1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tajuk: Keberhasilan Mengagumkan Palestina di PBB

Hari Jumat (23/9) Palestina secara resmi ajukan permohonan pada PBB agar diterima sebagai anggota penuh. Permohonan ini diduga tidak akan terpenuhi, namun masyarakat internasional kini dipaksa untuk bertindak.

Palestinian President Mahmoud Abbas, left, gives a letter requesting recognition of Palestine as a state to Secretary-General Ban Ki-moon during the 66th session of the General Assembly at United Nations headquarters Friday, Sept. 23, 2011. (Foto:Seth Wenig/AP/dapd)

Presiden Palestina Mahmoud Abbas (kiri) dan Sekjen PBB Ban Ki Moon

Tajuk dari redaktur Deutsche Welle, Daniel Scheschkewitz:

Jarang ada sidang Majelis Umum PBB di New York yang menyita perhatian seperti kali ini. Hingga detik terakhir masih belum diketahui secara pasti apakah Palestina benar-benar akan mengajukan permohonan keanggotaan penuhnya di PBB dan tidak takut menghadapi tekanan AS serta sejumlah aliansinya di Eropa.

Mungkin Presiden Palestina Mahmoud Abbas berpikir, kalau tidak sekarang, kapan lagi? Setelah lebih dari enam puluh tahun diusir dari tanah airnya, dua dasawarsa perundingan tanpa hasil dengan Israel dan perubahan politik baru-baru ini di sejumlah negara Arab, waktu final untuk menyatakan kedaulatan Palestina telah tiba. Namun, apakah keberadaan sebuah negara yang sanggup mandiri secara ekonomi dapat dituntut melalui permohonan diplomatis kepada PBB? Mungkin tidak.

Meskipun demikian, Palestina tidak dapat lagi dicegah untuk mengajukan permohonan yang sudah sejak lama direncanakan itu. Rakyat Palestina merasakan dorongan sejarah yang mendukung  keinginan mereka.  Perdamaian di Timur Tengah sebetulnya harus merupakan hasil dari perundingan antara Israel dan Palestina. Namun jalan memutar lewat PBB memberikan dorongan baru bagi hasrat Palestina untuk merdeka.

Israel terlalu lama tidak peduli dan bersikukuh menolak perundingan yang efektif. Upaya diplomatik masyarakat internasional sejak bertahun-tahun memasuki jalan buntu. AS terikat dalam peperangan melawan teror dan sibuk dengan masalah internal. Eropa mencari suara independen dan bersatu dalam isu Timur Tengah, namun tidak menemukannya.

Scheschkewitz, Daniel Zentrale Programmredaktion, Reporter-/Autorenpool Foto DW/Per Henriksen 15.02.2011 #DW1_2565

Daniel Scheschkewitz

Jerman berupaya sebisanya untuk mencegah konfrontasi. Peluang masih ada, bila waktu sebelum dibahasnya permohonan Palestina dalam Dewan Keamanan PBB digunakan untuk menekan Israel. Pemerintahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu harus menghentikan pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat Yordan dan kembali berunding. Untuk itu, hari Jumat (23/9) Kuartet Timur Tengah menyodorkan jadwal waktu yang jelas.

Palestina tidak akan berdiam diri lagi. Bila permohonan keanggotaan penuh di PBB ditolak DK, mereka akan memohon kepada Majelis Umum PBB. Palestina tahu bahwa mayoritas dari 193 negara anggota mendukungnya. Secara moral, Palestina sekarang mungkin merasa telah menang, juga bila permohonannya ditolak DK atau gagal karena diveto AS. Semangat besar yang diperlihatkan Palestina tidak lagi bisa dilupakan begitu saja.

Masyarakat internasional, terutama dunia barat kini ditekan untuk bertindak. Mengingat sejarahnya, Jerman sedianya menunjukkan kewajibannya terhadap Israel dan menolong agar Israel keluar dari isolasi. Ini hanya bisa terlaksana bila negara Yahudi melakukan kompromi teritorial dengan Palestina. Waktunya sudah final. Presiden AS Barack Obama harus menerimanya. Terus memperhatikan lobi Yahudi di AS memang dapat dimengerti apalagi menjelang pemilu, namun Amerika terancam akan kehilangan kepemimpinannya secara moral di dunia internasional, jika tidak meningkatkan tekanannya terhadap Israel.  Di sini, Obama sebagai penerima penghargaan Nobel perdamaian harus membuktikan kredibilitasnya di dunia Arab.

Bila permohonan ditolak,  Palestina dan negara-negara Arab tetangganya akan menyuarakan kepentingannya dengan cara sendiri. Koalisi baru menentang Israel akan mengancam keamanannya. Israel sudah kehilangan kemitraannya dengan Mesir. Pemerintah Israel harus melihat tanda zaman dan menggunakan peluang, mungkin yang terakhir, untuk melakukan perundingan produktif. Jika tidak, perdamaian di Timur Tengah terancam secara masif.

Daniel Scheschkewitz/Christa Saloh

Editor: Agus Setiawan