1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tajuk: Neraca Kunjungan Obama di Asia

Obama menyebut dirinya sebagai presiden Amerika Serikat pertama dari Pasifik: ia dibesarkan di Hawai dan pernah menetap selama empat tahun di Indonesia. Kamis (19/11), Obama mengakhiri kunjungan pertamanya di Asia.

default

Matthias von Hein

Beberapa hari menjelang rangkaian lawatan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Asia, Jerman merayakan 20 tahun runtuhnya tembok Berlin, yang merupakan simbol dari runtuhnya sistem komunisme di blok Timur dan kemenangan mutlak Barat. Sebuah era sejarah telah berakhir. AS menjadi satu-satunya negara adidaya dunia yang tersisa, dengan kekuasaan yang tidak ada bandingannya.

Tapi betapa mendasarnya perubahan situasi global dalam dua dasawarsa terakhir, terutama amat kentara dari kunjungan Obama di Cina. Nada bicara presiden AS ini yang penuh perdamaian, amat berbeda dibandingkan nada bicara presiden-presiden AS sebelumnya. Pada saat memulai kunjungannya ke Asia di ibukota Jepang Tokyo, Obama sudah menegaskan, AS tidak akan meredam kemajuan Cina. Bangkitnya Cina menjadi negara yang kuat dan makmur memberikan manfaat pada masyarakat internasional. Dalam lawatannya ke Shanghai dan Beijing, Obama juga menghindari kritik langsung kepada pemerintah Cina. Ia secara formal memuji budaya Cina dan memilih kata-kata lunak untuk menunjukan arti penting Cina di dunia. Dapat dipastikan, di dalam negerinya Obama akan mendapat kritik atas penampilannya itu.

Akan tetapi gaya baru itu tidak banyak mencerminkan perubahan politik di Gedung Putih, melainkan terutama lebih menunjukkan realitas ekonomi aktual. Presiden AS itu berkunjung ke Beijing untuk menengok pemberi bantuan keuangan bagi administrasi pemerintahannya. Tanpa bantuan uang dari Cina, politik AS tidak akan jalan. Dari mulai perang di Afghanistan, penyelamatan perusahaan yang terancam bangkrut akibat krisis keuangan global hingga reformasi sistem kesehatan. Cina memberikan pinjaman negara kepada AS senilai lebih dari 800 milyar Dolar. Juga Beijing membelanjakan uangnya beberapa milyar Dolar lagi di AS.

Ketika pada tahun 1998, presiden AS saat itu Bill Clinton dalam kunjungannya ke Beijing di depan kamera melontarkan kritik tajam terhadap penumpasan dengan kekerasan aksi pro-demokrasi 10 tahun sebelumnya, situasinya memang sangat berbeda. AS memberikan pinjaman kepada Spanyol, melebihi pinjaman Cina kepada AS saat ini. Sementara neraca perdagangan antara AS dan Mexico, volumenya dua kali lipat dibanding volume perdagangan AS dengan Cina.

Sekarang, Beijing bertindak dari posisi yang jauh lebih kuat. Karena itu Cina menghindarkan konfrontasi langsung dengan AS. Beijing bersikap menunggu namun tidak mau didesak, agar mengubah kepentingan jangka pendeknya. Karena itulah, tidak banyak tercapai sukses konkrit. Baik dalam tema perubahan iklim, sengketa atom Iran maupun dalam masalah ekonomi. Apa yang dikatakan Presiden Cina Hu Jintao dalam tema hak asasi manusia, juga berlaku untuk bidang politik lainnya. Kedua pihak sepakat untuk menghormati perbedaan pendapat.

Bangkitnya Cina dengan rasa percaya diri yang terus meningkat, 20 tahun setelah runtuhnya Tembok Berlin, kembali menjadikan pertanyaan mengenai persaingan sistem sebagai agenda harian. Jawaban cerdas dari Barat kini amat dinantikan.

Matthias von Hein

Editor: Agus Setiawan