1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Tren Akses Terbuka bagi Riset Sains

Semakin banyak peneliti yang mempublikasikan hasil riset mereka di dunia maya. Alhasil semakin mudah untuk mengaitkan pengetahuan baru. Sebuah platform dari Berlin, ScienceOpen, ikut terjun.

Pakar sejarah sains Jürgen Renn telah lama menjadi advokat akses terbuka.

Renn, yang menjabat sebagai direktur sejarah sains di Institut Max Planck, mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mencapai terobosan wawasan adalah melalui pertukaran ide antar ilmuwan - dimanapun di dunia.

Akses yang lebih terbuka dapat membantu ilmuwan menghindari kesalahan yang sudah dilakukan peneliti lain

Akses yang lebih terbuka dapat membantu ilmuwan menghindari kesalahan yang sudah dilakukan peneliti lain

"Tidak boleh ada batasan yang menghambat akses seseorang ke artikel ilmiah," kata Renn. "Kita harus bisa berselancar secara bebas dalam pengetahuan!"

Menurutnya semua tergantung "kemudahan mengakses dan menautkan."

Semakin cepat semakin baik

Direktur ScienceOpen, Stephanie Dawson, paham betul sisi tradisional dunia penerbitan ilmiah. Ia menghabiskan 12 tahun sebagai penerbit terpercaya dan bertanggung jawab atas artikel-artikel biologi dan kimia dalam jurnal dan buku. Dari situlah ia belajar standar kontrol kualitas editorial yang tinggi.

Hasil riset ilmiah dapat melewati proses peninjauan ekstensif, yang bisa memakan waktu 6 bulan, sebelum sebuah artikel bisa diterbitkan. Ilmuwan kehilangan waktu - dan sains pun merugi. Internet mempercepat segalanya.

"Editor kami tetap mengecek artikel untuk memastikan memang ilmiah. Namun setelah itu kami bergantung pada kekuatan internet," ungkap Dawson. "Kami mengundang anggota komunitas ilmiah untuk menulis ulasan mereka."

Menurutnya ini lebih transparan ketimbang praktek tradisional di mana "satu atau dua pakar diam-diam memberi persetujuan dan setelah publikasi tidak pernah ada diskusi lebih lanjut terkait kualitas riset."

Metode ScienceOpen akan memungkinkan pengoreksian kesalahan bahkan bertahun-tahun setelah publikasi.

Pra-seleksi

Satu poin perbedaan lainnya adalah pra-seleksi.

Penerbit tradisional kerap membela kerja mereka dengan alasan mereka susah payah memilih studi yang mereka yakini memiliki relevansi terbesar.

Namun Dawson menampik hal ini dengan mengatakan, "Google saat ini adalah mesin pencari paling populer untuk sains - ini cara kerja sains zaman sekarang."

ResearchGate, satu lagi platform sosmed bagi periset yang turut mendukung akses terbuka

ResearchGate, satu lagi platform sosmed bagi periset yang turut mendukung akses terbuka

Dan itulah mengapa platform yang memungkinkan peneliti untuk bertukar riset dan membangun jaringan semakin mudah dijumpai.

"Sebenarnya bukanlah penerbit yang memilih riset terbaik," jelas Jürgen Renn. "Namun sains itu sendiri. Ledakan publikasi sudah terjadi jauh sebelum digitalisasi datang, namun sekarang struktur baru mulai muncul."

Proses seleksi pun menjadi semakin transparan dan oleh karena itu semakin obyektif.

Prinsip dasar internet

Dawson mengatakan biaya untuk menerbitkan artikel melalui ScienceOpen adalah 600 Euro, termasuk seluruh biaya editorial.

"Kami ingin menghasilkan produk berkualitas, tapi kami juga ingin menjauhkan diri dari majalah internet, yang meminta bayaran 5.000-6.000 Euro untuk sebuah artikel akses terbuka," ujar Dawson. Model bayaran semacam ini, menurutnya, tidak cocok untuk komunitas ilmiah.

ScienceOpen dapat diakses secara gratis, termasuk fitur lainnya dalam situs, seperti Workspace. Meski sebelum mengakses Workspace, pengguna harus terlebih dahulu meregistrasi diri. Namun begitu masuk, pengguna dapat berkolaborasi dengan pemakai lainnya untuk membuat sebuah artikel atau makalah bersama.

Platform ini diluncurkan dengan tawaran lebih dari satu juta makalah. Dan ini hanya dengan 12 staf editorial - enam di Berlin dan enam di Boston.

Mereka memanfaatkan prinsip dasar internet - dan bergabung dengan platform lain seperti ResearchGate.

Laporan Pilihan