1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tajuk: Deportasi Etnis Roma, Ancaman Uni Eropa terhadap Perancis

Walaupun cukup lama menungu, tapi akhirnya Komisi Eropa buka suara. Komisi Eropa tidak boleh begitu saja membiarkan tindakan Perancis. Warga etnis Roma juga merupakan warga Uni Eropa dan memiliki hak yang sama.

default

Demonstrasi di Paris menentang deportasi etnis Roma

"Ini merupakan aib. Saya sebelumnya berharap, setelah Perang Dunia ke 2, Eropa tidak akan mengalaminya lagi. Sangat memuakkan," kata Komisaris Kehakiman Uni Eropa Viviane Reding sambil menggebrak meja karena amat marah.

Ini kata-kata tajam yang tidak lazim, yang dilontarkan diplomat asal Luxemburg itu, berkaitan tindakan pengusiran warga etnis Roma oleh Perancis. Juga jika dikaitkan dengan sikap Reding yang amat mudah dan sering emosional. Namun kali ini, Komisaris Kehakiman Uni Eropa ini memiliki alasan amat kuat untuk memuntahkan amarahnya.

Sejak beberapa bulan belakangan, pemerintah Perancis melakukan segala cara untuk kembali memulangkan warga etnis Roma asal Rumania dan Bulgaria kembali ke negaranya. Dengan cara spektakuler dan tanpa perasaan yang tidak ada bandingannya. Padahal setiap warga Uni Eropa, memiliki hak memilih tempat tinggalnya di dalam wilayah Uni Eropa, tidak peduli apa etnis mereka.

Karena itu, perintah pejabat Perancis, terutama untuk membongkar kamp pemukiman etnis Roma, merupakan diskriminasi etnis. Terlepas dari pernyataan jaminan dari dua menteri, terbukti bahwa hal itu bukan merupakan kasus tunggal, yang akan dikaji secara individual, melainkan menyangkut praduga buruk terhadap seluruh kelompok etnis.

Dalam kasus ini, Komisi Eropa harus turun tangan. Komisi bertindak sebagai pelindung seluruh kesepakatan. Dan Perancis bukan hanya salah satu negara anggota, melainkan juga salah satu yang terbesar dan negara pendiri Masyarakat Eropa yang merupakan cikal bakal Uni Eropa.

Sebetulnya menyangkut kasus ini, Komisi harus lebih dini menuntaskannya. Bila hal itu tidak dilakukan, kemungkinan permasalahannya terutama terletak pada ketua Komisi, Jose Manuel Barroso, yang takut terlibat konflik dengan pemerintahan negara anggota, khususnya dengan sesama kubu konservatif.

Jika Brussel kini menemukan kata-kata tegas, penyebabnya bisa amat beragam. Sebuah situasi hukum yang cukup tegas. Sebuah pemerintahan Perancis yang melakukan kebohongan secara kasar. Dan seorang Komisaris Kehakiman yang tidak memiliki rasa takut untuk bertikai dengan musuh yang cukup besar. Kita ingin mengatakan, untunglah, karena sekarang merupakan saat yang tepat bagi Uni Eropa untuk menunjukkan taringnya. Jika tidak, Uni Eropa sendiri yang menunjukan bahwa lembaga ini adalah macan ompong.

Viviane Reding telah melakukan hal yang amat tepat. Apakah Komisi akan secara konsekuen mengajukan proses gugatan pelanggaran kesepakatan terhadap Perancis, setelah pidato (Reding) ini tidaklah terlalu menentukan. Karena, rusaknya citra pemerintahan Sarkozy boleh jadi sudah cukup besar.

Sylvie Ahrens

Editor: Agus Setiawan

Laporan Pilihan