1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Taiwan Demo Perjanjian Perdagangan Bebas dengan Cina

Perdagangan antara Cina dan Taiwan terus meningkat. Kedua negara akan menandatangani perjanjian perdagangan bebas. Namun banyak warga Taiwan skeptis dan merasa kalau ini hanya siasat Cina untuk menguasai Taiwan.

default

Gambar simbol, Cina sebagai negara industri maju

Ratusan ribu pengunjuk rasa berkumpul di Taipei akhir pekan lalu untuk memprotes kerangka perjanjian kerjasama ekonomi Cina-Taiwan atau ECFA. Rencananya perjanjian tersebut akan ditandatangani kedua Negara, Selasa 29 Juni, di Chongqing, Cina.

Unjuk rasa diorganisir Partai Demokratis Progresif atau DPD, yang beroposisi. Mereka menuntut digelarnya referendum mengenai ECFA. Unjuk rasa berlangsung selama 2 hari. Pada hari Minggu (27/06) para pengunjuk rasa melakukan aksi berjalan kaki sejauh 5 kilometer sepanjang jalanan utama Taipei.

Sejumlah pengunjuk rasa meneriakkan, "Hentikan ECFA, kami ingin keadilan," seraya membawa spanduk bertuliskan Stop ECFA. "Hentikan perundingan rahasia' atau 'Taiwan adalah negara kami." Ada juga yang meniup vuvuzela dan menggunakan pengeras suara untuk menyuarakan sikap menentang perjanjian Cina-Taiwan yang akan memotong bea cukai perdagangan bagi hampir 800 produk.

Banyak warga Taiwan yang cemas, karena kurangnya transparansi. Seperti yang disampaikan seorang pengunjuk rasa, “ECFA adalah kesalahan besar karena partai KMT bernegosiasi dengan Cina, namun mereka tidak memberitahu warga Taiwan apa yang sebenarnya mereka lakukan. Cina hanya ingin menggabungkan Taiwan dan Cina melalui perekonomian, yang tujuan akhirnya adalah penyatuan secara politik.. Warga Taiwan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun KMT tidak memberitahu apa-apa.“

ECFA didukung penuh oleh presiden Ma Ying-jeou yang berasal dari Partai Nasionalis Cina atau KMT. ECFA diharapkan dapat membuka lapangan kerja dan meningkatkan perekonomian Taiwan.

Diatas kertas, ECFA terlihat menguntungkan bagi Taiwan yang akan memotong tarif sekitar 540 produk Taiwan, termasuk produk plastik, petrokimia, otomotif, dan tekstil. Sedangkan jumlah produk Cina yang akan mendapat potongan tarif hanya setengah dari produk Taiwan. ECFA juga akan membuka pasar industri jasa terhadap investasi Cina.

Namun banyak warga yang merasa Taiwan dijual presiden Ma Ying-jeou ke Cina, seperti diungkapkan pengunjuk rasa lainnya, “Jika Taiwan menandatangani perjanjian ini, buruh Taiwan akan kehilangan pekerjaan. Kami tidak dapat bersaing dengan buruh murah Cina. Ini buruk untuk kami. Cina akan mulai dengan mengambil alih bank-bank kami, kemudian mereka akan mendominasi perekonomian Taiwan.“

Mayoritas pengunjuk rasa datang dari Taiwan Selatan yang kebanyakan petani. Mereka khawatir tidak dapat bersaing dengan produk pertanian Cina. Seorang petani dari Tainan berkata, “Ini buruk untuk para petani. Produk dari Cina lebih murah. Petani Taiwan akan kalah. Kita bagaikan mengundang Cina untuk menjajah kita. Pemerintah Taiwan berbohong kepada warganya. Kami ingin proses ini berlangsung secara demokratis. Kami ingin referendum. Kami ingin mengambil keputusan sendiri.“

Sejumlah dialog pendahuluan mengenai ECFA telah digelar sejak Januari lalu. Dialog terakhir berlangsung di Taipei 24 Juni lalu. Dan meski puluhan unjuk rasa telah digelar di berbagai penjuru Taiwan, Presiden Ma Ying-jeou tampak kukuh dan bertekad terus mewujudkan rencananya.

Sarah Berning/Carissa Paramita

Editor: Ging Ginanjar