1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Suu Kyi: Demokrasi ala Myanmar

Ikon oposisi Aung San Suu Kyi mendapat kehormatan atas jasanya membawa Myanmar menjalani transisi demokrasi. Penghormatan ini dia terima di akhir kunjungannya ke Amerika Serikat.

Namun Aung San Suu Kyi mengatakan, Myanmar harus membangun bentuk demokrasinya sendiri, dan bisa jadi tidak akan seperti yang ada di Amerika, yang sedang bersiap menghadapi pemilihan presiden dalam dua pekan mendatang.

“Itu (demokrasi Burma-red) tidak akan seperti demokrasi Amerika karena Burma bukan Amerika,“ kata dia kepada beberapa ribu pendukungnya yang berkumpul di Los Angeles untuk menyaksikan penampilan terakhir Suu Kyi sebelum ia kembali ke Myanmar pada hari Rabu (03/10).

Demokrasi ala Myanmar

„Setiap negara membangun model demokrasi mereka sendiri, dan itu bukan sesuatu yang mesti diterapkan dari atas. Saya selalu menentang apa yang disebut sebagai disiplin demokrasi yang dianjurkan oleh rezim militer“ kata Suu Kyi.

Suu Kyi yang menghabiskan 15 tahun hidupnya dalam status tahanan rumah hingga dibebaskan pada tahun 2010 lalu, tiba di Amerika Serikat pada 17 September untuk sebuah kunjungan bersejarah, termasuk pertemuan dengan Presiden Barack Obama di Gedung Putih.

Perempuan berusia 67 tahun yang menenangkan Nobel Perdamaian tahun 1991 itu, setelah pertemuan di Washington dan New York juga melakukan perjalanan ke Kentucky dan Indiana, selain juga mengunjungi Universitas Yale dan Harvard sebelum acara publik di San Francisco pada akhir pekan lalu.

Selama kunjungannya ke Amerika Serikat, pemimpin Myanmar Thein Sein dalam wawancara dengan BBC mengatakan bahwa dia akan menerima jika Suu Kyi kelak terpilih sebagai presiden, meski menambahkan bahwa dia tidak bisa sendirian mengubah aturan yang melarang Suu Kyi untuk menjadi presiden.


Belajar dari Banyak Transisi Demokrasi

Saat di Los Angeles, Suu Kyi mendapat pertanyaan apa yang akan dia lakukan jika menjadi presiden.

Dia menolak pertanyaan itu dengan mengatakan: “Anda harus mempertimbangkan bagaimana Presiden Burma saat ini mengatasi situasi daripada bertanya kepada saya bagaimana saya akan mengatasinya jika menjadi presiden Burma…mari kita praktis saja.“

Ketika ditanya akan seperti apa model demokrasi ala Myanmar, dia menjawab: “Kami punya banyak, banyak pelajaran yang bisa kami ambil dari berbagai tempat, bukan cuma negara Asia seperti Korea Selatan, Taiwan, Mongolia dan Indonesia.”

Dia juga mengutip “Negara-negara Eropa timur yang melakukan transisi dari otokrasi komunis menuju demokrasi pada tahun 1980 dan 1990an, serta negara-negara Amerika Latin yang melakukan transisi dari pemerintahan militer”.

“Dan kami tidak bisa, begitu saja melupakan transisi demokrasi di Afrika Selatan, karena meski itu bukan rezim militer, namun jelas merupakan sebuah rezim yang otoriter.”

afp (AB/ AS)

Laporan Pilihan