1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Tak Ada Keadilan bagi Korban Bhopal

Seperempat abad berlalu setelah terjadinya tragedi gas beracun Bhopal, para korban masih belum bisa tenang.

default

Para korban selamat tragedi Bhopal berdemonstrasi di depan gedung pengadilan (07/06)

Persidangan kasus Bhopal merupakan topik keseharian di India. Stasiun televisi menayangkan beritanya setiap hari. Topik yang tetap aktual, juga seperempat abad lebih setelah terjadinya bencana gas beracun di India. Kini, 100.000 lebih orang menderita dampak lanjutan, cacat tubuh atau mental. Dan mereka merasa ditipu.

Salah seorang pria mengatakan, "Anak-anak yang lahir sekarang pun menderita cacat. 25 tahun setelah bencana, kami masih bisa menyaksikan dampak mengerikan tragedi Bhopal. Kaum perempuan tak bisa punya anak. Semua korban ibarat mayat hidup. Kejahatan paling berat dan pengadilan melindungi para tertuduh. Vonis dijatuhkan setelah 25 tahun dan kami tetap tidak diijinkan duduk di ruang sidang."

Delapan tertuduh warga India, mantan petinggi perusahaan kimia Amerika Serikat, Union Carbide, kini diajukan ke depan pengadilan dan divonis melakukan pembunuhan yang tidak direncanakan. Hukuman paling tinggi dua tahun penjara namun pengadilan mengijinkan semua tertuduh bebas dengan membayar jaminan sekitar 500 Euro.

KTS Tulsi, pengacara terkenal yang selama ini mewakili para korban mengatakan, "Saya sungguh kecewa terhadap sistem. Saya pikir pengadilan akan membuat mereka bertanggungjawab. Pengadilan sama saja dengan penyelidikan yang dilakukan, dan keputusan hanya bisa diambil berdasarkan bukti-bukti. Tapi keputusan pengadilan ibarat tamparan bagi bangsa India."

Setelah 25 tahun dan melewati begitu banyak persidangan kasus Bhopal, pengacara, korban dan aktivis terkadang menjadi sarkastis tapi tak kenal lelah. Mereka tak pernah berhenti mengharapkan keadilan, walau hanya sedikit. Penderitaan yang ditanggung warga di sekitar kawasan Bhopal terlalu nyata untuk diabaikan. Bagi Dhingra, seorang aktivis perempuan India, vonis pengadilan adalah lelucon. Karena itu, ia akan tetap berjuang menuntut keadilan.

"Yang terburuk adalah, kami tahu tidak akan ada keadilan. Yang kami tahu, kasus ini harus naik banding, harus dilakukan penyidikan baru, karena para tertuduh melakukan pembunuhan, maka mereka harus diadili karena membunuh, tidak lebih dan tidak kurang“, kata Dhingra.

Bencana terjadi 3 Desember 1984, ketika gas beracun keluar dari tangki penyimpanan di pabrik pestisida milik Union Carbide di Bhopal, negara bagian Madhya Pradesh, India. Pemerintah menyatakan, dalam kurun tiga hari, korban tewas mencapai jumlah 3.500 orang. Namun Dewan Penelitian Medis India, ICMR, menyebut angka antara 8.000 hingga 10.000 untuk kurun waktu yang sama. Menurut ICMR, sampai tahun 1994, 25.000 korban berikutnya tewas.

Pada persidangan awal, perusahaan AS Union Carbide diwajibkan membayar ganti rugi, sekitar 17 juta Rupiah untuk korban tewas dan 4,5 juta rupiah untuk korban luka-luka. Namun para korban ingin para tertuduh dihukum karena membunuh.

"Kami ingin agar mereka digantung. Mereka tidak boleh lolos dari hukuman," kata seorang perempuan.

Tampaknya, persidangan Bhopal kali ini juga bukan yang terakhir. Para korban masih belum bisa tenang, mungkin seumur hidup mereka.

Ilka Steinhausen/ Renata Permadi

Editor: Hendra Pasuhuk

Laporan Pilihan