1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Tembaga Sebabkan Alzheimer?

Sekelompok peneliti mengatakan telah menemukan bukti baru, bahwa tembaga yang antara lain terdapat pada air ledeng dan daging merah, bisa mengakibatkan penambahan plak dalam otak yang menyebabkan penyakit Alzheimer.

ARCHIV - Ein Kind aus dem Jemen trinkt Wasser direkt aus dem Hahn (Archivfoto vom 22.03.2009). Experten fordern anlässlich der Weltwasserwoche in Stockholm Lösungen für sauberes Wasser und Sanitäranlagen für die wachsende Weltbevölkerung in den Städten. EPA/YAHYA ARHAB

Jemen Kind trinkt Wasser aus Wasserhahn

Selama ini komunitas peneliti tidak sepakat dalam pertanyaan menyangkut unsur tembaga, yang ditemukan di daging merah, sayur, produk susu dan air ledeng. Apakah tembaga menyebabkan atau justru mencegah penyakit Alzheimer?

Tembaga Cegah Pembersihan Plak

Berdasarkan penelitian terbaru Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), kandungan tembaga di dalam pembuluh bisa mengakibatkan kerusakan sawar darah otak, sehingga terjadi penimbunan plak protein amiloid beta yang merupakan pertanda penyakit Alzheimer.

Menurut ketua tim peneliti Rashid Deane, eksperimen yang menggunakan tikus dan sel manusia menunjukkan, bahwa kadar rendah tembaga dari air minum terakumulasi dalam dinding pembuluh yang mengalirkan darah ke otak. "Ini kadar tembaga yang sangat rendah, sama dengan yang konsumsi pola makan normal," kata Deane.

Tembaga mengakibatkan oksidasi yang mengganggu protein lain, yakni LRP-1 yang biasanya "membersihkan" amiloid beta dari otak. Tembaga tidak hanya mencegah pembersihan plak, tetapi juga dianggap sebagai biang keladi Alzheimer. Karena tembaga juga menstimulasi neuron untuk memproduksi lebih banyak lagi amiloid beta.

Kurang Bukti Kuat

Namun, peneliti lain yang juga mempelajari tembaga dan Alzheimer mempertanyakan penemuan tersebut. "Hasil penelitian termasuk penelitian kami justru menunjukkan kebalikannya. Tembaga mencegah amilod membentuk tipe struktur yang dilihat pada plak," kata Christopher Exley, profesor di Universitas Keele.

Exley menambahkan, ada beberapa hal dalam laporan PNAS yang tidak jelas. Seperti cara mereka mengukur kadar tembaga dan fakta bahwa mereka menggunakan hewan sebagai "kelinci percobaan" yang tidak bisa langsung disamakan dengan manusia.

vlz/hp (afp, ap)

Laporan Pilihan