1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Taliban dan Pemerintah Afghanistan Inginkan Markas NATO

Apa yang akan terjadi dengan markas dan pos militer NATO setelah ditinggalkan ? Di Afghanistan, untuk pertama kalinya pemerintah di Kabul dan Taliban berpendapat serupa.

Kelompok Taliban menuntut agar pos militer NATO diserahkan kepada Afghanistan. Hal itu diumumkan Taliban Jumat (27/07) lalu melalui internet .

Penarikan pulang NATO dinilai positif oleh Taliban, namun tidak masuk akal apabila infrastruktur militernya dibongkar. Bangunan-bangunan itu tak saja berada di tanah Afghanistan, tapi sebagian dana untuk membangunnya juga berasal dari negara itu. Karenanya, Afghanistan memiliki hak atas bangunan pos dan markas itu.

Dalam hal ini tampaknya Taliban dan pemerintah Afghanistan sepakat. Pemerintah ingin mengambil alih markas dan pos-pos NATO, begitu jurubicara pemerintah Siamak Herawi kepada DW. "Kami menuntut agar NATO dan masyarakat internasional meninggalkan markas dan pos-pos itu tanpa merusaknya dan menyerahkan bangungannya kembali kepada pemerintah Afghanistan agar bisa digunakan."

ISAF usahakan kompromi

Seluruhnya ada 600 pos dan markas NATO di Afghanistan dengan ukuran berbeda-beda. Sebuah laporan "Washington Post" menyatakan ada perusahaan AS yang telah memiliki kontrak bernilai 46,5 juta Euro, untuk membongkar tempat-tempat itu. Pemerintah Afghanistan menuntut NATO agar berkonsultasi dengan pemerintah Afghanistan, sebelum melakukan pembongkaran, begitu ungkap Herawi.

ISAF menyangkal bahwa keputusan sudah diambil tanpa persetujuan pemerintah Afghanistan. Juru bicara ISAF, Jenderal Günter Katz mengatakan dalam sebuah wawancara dengan DW: "Ada komisi di bawah Kementerian Keuangan Afghanistan, yang bertanggung jawab untuk pengalih gunaan pos dan markas ini. Dalam komisi ini ada wakil dari pemerintah Afghanistan dan ISAF. Akan dirundingkan pos dan markas mana saja yang akan diambil alih. Hasil pembicaraan itu akan direalisasi oleh ISAF.“

Pemerintah Afghanistan telah menyiapkan dokumen yang mencantumkan perlengkapan militer apa saja yang diperlukan oleh Afghanistan, Begitu ungkap Jenderal Katz. Terkait kemungkinan jatuhnya senjata ke tangan Taliban, Katz tak mau berkomentar dan menyebutnya sebagai spekulasi. Dikatakannya, "tidak jelas, dasar pijakan dari pernyataan Taliban itu apa."

Suara Lantang Taliban

Tuntutan Taliban untuk mempertahankan pos dan markas NATO bersifat propaganda. Merekapun tahu bahwa tempat-tempat itu akan digunakan untuk memerangi Taliban. Begitu ungkap Ahmad Zia Raf'at, professor di Universitas Kabul. Tambahnya, "Taliban ingin menunjukkan kepada rakyat Afghanistan, bahwa mereka memperhatikan kebaikan negara. Mereka tidak peduli bahwa markas-markas itu akan diambil alih oleh pemerintah sekarang, karena beranggapan nantinya akan menguasai negara ini lagi."

Baik pemerintah Afghanistan maupun Taliban tidak memiliki dana untuk mengurus markas. Menurut Ahli politik Ahmad Zia Raf'at, Taliban mungkin masih bisa menggunakan gedung-gedung itu. Katanya, seperti ketika mereka dulu memerintah, stadium dan lapangan olah raga digunakan sebagai lokasi penjara dan eksekusi.

Menurut Rafat, kondisi di Afghanistan setelah 2014 bisa kembali seperti masa itu. Hal itupun terjadi ketika militer Soviet ditarik pulang pada tahun 80-an. Peralatan militer yang ditinggalkan digunakan dalam perang saudara yang kemudian terjadi di Afghanistan.

Waslat Hasrat-Nazimi / Edith Koesoemawiria
Editor: Vidi Legowo-Zipperer

Laporan Pilihan