Taliban Buka Kantor Perwakilan di Qatar | dunia | DW | 05.01.2012
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Taliban Buka Kantor Perwakilan di Qatar

Taliban berencana membuka kantor perewakilan di luar negeri. Sementara ini dicapai kesepakatan tentang itu dengan Qatar. Perwakilan di negara yang netral diharapkan mempermudah perundingan perdamaian.

default

Selama bertahun-tahun Amerika menolak perundingan dengan Taliban. Namun, sejak NATO memutuskan akan menarik semua pasukan dari Afghanistan sampai 2014, Amerika paham bahwa stabilitas jangka panjang di Afghansitan hanya mungkin diwujudkan bersama Taliban. Upaya untuk berunding dengan Taliban sudah dirintis Presiden Hamid Karzai. Tawaran itu akhirnya disambut. Seorang jurubicara Taliban mengatakan hari Selasa (03/01) bahwa Taliban akan mendirikan kantor perwakilan di Qatar untuk membantu terciptanya saling pengertian dengan dunia internasional.

Langkah-langkah kongkret untuk mendirikan kantor perwakilan di Qatar sudah dilakukan. Taliban tampak percaya diri akan kekuatannya. Dalam pernyataan tertulisnya disebutkan, Taliban sepakat untuk mendirikan kantor politik untuk perundingan di luar negeri, mengingat Taliban memiliki keberadaan kuat di dalam negeri Afghanstan.

Pada saat yang sama, Taliban menekankan bahwa mereka tetap pada tuntutan dasar. Semua pasukan asing harus meninggalkan Afghanistan. Selain itu, aksi militer tidak akan dihentikan, sekalipun kantor perwakilan di Qatar telah dibuka, kata juru bisara Taliban, Mujahid kepada kantor berita DPA.

Teror berlanjut

Terbukti, pada hari diumumkannya rencana membuka perwakilan, Selasa (03/01), sejumlah serangan mengguncang Kandahar. Menurut keterangan polisi, serangan rudal dan bom bunuh diri menewaskan sedikitnya 24 orang, termasuk anak-anak.

Menunjuk pada neraca mematikan ini, Amerika tetap pada tuntutannya bahwa perundingan damai sejati hanya mungkin terwujud jika Taliban menghentikan kekerasan, terutama terhadap warga sipil. Wakil Presiden Joe Biden menekankan dalam wawancara dengan Newsweek bahwa Taliban harus memutuskan semua hubungan dengan Al Qaida.

Masyarakat internasional juga mengajukan syarat. Sebelum perundingan dimulai, Taliban harus melepaskan diri dari terorisme internasional, juga menghormati UU Afghanistan dan HAM. Hal ini dikuatkan sekali lagi dalam pernyataan penutup Konferensi Afghanistan di Bonn, Desember 2011.

Sambutan beragam

Kementrian Luar Negeri Afghanistan menyambut baik rencana pembukaan kantor penghubung Taliban. Juru bicara kementrian, Janan Musazai mengatakan, “Kami menyambut baik langkah apapun yang membantu dan mendorong proses perdamaian Afghanistan dengan cara yang praktis dan bermakna."

Musazai menegaskan, pemerintah Afghanistan sangat mendukung gagasan pendirian kantor Taliban, lebih disukai jika di Afghanistan. Tetapi mengingat kondisi saat ini, pemerintah setuju tentang perwakilan resmi Taliban di negara muslim lain di kawasan, dalam hal ini Qatar.

Dewan Perdamaian Afghanistan, yang dibentuk Presiden Hamid Karzai dengan tugas membawa pihak-pihak yang berkonflik ke meja perundingan, menyebut pembukaan perwakilan resmi Taliban sebagai isyarat niat baik. Wakil Ketua Dewan Perdamaian, Ataullah Ludin mengatakan, "Kami menyambut kesediaan Taliban untuk membuka perwakilan di Qatar. Hal itu juga merupakan salah satu tuntutan kami dan kami mendukung langkah ini."

Rakyat Afghanistan mengamati perkembangan ini dengan perasaan bercampur. Sebagian kuatir jika Taliban menerima akses ke politik di Afghanistan, maka hak asasi dan kebebasan akan terkubur. Seorang warga Kabul mengatakan, "Kantor penghubung saja tidak bisa membawa perdamaian. Orang tidak tahu siapa yang memimpin Taliban, siapa yang mendanai. Mereka tidak independen."

Sebaliknya, warga yang jenuh akan pertumpahan darah menyambut semua isyarat rekonsiliasi dari pihak-pihak yang bertikai. Kantor perwakilan Taliban setidaknya berarti ada alamat yang bisa dihubungi pemerintah Afghanistan untuk mengirimkan usulan bagi proses perdamaian.

Rodion Ebbinghausen/Renata Permadi
Editor : Hendra Pasuhuk