1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tajuk: Perempuan India Butuh Lebih dari Aksi Politis

Enam pria di India menjadi biadab di dalam sebuah bus yang sedang melaju. Perempuan korban perkosaan yang dilempar dari bus dan menderita luka dalam yang amat parah, meninggal.

Usus mahasiswi berusia 23 tahun itu terkoyak-koyak. Setelah sejumlah operasi darurat dan dirawat di rumah sakit khusus bagi transplantasi organ tubuh di Singapura, perempuan itu meninggal. Brutalitas keji dari penjahat seksual tersebut membuat resah masyarakat India. Pada hari-hari terakhir, aksi protes yang penuh emosi digelar di seluruh pelosok negara ambang industri ini. Terutama di ibukota India, demonstrasi ditandai dengan kekerasan. Berhari-hari terutama mahasiswa, melepaskan kemarahannya terhadap negara yang mereka lihat tidak mempunyai ide, hanya berpangku tangan dan sangat korup. Negara yang menurut mereka digunakan sekehendak hati oleh penguasa untuk memenuhi kepentingan mereka.

Dan pemerintah? Tanggapannya terlalu lambat! Setelah terjadi bentrokan di jalan-jalan, Perdana Menteri Manmohan Singh baru membuka mulut seminggu usai kejadian. Dalam pidato pendeknya ia menyebut kejahatan perkosaan itu sebagai tindakan biadab dan menjijikkan. Ini reaksi yang baik! Dan ia berjanji, pemerintahannya akan melakukan segala upaya untuk melindungi perempuan India secara lebih baik. Tetapi ini mungkin hanya janji kosong belaka. Pasalnya, kekerasan terhadap perempuan di India sudah merupakan fenomena masyarakat sehari-hari.

Setiap 18 jam tercatat satu perkosaan di megacity New Delhi. Karena takut, malu atau kurang percaya, hanya sedikit korban yang melaporkan kasus perkosaan kepada polisi. Tiga dari empat pelaku kejahatan seksual yang dilaporkan, tidak mendapat hukuman. Menyusul perkosaan brutal oleh sekelompok pria di bus itu, pemerintah di bawah pimpinan Partai Kongres seharusnya menggunakan peluang unik teriakan nasional untuk memicu perdebatan publik yang sudah sangat dinanti-nantikan itu. Pemerintah sedianya menjadi penggerak diskusi ini. Tetapi para politisi hanya berpangku tangan atau tampil di berbagai talkshow yang membicarakan hukuman pengebirian bagi pelaku kejahatan seksual.

Perempuan India memerlukan lebih dari hanya aktivisme politik yang tak berguna. Peranan mereka di masyarakat yang dikatakan merupakan demokrasi terbesar di dunia itu, harus diubah secara radikal. Mereka membutuhkan dukungan dan persamaan hak. Di parlemen nasional. Di parlemen negara-negara bagian. Di dewan perwakilan tingkat distrik maupun di desa-desa. Di universitas dan sekolah-sekolah.

Jika seorang anak lelaki lahir, dia tidak boleh dibesarkan dengan pandangan, ia lebih baik dari perempuan. Dan perempuan tidak boleh lagi dididik untuk melihat dirinya sebagai beban, karena menurut tradisi, keluarganya harus mengumpulkan uang nikah yang tinggi untuk bakal suaminya. Perempuan tidak boleh lagi dididik untuk berpikir, pria lah yang menentukan nasibnya. Jabang bayi perempuan tidak boleh lagi secara terarah digugurkan karena jenisnya tidak diinginkan.

Perempuan di desa-desa tidak boleh lagi diusir begitu saja dari rumahnya setelah suaminya meninggal. Pelecehan seksual tidak boleh lagi dianggap semacam hak yang diberikan dewa kepada kaum pria. Itu adalah tema-tema yang harus terus menerus didiskusikan India! Dan tidak hanya beberapa hari! Perdebatan masyarakat semacam itu juga memerlukan bimbingan politik yang kuat. Namun di parlemen India masih terdapat lebih dari 30 anggota legislatif yang terlibat dalam kasus kekerasan seksual, sebagian dari kasus itu menggantung sejak bertahun-tahun. India harus menyadari bahwa hal ini adalah aib nasional!

Laporan Pilihan