1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Terpuruk, Citra Perbankan di Masa Krisis Keuangan Global

Kredit macet, ambruknya Lehman Brothers, krisis ekonomi terbesar setelah depresi hebat tahun 1930-an dimulai hampir dua tahun lalu. Bagaimana kini, apakah pihak perbankan belajar dari krisis itu, apakah ada perubahan?

default

Berita bangkrutnya Lehman Brothers, New York September 2008

"Citra kami para bankir berada paling bawah, berdasarkan suatu jajak pendapat. Setelah kami menyusul profesi prostitusi dan penyalur obat bius," demikian dikatakan baru-baru ini oleh seorang bankir dalam podium diskusi di Frankfurt, Jerman. Dalam masa krisis kepercayaan terhadap perbankan rusak berat.

"Saya pikir tidak terlalu salah, karena mereka mempermainkan risiko berlebihan dan memang sejumlah bank melakukan hal-hal yang tidak wajar. Yang lainnya sudah benar-benar jatuh dipandang dari kesialan seperti kasus surat saham dari Lehman," tutur pakar perbankan dan keuangan Reinhard Schmidt dari Universitas Frankfurt.

Dan seorang direktur bank sepeti Lloyd Blankfein dari Goldman Sachs dalam masa krisis kepercayaan terhadap perbankan semakin mengeruhkan suasana, ketika ia menyebut bank-bank mewujudkan karya Tuhan di bumi. Meskipun demikian dari sektor keuangan ada juga yang rendah hati dan menyampaikan suara kritis pada masa krisis ini

"Sebuah konsekuensi adalah fungsi pelayanan sistem keuangan bagi politik ekonomi untuk mengetahui dan mengakui dan bukan berpendapat bahwa sistem keuangan saja sudah cukup untuk tampil sebagai primadona atau bahkan sebagai penguasa di dunia."

Pendapat ini datang dari ketua dewan pengawas bursa saham Jerman Manfred Genz beberapa pekan lalu, dalam sebuah acara menyambut tahun baru.

Dari kampanye citra besar-besaran dari sektor perbankan tidak terlihat. Dan pembela para pemilik saham seperti Klaus Nieding juga mengharap ucapan semacam itu diikuti dengan tindakan, "Jika orang melihat bagaimana bisnis perbankan tiba-tiba kembali menjadi tema, bagaimana diskusi tentang gaji dan sebagainya kembali dibahas, jika melihat bagaimana jalannya diskusi tentang peraturan, di sini peraturan kembali dipermainkan dan dihindari.“

Sementara itu di Komisi Basel diolah upaya pengawasan perbankan Eropa, Basel III. Suatu peraturan yang diharapkan membuat bank-bank dalam menghadapi krisis mendatang dapat lebih resisten dan meredam risikonya. Untuk itu juga dibahas kemungkinan pajak transaksi keuangan yang sudah dipertimbangkan selama ini, pajak dari bank-bank kepada dana jaminan, pengawasan perbankan lebih ketat atau pembatasan pembayaran bonus bagi manajer. Dalam peraturan hal itu selama ini sedikit bahkan tidak disebutkan. Demikian para kritisi. Paling tidak setelah terjadinya krisis keuangan dibahas tentang arah selanjutnya di masa depan.

Mischa Ehrhardt/Dyan Kostermans

Editor: Asril Ridwan