1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tingkatkan Sanksi Bukannya Serangan Militer

Serangan militer kepada Iran bukan opsi yang tepat. Masyarakat Internasional harus tingkatkan tekanan terhadap rezim di Teheran.

default

Para pimpinan politik di Israel dan Amerika Serikat, sudah menyepakati tafsiran dari laporan Badan Energi Atom Internasional-IAEA mengenai program atom Iran, sebelum laporannya dipublikasikan. Indikasi terbaru dari aktivitas atom Iran, merupakan bukti yang tidak dapat dibantah, bahwa Teheran berusaha secepat mungkin untuk memiliki senjata atom. Dalam prakteknya, laporan IAEA itu, untuk pertama kalinya menyodorkan setumpuk fakta, yang dalam kesimpulannya tidak memberikan ruang bagi tafsiran lainnya. Para ilmuwan Iran, paling tidak hingga beberapa saat lalu, bekerja secara kontinu untuk menguasai teknologi atom. Dimana kemungkinan penggunaannya, baik untuk tujuan damai, maupun untuk kepentingan militer, kini terletak pada sikap ambivalen Iran.

Rezim para mullah di Teheran, membuka semua opsi pemanfaatan energi atom. Dan secara diam-diam bekerja dengan bantuan ilmuwan asing, seperti yang diungkapkan laporan IAEA, untuk juga mengembangkan komponen bagi kegunaan militer, seperti hulu ledak nuklir serta mekanisme sumbu peledaknya.

Sementara ini bahkan semakin kentara, bahwa Iran secara menyeluruh sudah memiliki kemampuan untuk menentukan pilihannya. Dalam kasus tidak menguntungkan, Teheran dapat menetapkan pilihan, untuk membuat bom atom hanya dalam waktu beberapa minggu. Karena itu, tidak dapat disangkal lagi, terdapat ancaman bagi Israel dan bagi perdamaian dunia. Dan itu bahkan langsung di depan pintu gerbang Eropa. Jadi apa yang harus dilakukan? 

DW Deutsches Programm Daniel Scheschkewitz

Iran harus diberi opsi jalan keluar dari spiral sanksi internasional, demikian komentar redaktur DW, Daniel Scheschkewitz .

Jalan diplomatis sudah diupayakan selama bertahun-tahun, namun tidak berhasil menggerakkan Iran untuk membatalkan niatnya membuat senjata atom. Kini, menimbang ancaman serangan militer Israel terhadap Iran, para diplomat kembali ditantang melanjutkan tugasnya.

Sebuah serangan militer untuk menentang program atom Iran, sejauh ini tetap bukan merupakan sebuah pilihan. Serangannya tidak akan menghancurkan seluruh instalasi atom Iran. Akan tetapi, kemungkinan serangan militer semacam itu, justru akan memicu penyebaran konflik. Hal itu akan mempersatukan rakyat Iran dengan rezim di Teheran. Seluruh perbedaan pendapat akan disingkirkan, dan semua bersatu padu melawan barat. Hal semacam ini, juga tidak diinginkan oleh Israel. Oleh sebab itu, pemenang hadiah Nobel Perdamaian yang juga presiden AS, Barack Obama, harus mengendalikan mitranya.

Kapasitas persenjataan atom Israel, yang juga tercipta di luar mekanisme pengawasan hukum internasional, sudah diketahui sejak lama di Teheran. Jika digunakan menyerang Iran, dampaknya adalah kehancuran total negara tsb. Juga karena itulah strategi menyebar kepanikan dan wacana militer mengenai serangan preventif, amat berlebihan.

Laporan IAEA kini disampaikan kepada anggota Dewan Keamanan PBB. Di majelis ini, hendaknya dirundingkan kemungkinan sanksi baru terhadap Iran. Rusia, yang di masa lalu bersikap menahan diri menanggapi program atom Iran, juga harus menyadarinya. Kedengarannya amat absurd. Tapi, hanya dengan meningkatkan tekanannya terhadap Iran, masyarakat internasional akan dapat memaksa rezim di Teheran kembali ke meja perundingan.

Dalam waktu bersamaan, masyarakat internasional juga harus menunjukkan kepada Iran, jalan keluar dari spiral sanksi. Sanksi ekonomi sejak sekarang ini, akan dapat memojokkan pimpinan di Teheran. Front para mullah, tidaklah sekompak yang ditunjukkannya ke luar. Jika masyarakat internasional mengajukan tawaran konkrit, bagi kerjasama ekonomi dan pemanfaatan damai energi nuklir, perimbangan kekuatan dalam rezim di Teheran dapat berubah. Dengan itu, digelarnya kembali perundingan dalam posisi setara dapat dipermudah. Sasarannya harus tetap untuk mencegah Iran membuat bom atom.

Daniel Scheschkewitz/ Agus Setiawan,

Editor : Vidi Legowo-Zipperer.