1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tantangan Media Cetak di Jerman

Dua harian bermutu Jerman terpaksa harus tutup. Financial Times Deutschland dan Frankfurter Rundschau lama dianggap sebagai koran berkualitas. Tapi koran makin terdesak oleh media online.

Harian Jerman Frankfurter Rundschau

Harian Jerman "Frankfurter Rundschau"

Munculnya internet dan makin ketatnya persaingan di dunia media meninggalkan bekas. Iklan di media cetak turun drastis. Akibatnya, koran yang mengandalkan berita-berita bermutu makin tertekan. Asosiasi Penerbit Majalah Jerman VDZ baru-baru ini menggelar kampanye untuk menekankan kembali luasnya jangkauan iklan melalui media cetak. Ini dilakukan untuk mencegah para pemasang iklan beralih dari media cetak ke media online.

Oplah koran-koran Jerman makin lama makin turun. Beberapa koran sudah menghilang dari pasaran, beberapa yang lain akan segera ditutup. Berita yang cukup mengagetkan dunia koran adalah pengumuman salah satu harian ternama Jerman ”Frankfurter Rundschau” yang menyatakan sudah tidak mampu membiayai penerbitan korannya. Sedangkan koran ekonomi ”Financial Times Deutschland” (FTD) mengeluarkan edisi terakhirnya pada 7 Desember 2012. Padahal FTD adalah salah satu koran ekonomi yang punya jurnalisme berkualitas dan diakui kalangan media.

Koran nasional Jerman yang lain, ”Süddeutsche Zeitung” juga mempersiapkan langkah penghematan besar-besaran. Koran-koran regional banyak yang menghadapi masalah keuangan serius dan terpaksa bergabung dengan koran lain atau melakukan PHK secara massal. Penjualan koran dalam beberapa tahun terkahir memang terus turun. Alasannya: Kebanyakan kaum muda tidak membeli koran tapi membaca berita melalui media online yang gratis.

Informasi Harian Dari Internet

Selama hampir sepuluh tahun, media online meramaikan dunia media di Jerman dan memperkaya bidang pemberitaan yang sebelumnya didominasi oleh koran, majalah, televisi dan radio. Tapi beberapa tahun terakhir ini, media online mulai muncul sebagai pesaing, kata Sven Gabor Janszky, direktur perusahaan ”2b Ahead”. ”Informasi massal di masa depan akan didominasi oleh media elektronik. Jadi penerbit-penerbit dan perusahaan yang selama ini mendapat penghasilan dari media massa, akan makin sulit mendapat keuntungan.” Menurut Janszky, koran sudah tidak mampu bersaing karena terlalu lambat. ”Di masa depan orang ingin mendapat informasi aktual, di manapun mereka berada.” Jadi media yang digunakan untuk mendapat informasi adalah Smartphone dan Laptop. Koran dan bahan cetak lain semakin sulit menjaring pembeli.

Peralatan elektronik yang secara otomatis memilih dan mengirim informasi ke Smartphone, akan memainkan peran makin besar dalam penyebaran informasi. Konsumen makin sering menggunakan peralatan ini. Di masa depan, perangkat elektronik yang melakukan seleksi secara otomatis. Dengan demikian, kata Janszky, penawaran informasi bisa lebih terpilih dan lebih tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan pelanggan. ”Jadi koran elektronik di display saya bisa saja berbeda isinya dengan koran elektronik di display Anda”.

Jurnalisme Berkualitas Mencari Tempat

Pengamat Media Sven Gabor Janszky

Pengamat Media Sven Gabor Janszky

Koran yang terbit setiap hari memang makin terdesak. Tapi ini tidak berarti, peluang untuk media cetak sudah tertutup, kata pengamat media Sven Gabor Janszky. Media cetak di masa depan akan menjadi barang istimewa. ”Informasi yang dicetak akan masuk pasar kelas atas. Di sini informasi akan ditempatkan dalam konteksnya. Di sini ada opini dan analisa.” Tapi media cetak akan berubah. Tidak sebagai informasi yang dicetak setiap hari, melainkan sebagai majalah yang dicetak dengan kertas mahal untuk konsumen kelas atas. Mungkin berupa majalah mingguan atau bulanan.

Media cetak akan berisi latar belakang dan analisa dan melengkapi berita harian dan informasi interaktif yang muncul di internet. Di Jerman, mingguan ”Die Zeit” sudah melakukan ini. Penjualan "Die Zeit“ dari minggu ke minggu makin bertambah dan mencapai angka rekor.

Sven Gabor Janszky memperkirakan, makin banyak koran yang akan tutup. Ini akan punya dampak pada kualitas pemberitaan. "Yang akan kita lihat adalah, jurnalisme berkualitas akan mundur ke satu sudut. Ia akan jadi produk mahal, tapi pembelinya tetap ada.” Media massa secara umum tidak akan bisa menawarkan jurnalisme berkualitas secara luas lagi.” Tapi Frank Schirrmacher tidak setuju dengan pandangan itu. Schirrmacher adalah penerbit harian ”Frankfurter Allgemeine Zeitung”, FAZ. Ini salah satu koran paling terkenal di Jerman. Schirrmacher menolak kalau pemberitaan didominasi oleh isu digitalisasi. Media cetak dan jurnalisme berkualitas masih tetap dibutuhkan. Dalam sebuah artikel di korannya ia melemparkan pertanyaan retorika: "Apa yang terjadi dengan demokratisasi informasi?“ Dia menjawab, perkembangan teknologi informasi saat ini ternyata hanya melahirkan perusahaan komersial seperti Amazon, Google, Facebook dan Apple.

Perpaduan Media Cetak dan Online

Profesor Jurnalistik Klaus Meier

Profesor Jurnalistik Klaus Meier

Merambahnya media Online memang terlihat di Amerika Serikat dan Inggris. Salah satu majalah terkenal AS ”Newsweek” terpaksa menghentikan edisi cetaknya setelah terbit selama 80 tahun. Mulai 2013, ”Newsweek” hanya terbit online. Tapi Profesor Jurnalistik Klaus Meier menganggap, isu tentang akan hilangnya media cetak terlalu berlebihan. "Dalam waktu dekat, saya percaya tidak ada koran besar lain yang menghentikan penerbitan sepenuhnya.” Klaus Meier adalah spesialis untuk perpaduan media cetak dan online di Universitas Eichstätt-Ingolstadt. Koran-koran sekarang sudah berkembang jauh dari dua puluh tahun lalu.

”Kalau kita bandingkan koran sekarang dan koran 20 tahun lalu, segera terlihat jelas perkembangan grafisnya.” Koran sekarang dicetak berwarna, dilengkapi dengan foto dan grafik, disusun dengan konsep Layout yang menarik. Ada fokus utama dan tema-tema yang ditulis khusus untuk media cetak. Pemberitaan terkonsentrasi pada daerah penyebaran medianya. Menurut Klaus Meier, di masa depan media cetak dan media online akan hadir saling melengkapi. ”Koran mungkin akan terbit satu atau dua kali seminggu, sedangkan di internet dipublikasi berita yang aktual dan interaktif.”

Apakah kualitas jurnalisme akan semakin dangkal? Menurut Klaus Meyer, ini tergantung dari model bisnis yang berkembang dalam dunia pemberitaan. Beberapa penerbit sekerang meminta bayaran untuk konten onlinenya. Sistem digital berbayar ini misalnya diterapkan oleh harian ”Die Welt”. Pelanggan diminta membayar untuk mengakses berita-berita di situs internetnya. Tapi tidak semua bentuk jurnalisme bisa dijual 100 persen. Klaus Meyer berpendapat, yang perlu dipikirkan adalah pembiayaan melalui yayasan, atau negara harus ikut membiayai pemberitaan yang bermutu. Di Amerika Serikat misalnya ada yayasan ”Pro Publica” yang memberi dana untuk liputan-liputan khusus.