1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Sudan Nyatakan Situasi Darurat di Nil Biru

3 September 2011

Nil Biru berkobar, 17 tewas. Ribuan orang melarikan diri dari kawasan pertempuran.

https://p.dw.com/p/12SeM
Foto: picture alliance/dpa

Sudan menyatakan situasi darurat di negara bagian Nil Biru, setelah kerusuhan menerpa kawasan itu. Begitu dilaporkan media hari Sabtu. Presiden Omar al Bashir juga memecat gubernur Malik Agar seorang pemimpin Gerakan Liberasi Rakyat Sudan, SPLM, yang ditudingnya beraliansi dengan Sudan Selatan yang baru merdeka. Sebagai penggantinya, Bashir menunjuk anggota miiliter.

Rumah Malik Agar diserang hari Jumat oleh pihak tak dikenal, saat pertempuran berkobar di kawasan perbatasan dengan Sudan Selatan. Ada laporan bahwa angkatan udara Sudan melakukan penyerangan dan membombardir kawasan-kawasan yang diduga dikuasai oleh SPLM.

Kantor berita resmi SUNA hari Sabtu  melaporkan, tujuh belas orang tewas dalam bentrokan senjata antara tentara Sudan dengan kelompok pemberontak.

Menurut badan PBB urusan pengungsi, UNHCR, 3000 ribu orang melarikan diri dari pertempuran di kawasan itu. Sekretaris Jendral PBB Ban Ki Moon menyatakan keprihatinannya mengenai perperangan di Kordofan Selatan dan kawasan Nil Biru. Ia menyerukan agar pertempuran dihentikan.

Karte Südsudan mit Sudan Englisch

Sampai kini belum dipastikan ke negara mana kawasan Nil Biru akan bergabung. Apakah akan menjadi bagian Sudan atau Sudan Selatan.

 Selain negara bagian Nil Biru, juga kawasan Abyei dan Kordofan Selatan bergolak. Pemerintah di Khartoum menuding pemerintah Sudan Selatan membantu kelompok-kelompok pemberontak yang menyeang pasukan militer. Sementara pemerintah di Juba bersikeras bahwa militer Sudan dari utaralah yang menyerang lebih dulu.

Pemerintah Sudan Selatan telah menyangkal tuduhan Sudan, bahwa memberi dukungan kepada kelompok-kelompok pemberontak. Secara terpisah hari Sabtu diumumkan, pemerintah Sudan Selatan akan memindahkan ibukotanya dari Juba ke Ramciel.

rtr/dpae/Edith Koesoemawiria
Editor: Luky Setyarini