1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tentara AS 'Tidak Ingat' Penembakan di Afghanistan

Tentara AS Robert Bales yang dituduh membunuh 16 warga sipil Afghanistan, menurut pengacaranya tidak bisa mengingat insiden tersebut. Serdadu itu dapat diancam hukuman mati.

Sersan militer Amerika Serikat yang dituduh menembak mati 16 warga desa Afghanistan, hanya bisa mengingat samar-samar insiden di malam kejadian. Demikian penjelasan pengacaranya John Henry Browne kepada stasiun televisi CBS, usai pertemuan langsung pertamanya dengan sang klien.

"Ia ingat apa yang terjadi sebelumnya dan setelahnya. Tetapi ia tidak punya ingatan, mengenai apa terjadi diantara itu." Browne menambahkan, "Ini tidak berarti ia amnesia. Banyak kemungkinan yang terjadi padanya."

Belum dijadikan terdakwa

Sersan Robert Bales (38), dituduh meninggalkan pangkalan militernya di selatan Afghanistan 11 Maret lalu, dan kemudian membunuh sembilan anak-anak serta tiga warga perempuan. Ia juga dikatakan membakar beberapa korbannya.

Hingga kini, ia belum dijadikan terdakwa resmi terkait kasus penembakan di Afghanistan. Namun, menurut Pentagon, Bales yang telah tiga kali ditugaskan di Irak sebelum dipindahkan ke Afghanistan Desember lalu, dalam beberapa hari mendatang bisa didakwa.

Menurut menteri pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta, jika terbukti bersalah, ia bisa dijatuhi hukuman mati.

Tidak alami gangguan jiwa

Setelah berbicara dengan Bales selama beberapa di penjara militer di Kansas, pengacara Browne tidak akan mengajukan pembelaan yang menyatakan kliennya mengalami gangguan jiwa. Ia mengatakan kepada CBS News, Bales bisa memenangkan kasus atas dasar "melakukan perbuatan itu di luar kesadarannya", karena depresi berat yang menyebabkan kehilangan kendali emosional.

Insiden 11 Maret memicu rangkaian aksi protes di Afghanistan dan semakin memperburuk hubungan antara Amerika Serikat dengan Afghanistan. Kelompok Taliban juga menyatakan tidak akan meneruskan perundingan perdamaian dengan Amerika Serikat.

Keluarga Bales terpukul

Sementara itu, istri Bales, Karilyn mengeluarkan pernyataan Senin (19/3), yang mengungkapkan perasaan dukanya bagi para korban. "Keluarga kami hanya memperoleh sedikit informasi dari apa yang kami baca dan kami lihat di media. Berita yang dilaporkan sama sekali tidak seperti karakter pria yang saya kenal dan saya kagumi."

Vidi Legowo-Zipperer (afp, ap, rtr)

Editor: Agus Setiawan

Laporan Pilihan