia seorang ilmuwan muda Israel yang sejak tahun 2001 secara rutin datang berkunjung ke Berlin.

Holocaust Bagian Tak Terpisahkan

Banyak di antara orang-orang Israel yang datang ke Berlin merupakan cucu dan cicit korban pembantaian warga Yahudi Eropa yang dilakukan Nazi, atau Holocaust, yang selamat. Di era 90-an, Holocaust jadi alasan utama mayoritas warga Israel menolak datang ke Jerman.

Kini, hal itu telah berubah. Orang mencari pendekatan terhadap masa lalu dengan sudut pandang berbeda. Holocaust tak lagi dipisahkan melainkan bagian dari hubungan Jerman-Israel.

“Kedua negara sama-sama punya tugas pembaharuan,“ kata Tal Shamia. Ia punya kesan bahwa orang-orang telah berusaha untuk saling mengerti dan membedakan antara masa kini dan sejarah. Lebih dalam Tal Shamia memandang Berlin seperti apa yang ada sekarang, sebagai kota yang bebas dengan masyarakat yang terbuka.

Meninggalkan Israel?

Tanggapan itu bagi Heike Friesel, pemimpin Goethe Institut di Israel, ibaratnya medali dengan dua sisi. Peristiwa Holocaust sama sekali tak boleh dihilangkan dari sejarah Israel. Di sisi lain, wanita berusia 52 tahun itu mengatakan, “Semakin sedikit generasi muda yang mendapat pengetahuan mendalam soal Holocaust.“ Pengetahuan mereka hanya terbatas slogan.

Akan tetapi hal ini sering dimanfaatkan oleh politisi Israel menjadi isu politik. Seperti kritik yang dilontarkan oleh mentri keuangan Israel pada warga Israel di Berlin, yang nampaknya telah siap "membuang" Israel, tanah satu satunya milik bangsa Yahudi, karena bisa hidup lebih nyaman di Berlin.

Meski demikian kritik ini dibantah oleh Tal Shamia, dengan mengatakan Friesel tidak tahu apa yang sedang ia omongkan. Shamia melanjutkan, “Jika sebuah negara tak bisa memberikan apa yang saya butuhkan, lalu untuk apa saya hidup disana?“

Laporan Pilihan