1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tajuk: Tidak Ada Reformasi Politik di Cina

Setelah Hu, kini datang Xi, pemimpin baru Cina. Namun menurut pandangan redaksi DW Matthias von Hein, tidak ada reformasi besar di bawah pimpinan yang baru.

Matthias von Hein, Pemimpin Redaksi Cina DW

Matthias von Hein, Pemimpin Redaksi Cina DW

Dua bulan masa penantian dan berspekulasi sudah berakhir. Kongres Partai Komunis Cina (PKC) selesai. Organisasi politik terbesar dunia ini memilih jajaran pimpinan baru.

Generasi baru ini akan memerintah Cina sampai 10 tahun mendatang. Cina adalah sebuah negara partai. Jadi Partai Komunis Cina menguasai negara. Pada intinya, tidak ada yang berubah. Perubahan hanya ada dalam nada dan gaya.

Dominasi Konservatif

Pimpinan baru PKC, Xi Jinping, tampil percaya diri dan santai. Berbeda dengan pendahulunya, Hu Jintao, yang sering terlihat kaku. Namun tidak ada reformasi politik yang bisa diharapkan dari Xi, yang berusia 59 tahun.

Ini jelas terlihat dari komposisi Komite Politbiro, yang jumlah anggotanya berkurang dari sembilan menjadi tujuh orang. Komite yang sangat berpengaruh ini didominasi oleh tokoh-tokoh konservatif. Pimpinan ketiga tertinggi dalam hierarki PKC, Zhang Dejiang, menyelesaikan kuliah ekonomi di Korea Utara. Jadi tidak terlihat niat untuk melakukan reformasi.

Sedangkan dua tokoh yang tadinya disebut-sebut sebagai calon kuat masuk ke Komite Politbiro ternyata gagal: Pimpinan partai dari provinsi Guangdong yang berorientasi reformis, Wang Yang, dan tokoh PKC tamatan Harvard, Li Yuanchao.

Xi Jinping yang bulan Maret tahun depan akan mengambil alih jabatan presiden, mendapat kekuasaan besar. Selain menjadi ketua partai, ia juga menjadi ketua Komisi Militer, dan dengan demikian menjabat sebagai komandan tertinggi angkatan bersenjata yang terbesar di dunia, dihitung dari jumlah anggotanya. Pendahulunya, Hu Jintao, dulu harus menunggu sampai dua tahun, sebelum bisa menjadi Ketua Komisi Militer.

Diguncang Skandal

Xi menghadapi berbagai tantangan besar. Dalam pidato di hadapan kongres ia antara lain menyebut korupsi yang meluas. Memang menjelang pergantian kekuasaan, beberapa kasus korupsi besar-besaran sempat mengguncang partai. Terutama kasus Bo Xilai dan istrinya Gu Kailai yang berkomplot melakukan pembunuhan.

Juga kasus korupsi mantan Menteri Kereta Api Liu Zhijun menjadi sorotan selama berbulan-bulan. Kemudian media di Amerika Serikat menurunkan laporan tentang kekayaan senilai lebih dari 2 miliar Euro yang dikuasai oleh keluarga Perdana Menteri Wen Jiabao. Berita itu disensor di Cina, demikian juga berita tentang kekayaan keluarga Xi Jinping yang disebut-sebut mencapai nilai lebih dari 300 juta Euro.

Berbagai laporan ini menunjukkan, masyarakat Cina mengalami kesenjangan. Kontrak politik yang sudah berlaku selama 20 tahun mulai goyah. Menurut kontrak politik itu, rakyat bersedia melepaskan hak-hak politik, jika mereka turut menikmati perkembangan ekonomi.

Namun berbagai kasus korupsi dan kerusakan lingkungan kini membuat rakyat marah. Kepercayaan terhadap keamanan bahan pangan sudah hilang. Kasus penggusuran petani untuk proyek-proyek pembangunan menyulut protes di berbagai penjuru Cina.

Pendahulu Xi Jinping, Hu Jintao, selama sepuluh tahun masa pemerintahannya tidak melakukan reformasi serius untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi . Dia malah melakukan lebih banyak represi. Karena itu, para pengritik menyebut masa ini sebagai dekade yang hilang. Masih harus ditunggu, apakah Xi Jinping juga hanya menangani masalah di permukaan saja, atau mencoba menangani sampai ke akar-akarnya.