1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Suara Sebagai Senjata Ampuh

Polisi dan militer kini menerapkan strategi baru untuk membubarkan aksi demonstrasi, mengejutkan bajak laut atau memerangi bandit dan serdadu musuh, dengan memanfaatkan meriam gelombang suara.

default

Sistem senjata akustik LRAD 500X

Meriam gelombang suara berbasis pada teknik yang disebut “Long Range Accoustic Device”-LARD atau perangkat akustik berjangkauan jauh. Sistemnya terdiri dari rangkaian banyak pengeras suara berdaya tinggi yang dipasang pada piringan datar. Sinyalnya dipancarkan pada sudut yang amat sempit dan terfokus. Pada daya tertinggi, pancaran suaranya dapat berubah menjadi senjata pengejut yang tidak mematikan. Tapi terdapat risiko bahaya, orang yang menjadi sasaran tembak gelombang suara akan menderita kerusakan indra pendengaran secara permanen.

Jika sistem LARD disetel pada daya tertinggi, dan lewat rangkaian pengeras suaranya dipancarkan gelombang berfrekuensi tinggi, maka sasarannya akan merasakan rasa sakit pada telinganya. Secara otomatis sasaran akan mendekap telinganya dan berusaha menjauhi sumber suara.

Bubarkan Demonstran dan Usir Bajak Laut

G20 Gipfel in Pittsburgh Ausschreitungen

Aksi demonstrasi anti G-20 di Pittsburgh.

Polisi di AS misalnya saja, menggunakan meriam gelombang suara untuk membubarkan demonstrasi di saat KTT G-20 di Pittsburg bulan September 2009 lalu.

Para demonstran langsung mendekap telinga dan bubar, karena berusaha menjauhi sumber suara yang menyakitkan indra pendengaran tsb. Sebuah kapal penangkap ikan paus dari Jepang, dilaporkan memanfaatkan meriam gelombang suara untuk mengusir para aktifis pelindung binatang yang memanfaatkan perahu karet untuk mendekati kapalnya. Juga sejumlah kapal dagang atau kapal pesiar telah memanfaatkan meriam gelombang suara itu untuk membela diri dari serangan para bajak laut dari Somalia.

Jürgen Altmann, ahli fisika pakar untuk senjata tidak mematikan dari Universitas Teknik Dortmund mengungkapkan : “Awak kapal mengarahkan pengeras suara yang dipasang di atas geladak kapal ke arah kapal bajak laut. Para pembajak berbalik arah karena terkejut dan kemungkinkan merasa sakit telinga. Bajak laut tidak bisa lagi menggunakan tangannya untuk memegang senjata, melainkan mendekap telinganya.“

Rusak Indra Pendengaran

Symbolbild Lärm p178

Dapat picu ketulian

Selain efek pengejut yang menyakitkan telinga, meriam gelombang suara juga dapat menimbulkan dampak sampingan merugikan. Sasaran tembakan gelombang suara, kemungkinan juga dapat menderita kerusakan indra pendengaran secara permanen atau tuli. Karena itulah pakar untuk senjata tidak mematikan dari Universitas Teknik Dortmund, Jürgen Altmann memperingatkan agar aparat keamanan menggunakan meriam gelombang suara secara rasional.

“Jika seseorang menembakkan peluru kepada orang lain atau ke sebuah kapal, dan sebagai aksi balasannya diserang gelombang suara, yang pada frekuensi tertentu memicu bahaya rusaknya indra pendengaran, saya tidak melihat adanya masalah moral atau etika. Sebaliknya, jika senjata itu digunakan secara rutin untuk membubarkan demonstrasi, dan sekitar 10 persen demonstran menderita kerusakan indra pendengaran, saya menilai itu tidak dapat dibenarkan“, tegas Altmann.

Gampang Ditangkal

Meriam gelombang suara sejauh ini memang belum digunakan secara luas, baik untuk membela diri terhadap serangan bajak laut maupun untuk membubarkan aksi demonstrasi. Seringkali penggunaannya terutama untuk mendapatkan efek kejutan yang menunjukkan akibat sesaat.

Pasalnya, jika para demonstran atau bajak laut dapat memperhitungkan, bahwa polisi atau kapal sasarannya akan menggunakan meriam gelombang suara, mereka dapat melakukan tindakan jaga-jaga. Sebuah penutup telinga yang lazim digunakan melindungi indra pendengaran dari suara bising, sudah mencukupi untuk menihilkan efeknya.

Karena itulah, polisi atau militer lebih banyak memanfaatkan LARD sebagai pengeras suara super yang amat efektif dengan daya penetrasi tinggi, untuk menyampaikan pesannya kepada khalayak ramai.

Frank Grotelüschen/Agus Setiawan Editor: Marjory Linardy