1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Reunifikasi Jerman

Tajuk: 9 November, Hari Keberuntungan

Masih muncul kritik mengenai proses penyatuan kembali Jerman yang tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Walaupun demikian, tanggal 9 November 1989 merupakan hari keberuntungan bagi Jerman yang patut dirayakan.

Seluruh Jerman merayakan 20 tahun runtuhnya Tembok Berlin. Masih muncul kritik mengenai proses penyatuan kembali Jerman yang tidak berjalan semuanya sesuai dengan yang diharapkan. Walaupun demikian, tanggal 9 November 1989 merupakan hari keberuntungan bagi Jerman. Dan masyarakat Jerman patut merayakan hari ini.

Itulah hari yang menampilkan gambaran yang emosional dan juga menggambarkan hari yang penuh semangat dan gairah. Tapi tanggal 9 November 1989 terutama merupakan pancaran hari kebahagiaan sejarah Jerman dan Eropa yang baru. Tidak hanya karena berhasil menumbangkan sistem diktator yang telah usang, dan terwujudnya penyatuan, setelah Jerman terbagi dua selama 40 tahun. Tanggal 9 November juga merupakan hari terwujudnya nilai kesatuan dan kebebasan yang merupakan tekad sejak berdasawarsa bagi semua orang. Hari itu merupakan hari ketika tatanan masyarakat yang terbuka merayakan saat kemenangan.

Satu hal harus diingat, dua puluh tahun setelah kejadiannya, bukan negara Barat dan bukan politisi yang membuat hal itu mungkin terjadi. Itu adalah berkat warga Jerman Timur, yang turun ke jalan- jalan untuk menuntut haknya. Demonstrasi damai selama berpekan-pekan menumbangkan tembok beton dan pagar kawat berduri. Memang selama 20 tahun, proses penyatuan tidak semua berjalan dengan ideal. Janji-janji yang diumbar terburu -buru, tidak dapat dipenuhi. Terapi kejutan bagi bekas Jerman Timur dengan menjalankan ekonomi pasar sosial di tengah kondisi ekonominya yang ambruk, bagi banyak warga merupakan sebuah pengalaman yang menyakitkan. Meskipun demikian, tidak ada alternatif lain terhadap perkembangan tersebut. Revolusi di Jerman Timur tidak hanya mengubah secara mendasar sebuah negara, melainkan juga mengubah tatanan dunia secara menyeluruh.

Pada tanggal 9 November 1989, berakhirlah babak sejarah selama 44 tahun yang meskipun diwarnai konflik Timur -Barat yang mengancam dunia, tapi juga merupakan masa kenyamanan. Dunia saat ini semakin rumit , tak dapat diduga dan dibayangkan dibandingkan dengan sebelumnya. Ini juga ada kaitannya dengan tumbangnya Tembok Berlin. Tapi menyesali masa lampau, tidak hanya merupakan sebuah kebodohan sejarah, melainkan juga penghinaan terhadap semua pihak yang secara aktif memungkinkan terjadinya peristiwa pada tanggal 9 November 1989.

Dua puluh tahun setelah tumbangnya Tembok Berlin, terlalu dini untuk benar-benar menilai hasil yang dicapai. Mungkin karena itu, dalam acara peringatannya yang tak terhitung jumlahnya dan dalam komentar dan dokumentasi, ada dua elemen yang tidak terasa: kegembiraan dan kebanggaan, dalam menanggapi momen dramatis, saat yang tak dapat terulang kembali, ketika warga dari bagian barat dan timur Jerman saling berpelukan dan terharu jauh sebelum proses penyatuan di bidang politik dan ekonomi dijalankan.

Kejadian tanggal 9 November 1989 yang datang tiba-tiba di sebuah negara, sampai sekarang masih menunjukkan, bahwa sistem diktator dan penindasan dapat diruntuhkan, juga di Kuba, Iran dan Korea Utara. Oleh sebab itu, tanggal 9 November 1989 tidak hanya merupakan hari kebahagiaan bagi Jerman. Itu merupakan isyarat politik dan sejarah yang penting untuk dirayakan sebagai hari nasional Jerman.

Marc Koch

Editor.Asril Ridwan