1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Indonesia

Terkait Kasus Video Penyiksaan Polisi Anti-Teror Diperiksa

Kepolisian Indonesia mengatakan Selasa (05/03/13) akan melakukan pemeriksaan terhadap beberapa anggota satuan khusus anti-teror Densus 88 atas dugaan penyiksaan, setelah munculnya satu video di YouTube.

default

Video buram berdurasi 14 menit ini dipublikasikan oleh beberapa kelompok Islam di situs mereka dan juga di situs web video YouTube. Video tersebutkan memperlihatkan beberapa petugas tengah memaksa seorang pria untuk menanggalkan celana dalamnya sebelum mereka menembaknya.

Para petugas terus mengintrograsi pria tersebut, sementara polisi menginjak-injak tiga tersangka teroris lainnya, yang tertelungkup di tanah dengan tangan terikat. Petugas polisi juga melepaskan tembakan ke tanah untuk mengintimidasi mereka sambil terus melecehkan mereka.

Karopenmas Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan kepada kantor berita AFP, pihak kepolisian tengah mempelajari video tersebut dan merencanakan untuk memeriksa petugas yang terlibat.

Boy Rafli Amar menambahkan, pria yang ditembak diidentifikasikan sebagai Wiwin, tersangka kasuus pemenggalan tiga siswi Kristen di Poso tahun 2005. Sementara ketiga pria lainnya dituduh telibat dalam beberapa aksi terror termasuk aksi pemboman. Dalam insiden yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah, polisi menjadi target utama serangan kelompok militan.

Terindikasi Anggota Densus 88

Hampir seluruh petugas bersenjata, yang mengenakan jaket anti-peluru dan helm, diidentifikasikan sebagai anggota satuan khusus anti-teror Densus 88, sementara beberapa petugas lainnya merupakan anggota brigade mobil.

Video penyiksaan ini menyulut kemarahan di kalangan aktivis dan kelompok Islam. Dikawatirkan terjadi serangan balasan di Poso. Bulan Oktober lalu, dua petugas kepolisian yang tengah menyelidiki sebuah kamp yang diduga sebagai pelatihan militan, ditemukan tewas dengan luka di leher.

Detasemen Khusus 88 dibentuk dengan bantuan Amerika Serikat dan Australia, setelah tragedi Bom Bali tahun 2002 yang menewaskan 202 orang. Satuan khusus ini mendapatkan latihan untuk menangani segala ancaman teror, termasuk teror bom. Banyak aktivis HAM mengkritik satuan ini yang dalam operasi penyergapan terhadap tersangka teroris kerap menjalankan aksi “tembak untuk membunuh“.

yf/as (afp)