1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tentara AS Kurang Disiplin?

Prilaku tentara Amerika di luar negeri kerap menjadi kepala berita. Menurut pakar, hanya disiplin keras dalam pasukan yang bisa mencegah.

Baru beberapa pekan lalu beredar video di internet yang mengundang kecaman dari seluruh dunia. Video itu menunjukkan tentara Amerika di Afghanistan mengencingi tiga jenasah. Dan itu bukan satu-satunya skandal jenis ini dari militer Amerika.

Hampir setahun lalu beredar foto-foto tentara Amerika yang berpose sambil tertawa dengan jasad korban. Dan tidak akan dilupakan penganiayaan terhadap tahanan Irak di penjara militer Abu Ghreib tahun 2004. Para penjaga Amerika berfoto dengan tahanan yang dianiaya secara seksual dan direndahkan martabatnya. Yang paling terkenal, foto seorang tentara perempuan Amerika, memegangi tali yang mengikat leher seorang tahanan seperti anjing.

"Ini teriakan meminta kepimpinan yang lebih baik, tapi juga menunjukkan apa yang dialami para tentara ini", kata Nancy Sherman, dosen filsafat di universitas Georgetown, Washington.

Sejak bertahun-tahun Sherman berkutat dengan aspek etika misi militer. Buku karangannya, "The Untold War" mengulas luka moral yang dibawa tentara dari medan perang ke rumah. Bahwa tentara Amerika dalam misi militernya senantiasa melangkahi batas etika dan moral, diterangkan Sherman dengan stres hebat yang mereka derita. "Para tentara sangat marah, frustasi, berduka, mungkin baru kehilangan rekannya, atau mereka sendiri yang hampir tewas."

Tak ada maaf

Untuk mengatasinya, mereka butuh sebuah pentil, dimana mereka berbuat biadab dan keji kepada musuh. Foto, video atau cerita tentangnya memberikan rasa puas bagi tentara, kata Sherman.

"Perlakuan keji terhadap jenasah ibarat piala bagi para tentara, semacam kata terakhir yang bagi mereka membebaskan secara emosi."

Sherman yakin, dalam situasi seperti itu, tak satupun dari tentara itu yang memikirkan konsekuensinya. Tetapi, tak ada ruang untuk maaf bagi sikap semacam itu, kata Sherman, walaupun ia mengatakan, sedikitnya humor pahit dengan lelucon sinis tentang musuh adalah hal biasa bagi tentara di medan perang. Hal itu bagian dari cara jiwa manusia untuk mengolah peristiwa traumatis. Akan tetapi, "Bertukar lelucon sinis dengan sesama tentara berbeda dengan menistakan benda suci keagamaan atau jenasah."

Terkait kasus pembakaran Al Quran di pangkalan udara ISAF di Bagram, Afghanistan, Jenderal Amerika John Allen menyebutnya tindakan yang tidak disengaja. Kursus yang kini diikuti semua tentara di pangkalan militer Amerika tentang tindakan tepat terhadap benda-benda keagamaan, dapat membantu guna mencegah kekhilafan semacam itu terulang.

Tetapi untuk menghindari penistaan secara sengaja terhadap kitab suci, jenasah atau penganiayaan tahanan, menurut Nancy Sherman, hanya bisa dilakukan dengan disiplin keras dan tindakan tegas, juga dalam unit satuan terkecil pasukan Amerika.

Julia Hummelsiep/ Renata Permadi

Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan