1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tentang Malala: Nobel dan Harapan Perubahan

Di kota asal Malala Yousafzai di Pakistan, teman-teman sekolah berharap Malala akan memenangkan hadiah Nobel Perdamaian – sebuah mimpi yang disimpan diam-diam di tengah syak wasangka atas aktivis remaja tersebut.

Malala, yang selamat dari penembakan oleh Taliban pada 9 Oktober tahun lalu, telah menjadi duta besar global bagi pendidikan, dirayakan oleh para orang terkenal dan politisi di Barat.

Tapi di Lembah Swat, kota barat laut Pakistan, wilayah yang sangat konservatif yang takut pengaruh asing melanggar tradisi masyarakat, banyak yang memandang sosok Malala dengan pandangan curiga dan bahkan menghina.

Sahabat lamanya Safia, tidak punya keraguan seperti itu. Ia bicara dengan percaya diri mengenai temannya dan hak-hak perempuan, dalam bahasa Inggris yang sangat baik.

Kandidat favorit

Malala termasuk diantara favorit calon pemenang Nobel Perdamaian tahun ini, yang akan diumumkan pada Jumat mendatang, dan bagi Safia kawannya itu pantas menerimanya.

Malala melalui sebuah wawancara mengatakan bahwa penghargaan itu adalah sebuah “kesempatan terbesar”, tapi ia menekankan bahwa pendidikan bagi semua anak – laki-laki dan perempuan – adalah tujuan sebenarnya. Safia berdiri di belakangnya.

“Sebuah sepeda tidak bisa berjalan hanya dengan satu roda: masyarakat itu seperti sepeda, dengan pendidikan laki-laki sebagai roda depan dan pendidikan perempuan sebagai roda kedua,“ kata dia.

Swat yang indah dan hijau pernah menjadi tujuan utama turis, tapi wilayah itu tercemplung ke dalam perang tahun 2007 ketika kelompok Taliban Pakistan mengambil kontrol atas wilayah dan memberlakukan hukum Islam dengan cara keras, sampai kemudian mereka terusir oleh tentara dua tahun kemudian.

Malala Yousafzai

Teror penembakan tak membuat Malala Yousafzai mundur memperjuangkan hak pendidikan perempuan

Tapi kantung-kantung militansi masih tersisa dan setahun yang lalu, pasukan penyergap Taliban mencegat bis sekolah dan menembak Malala di bagian kepala dalam jarak dekat.

Hebatnya, ia selamat dan menghabiskan tahun terakhir ini di Inggris – pertama untuk perawatan dan kemudian untuk melanjutkan pendidikannya.

Sentimen Safia juga dirasakan banyak gadis sekolah di Mingora, yang ingin agar negara dan daerah mereka dikenal untuk sesuatu selain Taliban dan bom.

“Malala adalah sebuah model, bukan hanya bagi kami tapi bagi seluruh Pakistan,“ kata gadis pelajar berusia 14 tahun bernama Rehana Noor Bacha.

Selanjutnya.

Laporan Pilihan