1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tajuk: Kesempatan yang Dilewatkan oleh Eropa

Uni Eropa pada KTT di Brussel Kamis (19/11) sepakat memilih dua pejabat baru. Herman Van Rompuy sebagai presiden tetap Dewan Eropa dan Catherine Ashton sebagai utusan tinggi luar negeri UE. Komentar Christoph Hasselbach

default

Christoph Hasselbach, Deutsche Welle

Kesempatan yang dilewatkan oleh Eropa. Itu adalah hasil menyedihkan pertemuan puncak kali ini. Perjanjian Lissabon, dengan pos jabatan baru presiden tetap dewan Eropa, diciptakan peluang Uni Eropa agar dapat lebih berpengaruh ke luar. Tapi dengan memilih Herman Van Rompuy, kesempatan ini tidak dimanfaatkan.

Hal yang menentukan untuk keputusan itu bukanlah rencana politis apa yang dimiliki Uni Eropa dengan pos jabatan tersebut, melainkan kemungkinan terjaganya keseimbangan antara politik berhaluan kiri dan kanan, negara-negara besar dan kecil, Timur dan Barat, Utara dan Selatan, perempuan dan pria. Semua itu harus dipertimbangkan dalam penunjukan pimpinan tetap Dewan Eropa dan utusan tinggi urusan luar negeri. Jika ingin semua itu tercapai, hanya sedikit nama yang disepakati. Van Rompuy menjadi Presiden Dewan Eropa bukan karena ia dipandang sebagai calon terbaik, melainkan karena secara keseluruhan ia adalah calon yang paling sedikit mendapat penolakan.

Tapi itu terlalu kecil untuk jabatan yang begitu penting. Presiden Dewan Eropa bagi Barack Obama atau Hu Jintao adalah orang pertama di Eropa, yang akan menjadi mitra bicara mereka. Dapatkan orang benar-benar membayangkan bahwa Van Rompuy dapat memenuhi peran ini? Ia mungkin seorang koordinator dan pencari kompromi yang handal, hal yang tentu saja harus mampu dilakukannya. Tapi sebagai mitra bicara terpenting Obama di Uni Eropa, sulit dibayangkan.

Penunjukan Catherine Ashton sebagai utusan tinggi luar negeri yang juga merupakan posisi yang memiliki pengaruh istimewa dan salah satu wakil Eropa di seluruh dunia, juga tidak lebih baik. Bukan menentang keduanya, tapi karisma benar-benar berbeda sosoknya.

Dengan keputusan tersebut, pemerintahan Uni Eropa mau atau tidak mau, tela menetapkan sebuah haluan. Uni Eropa, dalam panggung politik dunia tetap akan memainkan peran tidak penting, suatu peran yang jauh di bawah bobot ekonomi politik Uni Eropa. Kemungkinan hal itu bahkan diinginkan beberapa negara anggota. Karena dengan semakin lemahnya personil yang akan mewakili seluruh Uni Eropa, maka kepala negara dan pemerintahan anggota Uni Eropa dapat memainkan peran yang semakin besar. Tapi Eropa hanya dapat membela kepentingannya jika tampil secara lebih terpadu dan lebih kuat, juga dalam hal personil. Kini, yang dapat terjadi justru kebalikannya.

Mungkin masih ada kata hiburan. Itu baru kali pertama. Pada yang kedua, diharapkan sudah dapat ditarik pelajaran.

Christoph Hasselbach/Dyan Kostermans

Agus Setiawan