1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tajuk: Pemberhentian McChrysal, Keputusan Yang Tepat

Presiden Barrack Obama mencopot komandan militer AS di Afghanistan. Penyebabnya sebuah artikel di majalah, yang memuat pernyataan menghina McChrystal dan stafnya terhadap anggota pemerintahan Obama.

default

Jenderal Stanley McChrystal

Barack Obama tak punya pilihan lain. Kerusakan yang diakibatkan terlalu besar. Karena bukan menyangkut pernyataan menghina yang dikeluarkan secara tak sengaja, dan cukup diperbaiki dengan pemintaan maaf. Apa yang tampak dari artikel di majalah tersebut adalah jurang antara presiden Amerika Serikat dan pria yang memimpin perang paling menentukan baginya. Kedua pihak sepakat soal strategi. Pada dasarnya Obama berjanji memenuhi harapan McChrystal dan timnya untuk mengirim pasukan tambahan ke Afghanistan.

Tapi sang jenderal rupanya punya masalah dengan staf sipil dalam pemerintahan Obama, meski menyangkut juga mantan pejabat militer seperti Jenderal James Jones, penasehat keamanan nasional presiden, dan Karl Eikenberry, Dubes AS di Afghanistan. Staf McChrystal menjadikan mereka bahan olok-olok, seperti juga terhadap Wakil Presiden Joe Biden.

Tetapi, inti strategi Obama untuk Afghanistan adalah kerjasama sipil dan militer. Perang melawan pemberontak tak bisa dimenangkan hanya dengan mengandalkan tentara saja. Hal ini pun berkali-kali diterangkan Jenderal David Petraeus, komandan tertinggi pasukan di seluruh kawasan yang juga atasan McChrystal. Adalah Petraeus, yang berhasil menjalankan stategi ini bersama mitra sipilnya, Dubes AS David Crocker. Dan adalah Petraeus, yang kini mengambil alih tugas sulit di Afghanistan dari McChrystal.

Dengan keputusannya, Obama tampil sebagai komandan tertinggi yang percaya diri dan pantas dihormati. Ia menemukan kata-kata kuat bagi pencopotan McChrystal, bahwa sikap tersebut tidak memenuhi standar yang harus berlaku bagi semua tentara, apapun pangkatnya. Karena, dalam hal ini pun Obama benar, insiden itu membelokkan dari misi yang sesungguhnya, merusak sikap saling percaya yang dibutuhkan dan menunjukkan kurangnya respek terhadap staf sipil pemerintah. Sulit dibayangkan, bagaimana Jenderal McChrystal bekerjasama dengan staf pemerintahan yang ia jadikan bahan olok-olok.

Lagipula ini bukan pertama kalinya sang jenderal meledek presiden. Ketika tahun lalu Obama merenungkan strategi Afghanistannya, McChrystal berpidato di London. Ia menolak usulan Wakil Presiden Joe Biden untuk memperkuat penjagaan di kawasan perbatasan Pakistan - Afghanistan. Dan McChrystal mencela proses pengambilan keputusan berlangsung terlalu lama.

Presiden, yang juga menjabat pimpinan tertinggi militer, tidak bisa membiarkan jenderalnya sekali lagi bersikap seperti itu. Otoritas Obama sendiri dipertaruhkan. Tambahan lagi, situasi perang di Afghanistan sedang tidak baik. Penyerbuan terhadap kubu Taliban di Marjah tidak berjalan seperti yang diharapkan. Serangan yang direncanakan di Kandahar berkali-kali ditunda.

Sudah hampir tujuh bulan berlalu sejak Presiden Obama mengajukan strategi Afghanistannya. Evaluasi pertama rencananya akan dilakukan Desember. Tetapi pada sat-saat terakhir pemerintah berupaya mengecilkan makna satu tahun dijalankannya strategi tersebut. Awal penarikan tentara, awal Juli tahun depan, seperti yang diumumkan Obama Desember lalu, kelihatannya tidak lagi begitu pasti.

Dengan Jenderal Petraeus sebagai komandan tertinggi, Obama memberi dorongan yang sangat dibutuhkan perang Afghanistan. Boleh jadi inilah krisis terbaik yang bisa menimpa presiden saat ini.

Christina Bergmann/ Renata Permadi

Editor: Edith Koesoemawiria

Laporan Pilihan