1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Tidak Ada Krisis Asia Seperti 1997-1998

25 Agustus 2015

Banyak orang Indonesia khawatir, anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika bisa memicu krisis ekonomi seperti 1997-1998, yang kemudian menyebabkan gejolak politik dan memaksa Suharto turun tahta.

https://p.dw.com/p/1GLIL
Banknoten Rupiah
Foto: Reuters

Setelah perayaan 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika ibarat terjun bebas. Dalam beberapa hari saja, mata uang Indonesia terpuruk dan menyentuh nilai Rp. 14.000 per satu dolar Amerika Serikat.

Situasi ini membangkitkan kenangan buruk pada masa-masa krisis moneter Asia 1997-1998, yang menyebabkan harga-harga di Indonesia melambung, dan gelombang protes berubah menjadi kerusuhan massal yang memaksa orang nomor satu saat itu, Suharto, turun dari jabatan yang sudah dipegangnya lebih dari 30 tahun.

Tapi para ahli ekonomi menilai, situasi ekonomi di kawasan saat ini tidak bisa disamakan dengan masa itu. Karena Asia sudah belajar banyak dari pengalaman krisis moneter 1997-1998 dan lebih mampu menghadapi gejolak semacam itu.

Belajar dari krisis moneter Asia

Perbedaan utama situasi saat ini dibanding 18 tahun lalu adalah posisi nilai tukar mata-mata uang regional terhadap Dolar Amerika. Tahun 1997, beberapa mata uang Asia menerapkan sistem nilai tukar patok terhadap Dolar. Berapapun harga Dolar di pasar uang internasional, nilai tukar Rupiah misalnya, tidak ikut bergerak, karena dipatok pada nilai tukar tertentu.

Sistem pematokan nilai tukar mata uang yang diterapkan Indonesia saat itu adalah makanan empuk bagi para spekulator. Karena dengan mematok nilai tukar pada harga tetap, pemerintah Indonesia berarti memberi subsidi untuk Dolar Amerika Serikat. Jadi, para spekulan bisa berhitung dan menaksir, seberapa kuat dan seberapa besar simpanan devisa Indonesia.

Mereka lalu ramai-ramai membeli Dolar di Indonesia, yang harganya jauh lebih murah dari nilai sebenarnya di pasaran internasional. Karena mereka menggunakan aset besar, dan melakukan serangan beli Dolar secara serentak di Indonesia. Bank Indonesia akhirnya kewalahan dan kehabisan pasokan Dolar. Itulah yang menyebabkan nilai tukar Rupiah kemudian terjun bebas. Nilai tukar dolar ketika itu naik 500 sampai 600 persen.

Spekulan untung besar

Setelah Rupiah turun sampai 500 persen, para spekulan menukar kembali Dolar yang dulu dibelinya dengan murah. Mereka mendapat uang rupiah dalam jumlah yang sangat besar, yaitu lima kali lipat dari harga belinya. Jadi, para investor untung besar tanpa perlu kerja keras.

"Dulu, sistem nilai tukar di Asia bertumbangan seperti sebuah rumah dari kartu. Sekarang, tanpa sistem patok, nilai tukar mengikuti gerakan pasar sehingga tidak terlalu menarik lagi bagi para spekulan. Itulah perbedaan terpenting dari masa dulu", kataSong Seng Wun, analis ekonomi bank CIMB.

Krisis 1997-1998 juga memaksa otoritas keuangan di Indonesia melakukan regulasi perbankan yang lebih ketat. Langkah itu kemudian diikuti dengan serangkaian reformasi di sektor keuangan dan perbankan.

"Semua langkah itu telah membuat perekonomian lebih kuat dan lebih mampu menghadapi gejolak pasar," ujar Rajiv Biswas, analis ekonomi divisi Asia Pasifik dari IHS.

Ketergantungan dari Cina

Pergerakan nilai tukar mata uang terhadap Dolar Amerika saat ini terutama dipicu oleh kebijakan moneter Cina. Negara pengekspor besar itu tidak ingin harga produk-produknya terlalu mahal di pasar dunia, karena akan kalah bersaing dengan produk-produk dari negara lain.

Cina memang sejak lama membiarkan nilai tukar mata uangnya rendah terhadap Dolar Amerika. Pemerintah Amerika Serikat berulangkali memperingatkan Cina agar mengubah politik mata uangnya dan membiarkan nilai tukar bergerak sesuai dengan permintaan dan penawaran pasar.

Namun bagi Cina, nilai tukar mata uang menjadi senjata utama untuk menggenjot ekspor. Apalagi Cina memiliki cadangan devisa terbesar dunia, diperkirakan lebih dari 3 triliun Dolar Amerika Serikat.

Melemahnya dinamika perekonomian di Cina, yang kini hanya tumbuh sekitar 7 persen per tahun, memang sering dikhawatirkan para pelaku ekonomi. Sebab kegiatan ekonomi Cina kini sudah merambah ke berbagai kawasan dan sektor industri.

Tapi para ekonom berpendapat, situasi sekarang jauh berbeda dari masa krisis 1997-1998. "Memang ekonominya melambat, tapi tidak pada tingkat yang bisa menyebabkan resesi ekonomi secara luas. Saya tidak khawatir," kata ekonom CIMB Song Seng Wun.

hp/yf (afp, rtr, dpa)