1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Teka-Teki Lockerbie

Alois Berger18 Desember 2013

25 tahun lalu, sebuah pesawat penumpang AS meledak di atas kota Lockerbie. Akibatnya 270 orang tewas. Setelah sekian lama, masih banyak pertanyaan tidak terjawab.

https://p.dw.com/p/1Ac2R
Foto: Roy Letkey/AFP/Getty Images

Tanggal 21 Desember 1988, pesawat Boeing 747 milik perusahaan AS PanAm jatuh di kota kecil Lockerbie di Skotlandia. Penumpang, seluruhnya 243 orang dan 16 awak pesawat tewas. 11 warga Lockerbie tewas akibat terkena bagian-bagian pesawat. Dalam reruntuhan pesawat ditemukan sisa-sisa bahan peledak Semtex. Walaupun sejumlah kelompok, terutama kelompok radikal Islam, menyatakan diri bertanggungjawab, kecurigaan pertama ditujukan kepada Libya, yang sejak bertahun-tahun sebelumnya bermusuhan dengan AS.

25 tahun setelah peristiwa itu, setelah penyelidikan bertahun-tahun oleh aparat keamanan Inggris, setelah proses pengadilan internasional, setelah penjatuhan vonis dan pengampunan bagi seorang pejabat dinas rahasia Libya, dan setelah pembayaran ganti rugi oleh pemerintah Libya, dalam masalah serangan ini tetap saja masih banyak pertanyaan yang tak terjawab. Lockerbie adalah serangan yang penuh teka-teki, yang menunjukkan bahwa dalam terorisme tingkat internasional banyak pihak yang terkait dan teori persekongkolan juga banyak. Demikian dikatakan pakar dinas rahasia dan penerbit Erich Schmidt-Eenboom.

Professor Dr. Hans Köchler
Prof. Dr. Hans Köchler, pengambat PBBFoto: cc-by-sa/Köchler

Proses Penuh Kontradiksi

Filsuf asal Austria, Hans Köchler diutus Sekretaris Jenderal PBB untuk menjadi pengamat pada proses pengadilan Lockerbie yang diadakan di Den Haag tahun 2000. Ia hadir, ketika di Den Haag hakim asal Skotlandia memutuskan pembebasan pejabat dinas rahasia Libya, dan memvonis Abdel Basset Ali al Megrahi, dengan hukuman seumur hidup. Köchler berpendapat keputusan pengadilan salah.

Ia menceritakan keanehan dalam barang bukti yang diajukan di pengadilan, yaitu sebuah bagian alat elektronik yang ukurannya hanya sebesar kuku jari. Benda itu baru muncul beberapa bulan setelah penyelidikan dimulai. Katanya itu bagian detonator. Tetapi jika itu benar, menurut Köchler, pasti sudah hancur dalam ledakan. Pendapatnya didukung uji coba yang dilakukan pakar fisika Skotlandia.

Menurut perusahaan Swiss yang memproduksi benda itu, beberapa bulan setelah serangan terjadi, polisi meminta contoh detonator. Bagian yang diserahkan ke pengadilan oleh penyidik, jelas bagian dari contoh tersebut. Pengamat PBB, Hans Köchler mengatakan, itu bukan keanehan satu-satunya.

"Deal" di Belakang Layar

Menurut pakar dinas rahasia Erich Schmidt-Eenboom, jelas ada "deal" yang disepakati di belakang layar. Tujuannya bukan mencari kebenaran, tetapi untuk menyelamatkan muka partai-partai yang bertikai. Ia berpendapat, setelah serangan, AS melihat peluang untuk menyingkirkan penguasa Libya, Muammar Gaddafi, yang tidak disukai.

Sejak serangan bom di diskotik "La Belle" di Berlin tahun 1986, yang banyak dikunjungi tentara AS, pemerintah AS mencari jalan untuk menggulingkan rezim Libya. Ketika itu indikasi jelas menunjuk ke Libya, yang rupanya ingin membalas dendam, karena AS menenggelamkan dua kapal perangnya. Sebagai reaksi atas serangan di "La Belle", Washington memerintahkan pemboman kawasan perkantoran pemerintah Libya. Seorang putri Gaddafi tewas dalam serangan itu.

Lockerbie Attentat Abdel Baset Megrahi
Abdel Baset Megrahi ketika ditangkap, 18 Februari 1992 di TripolisFoto: picture-alliance/dpa

Langkah Taktis Gaddafi

Setelah dunia internasional menganggapnya bertanggungjawab atas insiden Lockerbie, dan menjatuhkan sanksi terhadap negaranya, Gaddafi harus mencari jalan lain. Ia menawarkan penyerahan dua pekerja dinas rahasianya ke pengadilan Skotlandia. Syaratnya, pengadilan harus diadakan di negara yang netral. Ketika penyerahan dilakukan April 1999, pandangan internasional atas Gaddafi berubah sepenuhnya. 2002 Gaddafi menyatakan diri bertanggungjawab atas serangan, dan kemudian membayar ganti rugi kepada korban serangan sebesar 2,5 milyar Dolar.

Schmidt-Eenboom berpendapat, langkah taktis ini dilakukan agar bisa kembali ke panggung internasional dan berbisnis minyak dengan Inggris. Tentang dalang serangan Lockerbie sampai sekarang masih banyak spekulasi. Iran juga dicurigai, demikian halnya dengan Gerakan Pembebasan Palestina (PLO), yang waktu itu terlibat banyak serangan. Tapi setelah 25 tahun tidak ada orang yang benar-benar ingin tahu kebenarannya. Satu-satunya orang yang divonis, telah dibebaskan karena alasan kesehatan tahun 2009 lalu, dan meninggal akibat kanker tahun 2012. Peta politik sekarang sudah berubah, dan motif-motif yang dulu ada, sekarang sudah tidak penting lagi.